Senin, 05 Mei 2014

Ketukan Pintu

Ketukan Pintu


Mataku masih saja tak mau terbuka. Aku berada diantara mimpi dan nyata. Suara ketukan pintu makin keras saja. Semakin lama semakin berirama untuk menarikku sepenuhnya pada kehidupan nyata. Aku masih lelah, masih sangat lelah. Hari ini telah menyita hampir seluruh akal dan jiwa. Aku masih ingin tertidur dan membaringkan seluruh raga dengan indah. Atau mungkin itu hanya suara ketukan pintu yang bersumber dari mimpiku saja. Ahh kurasa begitu, hingga akhirnya mataku tetap urung kubuka.
Antara mimpi dan nyata itu, kudengar kembali ketukan pintu. Ini sudah yang keempat kali dan kali ini kudengar samar-samar sisipan namaku diantara ketukan pintu itu. Aku masih menutup mata, yang benar saja kurasa suara itu memang tak  berasal dari mimpiku. Sekuat tenaga aku mengumpulkan sisa-sisa energi untuk membuka mata. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku membuka mata.
Kulihat jam wekerku masih menunjukkan angka 01.32, benarkah tanyaku dalam hati. Masih selarut ini sudah ada saja yang mengunjungiku. Takkah dia tahu adat bertamu hingga aku merasa terganggu. Tapi apakah mungkin ada mahluk yang kiranya berasal dari dunia lain punya kepentingan mendesak denganku. Atau memang benar, itu tingkah usil mahluk dunia lain saja yang ingin mengganggu jam istirahatku. Masih selarut itu dan aku urungkan beranjak kedepan untuk membuka pintu.
Ketukan pintu itu kembali mengagetkanku yang masih terduduk diatas tempat tidur untuk mengumpulkan seluruh nyawa kesadaranku. Suara samar-samar yang memanggilku itu kembali berbunyi dan disahut dengan ketukan pintu lagi. Usil benar pikirku jika itu hanya wujud dunia lain.  Tak mungkin dia mau bersabar menunggu didepan pintu. Bukankah dia dapat dengan mudah menembus tembok rumahku dan menghampiriku. Tapi entahlah,  aku makin penasaran saja siapa yang tampaknya sangat berkepentingan denganku malam ini, malam selarut ini, di 01.32 ini. 
Akhirnya aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keruang depan. Sepuluh langkah lagi jarakku meraih pintu, suara ketukan pintu itu kembali terdengar sambil menyertakan namaku. Spontan aku meresponnya dengan ucapan "Iya sebentar ya" kemudian dengan segera kuraih pintu . Sebelum membukakan pintu, kuintip sebentar siapa ternyata yang ada dibalik pintu . Tapi sayangnya dia membalikkan badan. Posturnya tinggi, kurus, memakai jeans biru dongker dan kaos hitam polos dengan sweather dilengan kanannya.   Sepertinya aku kenal dengan sosok ini, tapi sudahlah aku tak terlalu berniat untuk menerka itu siapa.
Dengan segera kubukakan pintu depan itu. Dengan wajah yang masih diantara mimpi dan nyata, dengan rambut yang masih terurai tak terarah, dengan baju tidurku yang sudah kusut bentuknya dan dengan mata yang tampak lelah luar biasa, kudapati wajah lelaki itu dengan senyuman yang menyergap jantungku seketika saat dia membalikkan tubuhnya. Aku seperti mendapat surprise yang bisa benar-benar memberhentikan detakan jantungku saat itu juga. Wajahku kaget tak percaya, dan dia masih saja tersenyum penuh makna. Masih tersenyum dengan senyum yang dulu pernah membuatku begitu terluka.
Benarkah ini terjadi , nyatakah sosok didepanku ini. Aku masih saja terdiam tak percaya, atau aku memang berada di dunia tak nyata. Aku masih saja memandanginya terbata, memperhatikan setiap detail sosok didepanku dari ujung kaki , menyusuri tubuhnya yang lebih tinggi dari aku, hingga keujung kepalanya dengan rambut yang masih saja ikal. Tak banyak yang berubah darinya, hanya saja kulitnya yang lebih bersih dari dua tahun lalu. Sosok dua tahun lalu yang benar-benar pergi dari hidupku, yang hanya bisa kutemu didalam mimpi kini hanya berjarak 30 senti dari tatapanku. Bukankah ini mimpi.
Wajahnya seketika berubah rona. Senyumnya kembali ia sembunyikan. Kali ini dia yang benar-benar memperhatikanku. Dia menatap dalam mataku sedalam tatapan matanya lebih dari dua tahun lalu. Dia juga masih terdiam dalam tatapan matanya. Kami masih sama-sama terdiam dalam dunia tak kepercayaanku didepannya. Hingga akhirnya tangannya yang mengusap lembut rambutku sambil berkata "Apakah aku mengganggu tidurmu" membuyarkan lamunanku.
Apa yang baru saja dilakukannya. Untuk apa dia kembali mengusap-usap lembut kepalaku seperti yang dulu sering dilakukannya hampir enam tahun lalu. Untuk apa dia masih melakukannya setelah hampir dua tahun ini dia malah  sama sekali tak peduli  kabar isi kepalaku ini. Aku masih saja terdiam tak menjawab tanyanya. Aku masih tak percaya siapa sosok didepanku , benarkah dia sosok itu ? Sosok yang hampir dua tahun ini tak kutahu kabar dan keberadaannya.
Dia juga ikut terdiam melihat aku yang masih saja setia membisu. Untuk beberapa saat dia masih saja menatap mataku sambil memainkan beberapa ekspresi yang tak bisa ku terka apa maskdunya. Aku masih berbicara dalam kediaman itu. Ada banyak percakapan yang kami utarakan lewat hati, ntah apa  yang kami permasalahkan kala ini. Banyak, terlalu banyak. Rumit.
Pelan-pelan kulihat dia memberanikan diri untuk mengajakku berbicara. Tapi lagi-lagi katanya mengagetkanku.
" Ma, punya waktu sebentar. Aku butuh kau. Bener-bener butuh"
 Aku masih saja tak bisa menjawab pertanyaanya. Kata-kata yang baru saja diucapkannya masih terngiang di telingaku. "Ma . . " Panggilnya untuk ku yang  benar-benar tak pernah ku temui dua  tahun ini, membawaku kedunia enam tahun lalu saat awal mula mengenalnya.
" Ma, bisa sebentar ikut aku, banyak yang mau ku bilang samamu. Terlalu banyak. Kuharap aku punya cukup waktu untuk bilang semuanya sama mu "
Aku tetap terdiam. Ntah apa maksud lelaki ini. Setelah menghilang begitu saja kini tiba-tiba menghampiri dan ingin membawaku pergi. Aku benar-benar tak punya jawaban untuk semua tanyanya. Hingga saat ini, akhirnya kucoba menatap dalam matanya seperti enam tahun lalu. Ntah mengapa, tatapan mata ini selalu kutemui saat aku merasa terlukai karena tingkahnya tapi malah tetap bisa meyakini bahwa dia benar-benar menyayangiku. Sinar matanya kulihat selugu dulu, selugu ketika dia ingin mencium keningku tapi akhirnya dia mengurungkannya lalu mengusap-usap lembut rambutku sambil berkata aku akan menjagamu. Ahh betapa konyol kami dulu.
Dia menganggukkan kepalanya merayuku. Aku masih terdiam. Dia kembali menganggukkan kepalanya tanda memaksaku. Tapi kali ini anggukannya tanpa seyum dan kedipan manja matanya seperti dulu. Dia tampak lebih serius dan benar-benar mengharapkan aku ada untuknya kali ini.
Aku masih saja mempercayai tatapan matanya hingga akhirnya aku mengunci pintu rumah sambil berjalan kearahnya. Dengan segera dia mengeluarkan kunci motornya dan membawaku berjalan menuju motornya. Sebelum dia membawaku pergi, tiba-tiba dia memakaikan sweathernya kepundakku dan menarik lenganku untuk dimasukkan ke lengan sweather hitamnya itu. Malam ini cuaca memang terasa lebih dingin, tapi aku benci. Aku benci karena dia mengenakan sweathernya ditubuhku.
Dia menghidupkan motornya lalu membawaku pergi ke suatu taman yang pernah kami kunjungi bersama tiga tahun lalu. Dia mencari posisi yang tepat untuk menyampaikan apa yang sudah dipendamnya dari tadi. Kami berhenti di pinggiran danau dan duduk tepat dibawah lampu yang dulu pernah menyinari tawa kami  tiga tahun lalu.
Angin usil menyerbu lembut hingga kurasa makin dingin saja. Kami duduk bersampingan dan ini benar-benar kembali mengingatkan kenangan yang selama dua tahun ini selalu ingin kulupakan. Akhirnya dia memulai pembicaraan yang hampir dua tahun ini tak pernah ku temui.
" Ma, masih ingat tempat ini ?  " Tanyanya pertama kali.
Aku diam. Aku hanya terdiam. Tak banyak yang mau kubicarakan. Rasanya aku sudah benar-benar lelah berbicara dalam doa selama ini.
" Ma, tidak kah kau merasa hampa selama hampir setahun lebih ini ?."  Sambungnya sambil menatap kearahku. Dia mulai berbicara serius padaku. Tapi  ahh pertanyaan gila. Untuk apa dia menanyakannya. Aku tak mau menjawab. Aku tak mau menjawab.
" Udahlah, uda waktunya aku jujur sama perasaanku sendiri untukmu. Kau tau, selama hampir satu tahun ini sepertinya aku merasa hampa. Aku tak tau hampa itu bagaimana definisinya. Jelasnya aku merasa hidupku biasa-biasa saja, tak banyak yang tampak istimewa untuk hatiku. Hari-hari ku datar, gitu-gitu aja. Sampek akhirnya aku merasa kehilangan feel tersendiri untuk kehidupanku. Aku gak punya tujuan. Aku gak tau aku mau kemana.Setahun lebih ini aku tersesat dan yang kurasa hanya hampa. "
Keadaanku masih saja hening. Aku menggerutu dalam hati, kau memang lelaki tak berhati. Kau hanya merasakan setahun lebih ini kehampaan tanpa melihat aku. Aku, aku yang sebenarnya telah merasakan hampa ketika 4 tahun lalu kau putuskan untuk mengakhiri dan 2 tahun lalu kau putuskan untuk benar-benar pergi. Kau tak pikirkan selama apa hampaku yang hampir 6 kali lipat dari kehampaanmu. Tidakkah kau mengerti.
" Kadang aku teringat samamu. Aku kangen samamu. Awalnya kukira yah wajar saja aku merindukan wanita yang pernah begitu setia disampingku selama bertahun-tahun. Tapi akhir-akhir ini aku makin  saja merindukanmu lebih dari biasanya. Aku kangen sama suaramu yang gak bisa pelan, kangen sama marah-marah mu yang luar biasa, kangen sama larangan-laranganmu, kangen sama semua aturanmu , kangen sama permintaan anehmu dan kangen sama cerwet-cerwet mu, tingkah berlebihanmu. Aku kangen. Kangen kali."
Iss dasar lelaki yang benar-benar jahat. Tak adil, tak adil. Selama ini dia hanya teringat dan merindukan aku terkadang saja. Terkadang ingat terkadang lupa. Sementara aku, aku selalu, garis bawahi kata selalu. Aku selalu mengingatmu. Aku selalu merindukanmu. Kau jahat. Aku tetap terdiam. Aku mau tetap terdiam. Kata-kataku terlalu banyak untuk disampaikan.
" Tau , Aku kangen hidupku dulu dengan banyak laranganmu, aku ngerasa berwarna meski selalu dibawah marah-marahmu dan aku ngerasa ada karena semua permintaan aneh-anehmu. Aku baru sadar, bahwa aturan-aturanmu, tuntutan-tuntutanmu, bukan karena kau tak bisa menerimaku, tapi tak lebih untuk kebaikanku. Aku kehilangan kau, orang yang benar-benar peduli tentangku . Aku kehilangan itu semua hampir dua tahun ini. Aku kehilangan apa yang membuatku hidup selama dua tahun ini. Bukankan itu hampa?"
Aku tetap saja terdiam. Ntahlah , rasanya aku sudah tak perlu banyak bicara. Kata-kataku nanti akan terlalu sulit dia pahami. Dia tak kan pernah mengerti.

" Ma, bicaralah. Katakan semua yang kau rasakan selama dua tahun menyebalkan ini. Seandainya waktu bisa kembali, dulu tak seharusnya aku melepaskanmu dan berhenti berjuang untuk kita. Aku salah, aku terlalu buta untuk membaca semua cinta tulus yang kau punya. Aku salah, aku menyesal. Benar-benar menyesal. "
Kali ini tak ada yang ingin kutanggapi. Bukankah penyesalan selalu datang belakangan. Tapi tak guna penyesalanmu. Semua takkan bisa membawa kita kemasa lalu untuk mempertahankan kisah-kisah itu.
Dia menatapku dalam, sangat dalam.
" Masihkah kau percayai cinta? Cinta kita tepatnya " Tanyanya yang benar-benar menusuk hatiku. Aku tak tahan lagi. Dengan begitu saja airmata itu mengalir kemudian aku tertunduk menghalau tatapannya. Pertanyaan yang kembali membuka luka lama. Bukankah dulu hingga  detik ini aku masih percaya akannya. Bukankah dia yang nyatanya mengingkari cinta itu selama dua tahun ini. Kau seharusnya tak menanyakan itu padaku, tanyakan pada dirimu sendiri. 
" Tidakkah kau bertanya mengapa dengan sangat tiba-tiba selarut ini aku menemuimu dan membawamu pergi? "
Aku tersentak dengan tanyanya kali ini. Aku menatap kembali matanya. Itulah pertanyaanku sedari  saat pertama melihatnya membalikkan badan di depan pintu .
" Cinta telah memanggilku. Sebenarnya akhir-akhir ini aku udah sering terbangun malam keinget kau. Kau orang yang pertama kali kupikirin ketika aku bangun dari tidurku. Dan kau satu-satunya yang membuat tidurku selalu terganggu. Sudah hampir dua tahun berlalu. Tapi ternyata masih ada saja rindu untukmu. Selama itu aku berusaha kembali menghubungimu. Aku mencari keberadaanmu hingga menemukan alamatmu. "
Aku melihatnya tak percaya. Baru kali ini akhirnya dia merasakan yang dulu kurasakan sejak dia memilih pergi.
Dia menyambung lagi kata-katanya " Tadi aku juga sudah tertidur. Lagi-lagi tawamu mengagetkan tidurku dan membangunkanku. Ntah mengapa, detakan jantung yang lebih cepat dari biasanya, detakan jantung seperti saat pertama kali aku memelukmu, sekarang kurasakan lagi setelah sekian lama tak pernah ku temui. Aku gelisah. Aku kahwatir tak biasa. Ada yang mengejarku dalam hati. Ada yang seolah menyuruhku pergi hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuimu. "
Aku masih terdiam, tapi kali ini aku sedikit lega telah temukan jawabnya. Aku menyeka airmataku.
"Ma bisakah kau kembali pada rumahmu. Bisakah kita kembali menghuni rumah itu. Masih bisakah kita tata kembali cinta yang pernah kita perjuangkan bersama. Pulang lah padaku. Pulanglah."
Aku kembali menjatuhkan airmataku. Takkah dia pikir siapa yang pergi dan siapa yang harus kembali. Sesulit itukah cinta ini hingga dia sama sekali tak pernah mengerti.
" Tak semudah itu membangun rumah yang sudah porak poranda ditinggal penghuninya. Tak semudah itu temukan jalan pulang setelah sekian lama tersesat jauh berkelana. Mengerti. " Akhirnya aku berbicara untuk pertama kalinya sambil bangkit dari tempat dudukku dengan nafas yang terengah karena tangisanku. 
Dia menahan langkahku.
" Bukankah kau juga merindukan semuanya. Bukan kah kau juga merindukan tawa kita bersama. Ingat pertama kali aku mengantarmu pulang dibawah rintikan hujan itu. Ingat pertama kali aku yang tak pernah bisa menatap matamu. Ingatkah aku yang selalu setia ada untukmu. Ingat aku yang selalu menuruti semua permintaan tak masuk akalmu. Bisakah kita ulangi semua itu ? " Tanyanya yang membuat aku semakin rapuh.
" Jangan bawa aku kembali pada kenangan masa lalu. Aku sudah tidak tinggal disana. Satu saja yang ingin kutanya. Masih ingatkah kau yang lebih memilih pergi dan tak percayai semua perjuangan cintaku selama ini?" Aku menangis. Aku kembali menangis.

" But hold your breathe. Because tonight will be the night that I will fall for you. Over again, don't make me chance my mind. Or I will live to  see another day, I swere It's true beacuse a girl like you is imposible to find you're imposible to find. "
Tiba-tiba dia bernyanyi. Ntah apa maksudnya. Dia menyanyikan lagu itu, lagu yang dia tahu sangat kusukai semenjak dia memilih pergi. Dia menyanyikannya dan kemudian menarik tanganku. " Sudahlah. Aku terlalu lelah tanpamu. "
Aku kembali terdiam. Dia masih tak mengerti dengan semua yang telah terjadi sampai sejauh ini. Dia menjatuhkan tubuhnya. Berlutut memohon padaku.
" Maukah kau menemani hari-hariku kembali. Maukah jadi wanita yang setia berdiri disampingku memperjuangkan semuanya kembali seperti dulu. Maukah percayakan hatimu padaku lagi. Aku mau kita kembali. Aku jatuh cinta lagi padamu. Jangan buatku semakin gila. Bisakah kita ulang semua dan hiduplah lebih berarti bersamaku. " Pintanya sambil menggenggam erat tanganku dan menatap mataku.
Aku terdiam. Untuk beberapa saat aku teringat kisah-kisah dulu. Kenangan itu mengejarku dan juga ikut memohon untuk diperjuangkan kembali.
" Ma, beri aku kesempatan. Sekali lagi. Hari ini, esok dan seterusnya bahagialah bersamaku. "
Aku masih terdiam untuk beberapa saat. Namun kali ini aku telah menemukan jawabnya.
" Kau bisa saja mengetuk pintu rumahku malam ini, kau bisa saja berkali-kali mengetuknya. Tapi sesaat  kau lebih memilih pergi dan mengunci hati ini, kau tak kan pernah bisa mengetuknya kembali. Kau tak berhak mengetuknya. Kau tak berhak. Tolong pahami. "
Ada banyak yang harus kau pelajari kembali. Tentang aku, tentang cintaku. Cintaku akan selalu sulit untuk kau mengerti, hingga saat itu, saat dimana kepergianmu , aku telah meneyederhanakannya. Tak perlu memilikimu karena kurasa cinta lebih dari itu semua,  bukan sebatas perkara hidup bersama. Cinta adalah satu hal  yang tak pernah bisa aku jelaskan.