![]() |
| Ketukan Pintu |
Mataku masih
saja tak mau terbuka. Aku berada diantara mimpi dan nyata. Suara ketukan pintu
makin keras saja. Semakin lama semakin berirama untuk menarikku sepenuhnya pada
kehidupan nyata. Aku masih lelah, masih sangat lelah. Hari ini telah menyita
hampir seluruh akal dan jiwa. Aku masih ingin tertidur dan membaringkan seluruh
raga dengan indah. Atau mungkin itu hanya suara ketukan pintu yang bersumber
dari mimpiku saja. Ahh kurasa begitu, hingga akhirnya mataku tetap urung
kubuka.
Antara mimpi
dan nyata itu, kudengar kembali ketukan pintu. Ini sudah yang keempat kali dan
kali ini kudengar samar-samar sisipan namaku diantara ketukan pintu itu. Aku
masih menutup mata, yang benar saja kurasa suara itu memang tak berasal dari mimpiku. Sekuat tenaga aku
mengumpulkan sisa-sisa energi untuk membuka mata. Dengan sangat terpaksa
akhirnya aku membuka mata.
Kulihat jam
wekerku masih menunjukkan angka 01.32, benarkah tanyaku dalam hati. Masih
selarut ini sudah ada saja yang mengunjungiku. Takkah dia tahu adat bertamu
hingga aku merasa terganggu. Tapi apakah mungkin ada mahluk yang kiranya
berasal dari dunia lain punya kepentingan mendesak denganku. Atau memang benar,
itu tingkah usil mahluk dunia lain saja yang ingin mengganggu jam istirahatku.
Masih selarut itu dan aku urungkan beranjak kedepan untuk membuka pintu.
Ketukan pintu
itu kembali mengagetkanku yang masih terduduk diatas tempat tidur untuk
mengumpulkan seluruh nyawa kesadaranku. Suara samar-samar yang memanggilku itu
kembali berbunyi dan disahut dengan ketukan pintu lagi. Usil benar pikirku jika
itu hanya wujud dunia lain. Tak mungkin
dia mau bersabar menunggu didepan pintu. Bukankah dia dapat dengan mudah
menembus tembok rumahku dan menghampiriku. Tapi entahlah, aku makin penasaran saja siapa yang tampaknya
sangat berkepentingan denganku malam ini, malam selarut ini, di 01.32 ini.
Akhirnya aku
mulai beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keruang depan. Sepuluh langkah
lagi jarakku meraih pintu, suara ketukan pintu itu kembali terdengar sambil
menyertakan namaku. Spontan aku meresponnya dengan ucapan "Iya sebentar
ya" kemudian dengan segera kuraih pintu . Sebelum membukakan pintu,
kuintip sebentar siapa ternyata yang ada dibalik pintu . Tapi sayangnya dia
membalikkan badan. Posturnya tinggi, kurus, memakai jeans biru dongker dan kaos
hitam polos dengan sweather dilengan kanannya.
Sepertinya aku kenal dengan sosok ini, tapi sudahlah aku tak terlalu
berniat untuk menerka itu siapa.
Dengan segera
kubukakan pintu depan itu. Dengan wajah yang masih diantara mimpi dan nyata,
dengan rambut yang masih terurai tak terarah, dengan baju tidurku yang sudah
kusut bentuknya dan dengan mata yang tampak lelah luar biasa, kudapati wajah
lelaki itu dengan senyuman yang menyergap jantungku seketika saat dia
membalikkan tubuhnya. Aku seperti mendapat surprise yang bisa benar-benar
memberhentikan detakan jantungku saat itu juga. Wajahku kaget tak percaya, dan
dia masih saja tersenyum penuh makna. Masih tersenyum dengan senyum yang dulu
pernah membuatku begitu terluka.
Benarkah ini
terjadi , nyatakah sosok didepanku ini. Aku masih saja terdiam tak percaya,
atau aku memang berada di dunia tak nyata. Aku masih saja memandanginya
terbata, memperhatikan setiap detail sosok didepanku dari ujung kaki ,
menyusuri tubuhnya yang lebih tinggi dari aku, hingga keujung kepalanya dengan
rambut yang masih saja ikal. Tak banyak yang berubah darinya, hanya saja
kulitnya yang lebih bersih dari dua tahun lalu. Sosok dua tahun lalu yang
benar-benar pergi dari hidupku, yang hanya bisa kutemu didalam mimpi kini hanya
berjarak 30 senti dari tatapanku. Bukankah ini mimpi.
Wajahnya
seketika berubah rona. Senyumnya kembali ia sembunyikan. Kali ini dia yang
benar-benar memperhatikanku. Dia menatap dalam mataku sedalam tatapan matanya
lebih dari dua tahun lalu. Dia juga masih terdiam dalam tatapan matanya. Kami
masih sama-sama terdiam dalam dunia tak kepercayaanku didepannya. Hingga
akhirnya tangannya yang mengusap lembut rambutku sambil berkata "Apakah
aku mengganggu tidurmu" membuyarkan lamunanku.
Apa yang baru
saja dilakukannya. Untuk apa dia kembali mengusap-usap lembut kepalaku seperti
yang dulu sering dilakukannya hampir enam tahun lalu. Untuk apa dia masih
melakukannya setelah hampir dua tahun ini dia malah sama sekali tak peduli kabar isi kepalaku ini. Aku masih saja
terdiam tak menjawab tanyanya. Aku masih tak percaya siapa sosok didepanku ,
benarkah dia sosok itu ? Sosok yang hampir dua tahun ini tak kutahu kabar dan
keberadaannya.
Dia juga ikut
terdiam melihat aku yang masih saja setia membisu. Untuk beberapa saat dia
masih saja menatap mataku sambil memainkan beberapa ekspresi yang tak bisa ku
terka apa maskdunya. Aku masih berbicara dalam kediaman itu. Ada banyak
percakapan yang kami utarakan lewat hati, ntah apa yang kami permasalahkan kala ini. Banyak,
terlalu banyak. Rumit.
Pelan-pelan
kulihat dia memberanikan diri untuk mengajakku berbicara. Tapi lagi-lagi
katanya mengagetkanku.
" Ma,
punya waktu sebentar. Aku butuh kau. Bener-bener butuh"
Aku masih saja tak bisa menjawab pertanyaanya.
Kata-kata yang baru saja diucapkannya masih terngiang di telingaku. "Ma .
. " Panggilnya untuk ku yang
benar-benar tak pernah ku temui dua
tahun ini, membawaku kedunia enam tahun lalu saat awal mula mengenalnya.
" Ma, bisa
sebentar ikut aku, banyak yang mau ku bilang samamu. Terlalu banyak. Kuharap
aku punya cukup waktu untuk bilang semuanya sama mu "
Aku tetap
terdiam. Ntah apa maksud lelaki ini. Setelah menghilang begitu saja kini
tiba-tiba menghampiri dan ingin membawaku pergi. Aku benar-benar tak punya
jawaban untuk semua tanyanya. Hingga saat ini, akhirnya kucoba menatap dalam
matanya seperti enam tahun lalu. Ntah mengapa, tatapan mata ini selalu kutemui
saat aku merasa terlukai karena tingkahnya tapi malah tetap bisa meyakini bahwa
dia benar-benar menyayangiku. Sinar matanya kulihat selugu dulu, selugu ketika
dia ingin mencium keningku tapi akhirnya dia mengurungkannya lalu mengusap-usap
lembut rambutku sambil berkata aku akan menjagamu. Ahh betapa konyol kami dulu.
Dia menganggukkan
kepalanya merayuku. Aku masih terdiam. Dia kembali menganggukkan kepalanya
tanda memaksaku. Tapi kali ini anggukannya tanpa seyum dan kedipan manja
matanya seperti dulu. Dia tampak lebih serius dan benar-benar mengharapkan aku
ada untuknya kali ini.
Aku masih saja
mempercayai tatapan matanya hingga akhirnya aku mengunci pintu rumah sambil
berjalan kearahnya. Dengan segera dia mengeluarkan kunci motornya dan membawaku
berjalan menuju motornya. Sebelum dia membawaku pergi, tiba-tiba dia memakaikan
sweathernya kepundakku dan menarik lenganku untuk dimasukkan ke lengan sweather
hitamnya itu. Malam ini cuaca memang terasa lebih dingin, tapi aku benci. Aku
benci karena dia mengenakan sweathernya ditubuhku.
Dia
menghidupkan motornya lalu membawaku pergi ke suatu taman yang pernah kami
kunjungi bersama tiga tahun lalu. Dia mencari posisi yang tepat untuk
menyampaikan apa yang sudah dipendamnya dari tadi. Kami berhenti di pinggiran
danau dan duduk tepat dibawah lampu yang dulu pernah menyinari tawa kami tiga tahun lalu.
Angin usil
menyerbu lembut hingga kurasa makin dingin saja. Kami duduk bersampingan dan
ini benar-benar kembali mengingatkan kenangan yang selama dua tahun ini selalu
ingin kulupakan. Akhirnya dia memulai pembicaraan yang hampir dua tahun ini tak
pernah ku temui.
" Ma,
masih ingat tempat ini ? " Tanyanya
pertama kali.
Aku diam. Aku
hanya terdiam. Tak banyak yang mau kubicarakan. Rasanya aku sudah benar-benar
lelah berbicara dalam doa selama ini.
" Ma,
tidak kah kau merasa hampa selama hampir setahun lebih ini ?." Sambungnya sambil menatap kearahku. Dia mulai
berbicara serius padaku. Tapi ahh
pertanyaan gila. Untuk apa dia menanyakannya. Aku tak mau menjawab. Aku tak mau
menjawab.
" Udahlah,
uda waktunya aku jujur sama perasaanku sendiri untukmu. Kau tau, selama hampir
satu tahun ini sepertinya aku merasa hampa. Aku tak tau hampa itu bagaimana
definisinya. Jelasnya aku merasa hidupku biasa-biasa saja, tak banyak yang
tampak istimewa untuk hatiku. Hari-hari ku datar, gitu-gitu aja. Sampek akhirnya
aku merasa kehilangan feel tersendiri untuk kehidupanku. Aku gak punya tujuan.
Aku gak tau aku mau kemana.Setahun lebih ini aku tersesat dan yang kurasa hanya
hampa. "
Keadaanku masih
saja hening. Aku menggerutu dalam hati, kau memang lelaki tak berhati. Kau
hanya merasakan setahun lebih ini kehampaan tanpa melihat aku. Aku, aku yang
sebenarnya telah merasakan hampa ketika 4 tahun lalu kau putuskan untuk
mengakhiri dan 2 tahun lalu kau putuskan untuk benar-benar pergi. Kau tak
pikirkan selama apa hampaku yang hampir 6 kali lipat dari kehampaanmu. Tidakkah
kau mengerti.
" Kadang
aku teringat samamu. Aku kangen samamu. Awalnya kukira yah wajar saja aku
merindukan wanita yang pernah begitu setia disampingku selama bertahun-tahun.
Tapi akhir-akhir ini aku makin saja
merindukanmu lebih dari biasanya. Aku kangen sama suaramu yang gak bisa pelan,
kangen sama marah-marah mu yang luar biasa, kangen sama larangan-laranganmu,
kangen sama semua aturanmu , kangen sama permintaan anehmu dan kangen sama
cerwet-cerwet mu, tingkah berlebihanmu. Aku kangen. Kangen kali."
Iss dasar
lelaki yang benar-benar jahat. Tak adil, tak adil. Selama ini dia hanya
teringat dan merindukan aku terkadang saja. Terkadang ingat terkadang lupa.
Sementara aku, aku selalu, garis bawahi kata selalu. Aku selalu mengingatmu.
Aku selalu merindukanmu. Kau jahat. Aku tetap terdiam. Aku mau tetap terdiam.
Kata-kataku terlalu banyak untuk disampaikan.
" Tau ,
Aku kangen hidupku dulu dengan banyak laranganmu, aku ngerasa berwarna meski
selalu dibawah marah-marahmu dan aku ngerasa ada karena semua permintaan
aneh-anehmu. Aku baru sadar, bahwa aturan-aturanmu, tuntutan-tuntutanmu, bukan
karena kau tak bisa menerimaku, tapi tak lebih untuk kebaikanku. Aku kehilangan
kau, orang yang benar-benar peduli tentangku . Aku kehilangan itu semua hampir
dua tahun ini. Aku kehilangan apa yang membuatku hidup selama dua tahun ini.
Bukankan itu hampa?"
Aku tetap saja
terdiam. Ntahlah , rasanya aku sudah tak perlu banyak bicara. Kata-kataku nanti
akan terlalu sulit dia pahami. Dia tak kan pernah mengerti.
" Ma,
bicaralah. Katakan semua yang kau rasakan selama dua tahun menyebalkan ini.
Seandainya waktu bisa kembali, dulu tak seharusnya aku melepaskanmu dan
berhenti berjuang untuk kita. Aku salah, aku terlalu buta untuk membaca semua
cinta tulus yang kau punya. Aku salah, aku menyesal. Benar-benar menyesal.
"
Kali ini tak
ada yang ingin kutanggapi. Bukankah penyesalan selalu datang belakangan. Tapi
tak guna penyesalanmu. Semua takkan bisa membawa kita kemasa lalu untuk mempertahankan
kisah-kisah itu.
Dia menatapku
dalam, sangat dalam.
" Masihkah
kau percayai cinta? Cinta kita tepatnya " Tanyanya yang benar-benar
menusuk hatiku. Aku tak tahan lagi. Dengan begitu saja airmata itu mengalir
kemudian aku tertunduk menghalau tatapannya. Pertanyaan yang kembali membuka
luka lama. Bukankah dulu hingga detik
ini aku masih percaya akannya. Bukankah dia yang nyatanya mengingkari cinta itu
selama dua tahun ini. Kau seharusnya tak menanyakan itu padaku, tanyakan pada
dirimu sendiri.
" Tidakkah
kau bertanya mengapa dengan sangat tiba-tiba selarut ini aku menemuimu dan
membawamu pergi? "
Aku tersentak
dengan tanyanya kali ini. Aku menatap kembali matanya. Itulah pertanyaanku
sedari saat pertama melihatnya
membalikkan badan di depan pintu .
" Cinta
telah memanggilku. Sebenarnya akhir-akhir ini aku udah sering terbangun malam
keinget kau. Kau orang yang pertama kali kupikirin ketika aku bangun dari
tidurku. Dan kau satu-satunya yang membuat tidurku selalu terganggu. Sudah
hampir dua tahun berlalu. Tapi ternyata masih ada saja rindu untukmu. Selama
itu aku berusaha kembali menghubungimu. Aku mencari keberadaanmu hingga
menemukan alamatmu. "
Aku melihatnya
tak percaya. Baru kali ini akhirnya dia merasakan yang dulu kurasakan sejak dia
memilih pergi.
Dia menyambung
lagi kata-katanya " Tadi aku juga sudah tertidur. Lagi-lagi tawamu
mengagetkan tidurku dan membangunkanku. Ntah mengapa, detakan jantung yang
lebih cepat dari biasanya, detakan jantung seperti saat pertama kali aku
memelukmu, sekarang kurasakan lagi setelah sekian lama tak pernah ku temui. Aku
gelisah. Aku kahwatir tak biasa. Ada yang mengejarku dalam hati. Ada yang
seolah menyuruhku pergi hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuimu. "
Aku masih
terdiam, tapi kali ini aku sedikit lega telah temukan jawabnya. Aku menyeka
airmataku.
"Ma
bisakah kau kembali pada rumahmu. Bisakah kita kembali menghuni rumah itu.
Masih bisakah kita tata kembali cinta yang pernah kita perjuangkan bersama.
Pulang lah padaku. Pulanglah."
Aku kembali menjatuhkan
airmataku. Takkah dia pikir siapa yang pergi dan siapa yang harus kembali.
Sesulit itukah cinta ini hingga dia sama sekali tak pernah mengerti.
" Tak
semudah itu membangun rumah yang sudah porak poranda ditinggal penghuninya. Tak
semudah itu temukan jalan pulang setelah sekian lama tersesat jauh berkelana.
Mengerti. " Akhirnya aku berbicara untuk pertama kalinya sambil bangkit
dari tempat dudukku dengan nafas yang terengah karena tangisanku.
Dia menahan
langkahku.
" Bukankah
kau juga merindukan semuanya. Bukan kah kau juga merindukan tawa kita bersama.
Ingat pertama kali aku mengantarmu pulang dibawah rintikan hujan itu. Ingat
pertama kali aku yang tak pernah bisa menatap matamu. Ingatkah aku yang selalu
setia ada untukmu. Ingat aku yang selalu menuruti semua permintaan tak masuk
akalmu. Bisakah kita ulangi semua itu ? " Tanyanya yang membuat aku
semakin rapuh.
" Jangan
bawa aku kembali pada kenangan masa lalu. Aku sudah tidak tinggal disana. Satu
saja yang ingin kutanya. Masih ingatkah kau yang lebih memilih pergi dan tak
percayai semua perjuangan cintaku selama ini?" Aku menangis. Aku kembali
menangis.
" But hold
your breathe. Because tonight will be the night that I will fall for you. Over
again, don't make me chance my mind. Or I will live to see another day, I swere It's true beacuse a
girl like you is imposible to find you're imposible to find. "
Tiba-tiba dia
bernyanyi. Ntah apa maksudnya. Dia menyanyikan lagu itu, lagu yang dia tahu
sangat kusukai semenjak dia memilih pergi. Dia menyanyikannya dan kemudian
menarik tanganku. " Sudahlah. Aku terlalu lelah tanpamu. "
Aku kembali
terdiam. Dia masih tak mengerti dengan semua yang telah terjadi sampai sejauh
ini. Dia menjatuhkan tubuhnya. Berlutut memohon padaku.
" Maukah
kau menemani hari-hariku kembali. Maukah jadi wanita yang setia berdiri
disampingku memperjuangkan semuanya kembali seperti dulu. Maukah percayakan
hatimu padaku lagi. Aku mau kita kembali. Aku jatuh cinta lagi padamu. Jangan
buatku semakin gila. Bisakah kita ulang semua dan hiduplah lebih berarti
bersamaku. " Pintanya sambil menggenggam erat tanganku dan menatap mataku.
Aku terdiam.
Untuk beberapa saat aku teringat kisah-kisah dulu. Kenangan itu mengejarku dan
juga ikut memohon untuk diperjuangkan kembali.
" Ma, beri
aku kesempatan. Sekali lagi. Hari ini, esok dan seterusnya bahagialah
bersamaku. "
Aku masih
terdiam untuk beberapa saat. Namun kali ini aku telah menemukan jawabnya.
" Kau bisa
saja mengetuk pintu rumahku malam ini, kau bisa saja berkali-kali mengetuknya.
Tapi sesaat kau lebih memilih pergi dan
mengunci hati ini, kau tak kan pernah bisa mengetuknya kembali. Kau tak berhak
mengetuknya. Kau tak berhak. Tolong pahami. "
Ada banyak yang
harus kau pelajari kembali. Tentang aku, tentang cintaku. Cintaku akan selalu
sulit untuk kau mengerti, hingga saat itu, saat dimana kepergianmu , aku telah
meneyederhanakannya. Tak perlu memilikimu karena kurasa cinta lebih dari itu
semua, bukan sebatas perkara hidup
bersama. Cinta adalah satu hal yang tak
pernah bisa aku jelaskan.
