Jumat, 14 November 2014

Untitled

Tiba-tiba saja aku berdiri disini. Aku terkejut. Dari mana asalnya, darimana saja aku hingga terdampar ditempat ini. Apa yang telah kulewati hingga membawaku kesini. Aku mencoba mengingatnya. Berusaha keras, sekeras melupakannya. Tapi rasanya semua tak berawal, begitu saja, ntah dari mana jalannya aku berdiri disini. Ntah dimana.
Ntah tempat apa yang sekarang kusinggahi.  Kutatapi sekelilingku, kuamati tiap sudutnya. Hanya kutemukan gedung disini. Kupalingkan wajahku berkali-kali, tak kutemukan siapapun untuk bertanya. Ahh seperti kota mati saja.
Perlahan aku mulai berjalan mendekati gedung itu. Terlihat papan bunga dihalaman depan, mungkin sedang ada acara didalamnya. Dengan tatapan kosong, pikiran ku semakin hampa. Aku berjalan saja menuju papan bunga itu. Aku meraba-raba tulisannya. Aku bertingkah sangat aneh. Tapi aku juga tak berpikir mengapa aku bertingkah seaneh ini.
Aku tak membaca isinya. Aku hanya meraba-raba saja hingga akhirnya tanganku tertusuk jarum yang ada disana. Tak berapa lama tanganku telah dipenuhi darah. Sontak saja itu membuyarkan lamunan dan pikiran kosongku. Dengan segera aku berjalan menjauhi papan bunga itu. Aku mulai berjalan keluar dari tempat aneh ini.
Selangkah lagi langkahku menuju gerbang keluar, ntah pikiran apa yang mendorongku hingga akhirnya aku menolehkan pandanganku sekali lagi kebelakang. Kuamati sekali lagi papan bunga yang menyakitiku tadi. Kuamati perlahan-lahan dan baru ku baca. Benar dugaanku, memang ada acara, tepatnya acara pernikahan. Kubaca nama mempelainya. Rahaka Nugraha . Sontak saja nafasku seperti terhenti.
Aku mulai mendekati papan bunga itu lagi. Ku baca kembali nama dipapan bunga itu. Memang benar-benar nama lelaki yang sekeras itu kulupakan. Dipapan bunga itu dia bersanding dengan wanitanya. Wanita yang belakangan kutahu adalah kekasihnya. Ahh. Aku hampir terduduk lemas. Kakiku rasanya tak bisa lagi menahan berat tubuhku. Tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
Dengan langkah gontai, tergesa-gesa dan tubuh gemetar aku berjalan kedalam gedung . Tepat didepan gedung itu dapat dengan jelas kusaksikan tubuh kurus tinggi dibalut kemeja putih dan jas hitam, rambut ikalnya ditimpa peci hitam. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Dia sedang berjabat tangan dengan lelaki paruh baya berpeci didepannya.  Disampingnya kulihat wanita itu. Dia berbalut kebaya putih-putih. Rambutnya tersanggul rapi dan ditutup selendang putih.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku hanya bisa berdiri terpatung disini. Aku mencoba memanggilnya. Sekuat tenaga, sekuat aku membencinya. Tapi ntah kenapa aku tak bisa bersuara. Kupanggil berkali-kali. Tapi mungkin sia-sia karna sama sekali suaraku hilang begitu saja. Aku tertunduk mulai putus asa. Airmataku terjatuh membasahi tanah. Aku berusaha menghapusnya.
Aku tak punya daya mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari sini. Panggilan tak bersuaraku tentu saja tak bisa didengarnya. Tiba-tiba dia bangkit. Ntah apa yang dikatakan kepada lelaki paruh baya itu dan wanitanya. Dia berdiri dan berjalan keluar. Aku tak menyadari tiba-tiba saja dia telah dihadapanku dan menarik tanganku. Dia membawaku kehalaman belakang gedung . Di menyuruhku duduk disampingnya.
Dia mengangkat kepalaku yang masih saja tertunduk. Mataku sudah terpenuhi airmata dan mulai sembab. Aku tak bisa menghentikannya.
"Udahlah, kitakan udah lama berlalu. Jangan ditangisi lagi."
Suaranya memecahkan tangisanku. Membuat aku semakin tak bisa menahannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Sejadi-jadi tiap malam aku merindukannya. Tubuhku makin tak berdaya. Nafasku tertahan, isakanku makin menggema.
Dia menarik tanganku, menatap mata sembabku. Aku semakin saja rapuh, tubuhku melayu, benar-benar tak berdaya dihadapannya. Lalu dia menarikku dan merangkul tubuhku. Dia menyandarkan kepalaku kedadanya. Aku makin saja menangis dipelukannya.  Air mataku semakin  tak bisa dihentikan. Isakanku semakin menjadi. Tak ada yang bisa kukatakan. 
" Udah, tenanglah. Kitakan udah berlalu lama. Kenapa masih ditangisi kek gini lagi."
Katanya sambil mengusap-usap kepalaku. Aku tak peduli. Aku masih saja menangis sejadi-jadinya. Dadaku serasa sangat sesak. Sakit saja rasanya. Masih benar-benar terasa luka perpisahan beberapa tahun lalu.
"Aku juga gak kebayang nikah muda. Ahh aku masih dua puluh tahun pun. Bayangin aja 5 tahun lagi pun aku masih 25 tahun. Udah nikah, udah punyak anak lah itu. Ahh Gak taulah . Kok uda nikah gini aku ya"
Kata-katanya bisa saja membuatku ingin tertawa ditengah tangisan yang sangat menyedihkan ini. Aku juga tak habis pikir tentang itu. Setelah bertahun-tahun kami tak pernah bertemu kini dihadapanku dia telah menjadi lelaki wanita lain. Dia akan menikah. Pernikahannya adalah perpisahan kami yang tak akan mungkin menyatu lagi. 
Aku masih saja menangis dipelukannya. Dia memang benar. Kami telah berlalu benar-benar lama. Tapi ntah mengapa. Sakitnya masih benar-benar terasa. Dia masih saja serasa milikku. Rasanya baru saja kemarin dia memelukku dan kudengar degupan jantungnya. Detakan kehidupan. Waktu begitu cepat berlalu.
Rasanya tangisanku tak akan menemukan ujungnya. Bagaimana bisa aku merelakan kehilangannya yang benar-benar hilang, tak akan ada lagi. Ahhh Hingga sehampa apa lagi yang akan aku rasakan. Hingga berapa lama lagi aku hidup yang tak hidup. Hingga kapan aku terkurung ntah dimana , tak pernah kutahu jalan kembalinya. Bagaimana aku akan melewati semua ini tanpanya. Bagaimana lagi aku menanti jika penantianku telah diberhentikan. Akan kemana aku pergi. Ya Allah aku telah diujung harapanku.
Aku benar-benar tak mampu mengatakan apapun untuknya. Aku ingin saja tetap berada dipelukan ini selamanya. Bagiku perpisahan kami yang lalu belum bagian akhir dari kisah kami. Kami belum berakhir, belum benar-benar berakhir. Inikah pengakhiranku, pengakhiran sekian lama penantianku.
Tak berapa lama seseorang datang dan memanggilnya. Dia segera menarik badannya dan merapikan jasnya. Aku menarik tangannya. Aku masih saja menangis. Isakanku tak mau berhenti. Nafasku makin saja terengah-engah. Aku benar-benar tak mau dia pergi. Kita belum berakhir, kita belum berakhir.
" Udah tenang ya. Aku mau kesana. Aku harus selesaikan pernikahanku dulu. Aku pergi ya"
Kemudian dia pergi dan meninggalkanku. Aku menangis sederas-derasnya. Sederas hujan di November yang kuhabiskan tanpanya. Dadaku makin  sesak dan terasa begitu sakit. Jantungku berdegup tak beraturan. Tubuhku menggigil. Dingin. Sedingin hati yang tak pernah tersentuh cinta lagi.
Aku tak tahan. Aku benar-benar tak kuat lagi. Aku teriak sekuat-kuatnya. Sekuat cinta ini yang tak pernah memudar untuknya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Aku tersentak. Aku terduduk di tempat tidur. Mimpi itu membangunkan tidurku. Aku baru tersadar itu hanya mimpi. Itu mimpi. Tapi sakitnya benar-benar terasa. Sesakit merindukan sosoknya yang tak pernah ada lagi. Kemudian aku menenangkan pikiranku.
Kulihat jam weker yang berdiri gagah disamping fotonya. Masih pukul 03 pagi. Aku memilih untuk beranjak dan tak ingin tidur lagi. Aku berdiri di balkon kamarku. Mataku jauh menerawang. Ntah apa yang kupikirkan. Aku merindukannya.  Hampa.
Angin berhembus. Rintik-rintik hujan mulai terasa.  Aromanya menenangkanku sejenak dan mendinginkan amarahku. Sekilas aku melihat bayangan hitam didepan gerbang rumahku. Hujan yang makin mengguyur membuyarkan bayangannya. Samar-samar kulihat dia tersenyum. Aku ingat senyumannya. Aku benar-benar memahami setiap simpul senyum itu.
Aku segera berlari kebawah. Membuka pintu rumah dan keluar menemuinya. Hujan makin saja derasnya. Sederas tangisanku kali ini. Langkah ku terhenti tepat dihadapannya. Aku menikmati setiap pancaran diwajahnya. Air mataku bercampur dengan hujan kala ini. Tangisanku makin saja tak terbendung. Lebih hebat dari hujan ini. Isakanku berlomba dengan gemuruh deru hujan .
Dengan segera aku memeluknya. Seerat-eratnya. Seerat dia berdiam dipikiranku selama ini.
Aku menangis, lagi-lagi hanya bisa menangis.

" Bawa aku pulang ka. Bawa aku pulang"
I can't say anything