Selasa, 16 Agustus 2016

Could I cry?

Andai saja bisa ku pinta pada Sang Penguasa, bolehkah ambil semua air mata yang ku punya. Atau bolehkah sekali saja  aku bersandar untuk menangis sepuas-puasnya. Aku selalu merasa lebih baik setelah menangis sehebat-hebatnya. Tapi aku pusing. Aku lelah. Aku ingin tidur, lelap dan lupa. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa pejamkan mata.

Tak ada siapapun disini. Tapi aku merasa seluruh dunia menertawakan keadaanku. Seketika aku merasa orang sebodoh-bodohnya yang ada di dunia. Seketika aku merasa mereka-mereka juara dan aku lah si pecundang yang jatuh, tersungkur dan tak akan ada yang mengulurkan tangan indahnya untuk membangunkanku.

Aku masih menangis . Masih sehebat-hebatnya.Bahkan yang ada disisiku tak akan pernah mengerti semua air mataku. Ataukah pada Hello Kitty merah jambu kusandarkan tangisanku . Karena dia tak akan mengeluh seberapa banyak air mata yang ku tumpahkan padanya tanpa bertanya mengapa. Seketika aku lega.

Diujung-ujung jemari yang selalu kau genggam, terdengar suara sendu lagu yang selalu mengantarkan kau dalam ingatanku. Aku kembali menjatuhkan air mata ku. Nanti aku bisa sakit. Tapi aku masih ingin membasahi  Hello Kitty merah jambu kesayanganku..

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa ada cinta sebaik-baiknya cinta untuk orang jahat-sejahatnya. Tapi bukankah dalam sejahat-jahatnya manusia pasti ada kebaikan didalamnya. Aku selalu percaya, hatiku selalu mau dia adalah orang terbaik yang selalu ku rasa semua baik-baik saja saat bersamanya. Semua seolah lebih baik ketika aku bersamanya. Haha, Hatiku tertipu. Sadarilah air mata yang terjatuh sebanyak-banyaknya yang bahkan dia tak ingin melihatnya.

Aku menutup mata, harap-harap cemas kumohonkan semoga ini hanya mimpi. Semoga semua yang terjadi hanya kekhawatiranku atau aku kembali ke beberapa waktu yang lalu dan merubah segalanya. Atau aku sama sekali tak pernah mengetahui semua hal yang akan menjatuhkan air mataku. Sudahlah semua sia-sia. Percuma. Ini nyata dan aku tak bisa menjadikannya maya.

Teruntuk engkau, yang saat menulis inipun masih saja mengalirkan air mataku. Tak pernah pun sekali aku berharap kau berbelas kasih. Aku tak mau mengganggumu. Aku hanya ingin kau tau. Demi senyapnya malam, demi lagu-lagu sendu di ujung telingaku, demi Hello Kitty merah jambu kesayanganku, tiada sayang yang bisa kukatakan lagi. Tiada kata lagi yang mampu kutitipkan untuk disampaikan oleh dinginnya malam seberapa sayangku untukmu. Tiada yang akan mengerti seberapa penuh hatiku akanmu.

Tapi sudahlah. Kurasa sudah cukup semua kecintaanku. Cukup tapi tak mungkin berhenti. Untukmu, berbahagialah dengan bahagiamu. Dan aku akan bahagia dengan kebahagiaanku. Aku hanya ingin menemukan hidup yang lebih baik lagi. Bahagia yang lebih baik lagi. Dan yang lebih baik adalah kehidupanmu yang lebih baik. .........

Aku sayang, sudah. Aku marah, tak bisa. Aku benci, percuma. Aku menyesal, sia-sia. Aku lupa, tak akan pernah.

Sekali saja kau goreskan luka pada wanita yang hatinya tulus penuh cinta. Dia tak akan mungkin lupa, tak akan mungkin tersembuhkan meskipun wajahnya tertawa.

 Dia, siapapun dia yang tak mampu lagi kusebut namanya dalam doa, aku takut Tuhan marah karena cinta yang terlalu.

Kamis, 03 Maret 2016

Yang Ku Ungkapkan Untuk Kecintaan


     Ntah lebih berat mana, menahan kehilangan atau kehilangan yang tertahan. Jika saja aku bertahan untuk kehilangan,  tak lebih menunda kesakitan yang akan mendalam. Namun aku tak ada daya untuk menahan kehilangan andai akhirnya itu yang harus kuhadapi. Tak lebih menyakitkan dari semua keadaan. Aku berada diujung pengharapanku Tuhan.

     Tak kutau, mencintaimu mungkin kesalahan yang telah merubah hidupku seutuhnya. Dari awal, aku tau apa yang akan kuhadapi bersamamu. Ahhh.. tapi rasanya aku butuh membebaskan hati untuk sedikit saja mencintaimu. Sedikit saja menjatuhkan hati. Sedikit saja, hanya sedikit saja aku ingin mencintaimu.
    Waktu bergulir disamping kita. Kubiarkan aku tetap bersamamu. Banyak, terlalu banyak tawa yang kita bawa bersama. Jauh, terlalu jauh aku iringkan langkahkahku mengikuti tapakmu. Membiasakan dan terbiasa bersamamu adalah hal yang selalu membahagiakan. Melupakan bahwa aku pernah benar-benar tersakiti. Melupakan hal yang sama menyakitkannya mungkin akan terulang lagi. Melupakan siapa aku. Melupakan sebagaimana seharusnya cintaku.

  Seiring waktu yang berjalan disamping mu, hati tak pernah diterka arah jalannya. Mulanya yang sedikit saja kusisihkan untuk mencintaimu, tak ku tau dari mana sebabnya ia meluas. Seutuhnya, segenap hati telah kujatuhkan akanmu. Seutuhnya, seluruh hati telah kubawakan untukmu. Lebih dari kutitipkan, kuberikan untuk satu-satunya cinta yang kukira semua akan baik-baik saja.

        Bukankah sudah ku tau bagaimana kedepannya. Aku selalu berharap bisa menjadi lebih, yang kau juga akan selalu perjuangkan untuk tetap bersamaku. Tapi semua tak semudah pengharapanku. Perjuangan ku untuk dapat selalu bersamamu malah menghilangkan keakuanku. Aku terlalu jauh mengikuti langkahmu. Samar-samar kuterka jalan kembaliku. Aku tersesat dalam duniamu. Aku rindu, aku rindu serindu rindunya pada jalan pulangku . Aku ingin pulang pada duniaku. Pada duniaku. Hidupmu bukan lah jalan kembaliku. Dan aku tak mungkin pada jalan yang bukan jalan kembaliku.  Tak mungkin pada jalan yang tak membawaku pulang kerumahku.

       Aku tersesat. Aku tersembunyi pada potongan-potongan mozaik akan kecintaan untukmu. Aku tak mampu menerka habis teka-teki hidup yang kujalani bersamamu. Langkah demi langkah semakin membawaku jauh. Menghilangkan jejak-jejak kembaliku. Aku terbawa. Semakin tak menau arah yang ku tempuh. Memburamkan pikiranku, melumpuhkan logikaku. Aku hilang dalam kisah kita. Aku menyerah. Satu langkah yang pasti. Pergi. Aku memilih pergi untuk kembali pada aku yang seutuhnya.

    Kini, tak pernah ku tau apa yang harus ku tangisi ketika aku memilih pergi untuk kembali pulang kerumahku. Jangan pernah tanya seberapa menyakitkan untuk melepaskan. Jangan pernah tanya mengapa aku memilih hal yang lebih menyakitkan. Hal yang perlu kau tau saja, semakin aku jauh pergi, semakin banyak langkahku berlari, maka sebegitu juga aku mencintai. Sebegitu juga aku menyayangi. Percaya lah..

    Cinta memang begitu, tak pernah berpihak pada yang ku mau. Cinta selalu begitu, tak akan pernah seperti apa yang ada dipikiranku. Dan entah mengapa ada cinta yang terlintas bagitu saja pada kita. Begitu saja dan merubah semuanya. Ahh sudah berapa kali aku mengenal cinta dan ini untuk pertama kalinya kukibarkan bendera menyerah. Membisu pada keadaan kita. Dan menyerahkan pada yang Maha Cinta. Entah apa rahasia dibalik perkenalan kita. Entah apa makna perkenalanku ku denganmu, denganmu yang tak mungkin menyentuh garis kehidupanku, tapi malah bertemu tepat pada satu waktu.

         Seandainya saja aku bisa meminta. Kau seharusnya sesederhana hujan- hujan manja dikala senja, yang enggan menetes bersama-sama. Menyejukkan dan tak membuatku merasa takut. Kau seharusya hidup dalam jalan pulangku. Dimana kau adalah rumah tempat ku kembali, tinggal dan berdiam selamanya. Kau seharusnya jalan yang tak menghilangkan siapa aku, jalan yang mententramkanku dalam likunya kehidupan yang semu. Kau seharusnya apa yang dapat dengan seisi hati kupertahankan tanpa melukai diri sendiri.

  Seharusnya cinta kita dapat membaikkan ku. Membaikanmu dan membaikkan cerita masa lalu kita. Seharusnya kau ada dalam cerita cinta dimana aku lah dalangnya. Bukan aku yang hidup dalam cerita cinta dimana kau adalah penyusunnya. Kau seharusnya mampu menyelamiku bukan untuk menenggelamkanku dalam samudera yang airnya tak pernah kusentuh.

    Namun tak mungkin kupaksakan untuk merubahmu sejalan dengan aku. Lelah, terlalu lelah aku menyesali diri untuk semua yang telah kita lewati, yang membawaku semakin mencintaimu. Tapi aku tak mungkin memilih lain dari ini. Aku ingin pergi. Aku ingin bebas mencintai ntah dari sudut apa yang ku cari. Maka biarkan aku mencintaimu dengan   hal yang sama saja juga menyakitkan diriku sendiri. Melepaskan. Maka biarkan aku mencintai tanpa meninggalkan apa yang tak mungkin kutinggalkan.

        Terakhir kali kuberitahu padamu. Kuungkapkan segala apa yang tertahan. Demi langkah-langkah yang tak pernah putus akan bayangmu. Demi senja-senja yang tak pernah hilang akan tawamu. Demi malam-malam yang tak pernah senyap akan suaramu. Dan demi hati yang selalu menahan akan keraguaanku. Aku mencintaimu. Dengan segenap hatiku. Dengan segenap yang telah bersih akan masalalu. Seutuhnya mencintaimu. Hanya kamu.

     Kau adalah orang yang kucintai setulus hati. Orang yang paling kusayangi dari segenap rinduku. Orang yang dengan menyerah ku pintakan namanya dalam doa-doaku. Orang yang takut untuk dijauhkan dariku. Orang yang kutinggalkan tapi tak mau untuk dihilangkan.Orang yang entah bagaimana caranya selalu ku inginkan untuk tetap disisiku ketika telah kutinggalkan. Orang yang masih kupintakan pada Tuhan untuk dijalankan pada jalan pulangku. Orang yang ku mohonkan agar Tuhan dapat merubahkan kehidupanmu bersamaku. Orang yang ku lepaskan karena kecintaan yang terlalu. Kau adalah orang yang kutitipkan bahagia ku. Tuhan, semoga ada yang lebih baik dari segala hal yang menyedihkan. Aku mencintaimu. Cukup. Bahagialah selalu...

By : Cima on 9th of February 2016.

Untuk kecintaan yang selalu ku sembunyikan, Achmad Fauzi Hasibuan. 


Jumat, 14 November 2014

Untitled

Tiba-tiba saja aku berdiri disini. Aku terkejut. Dari mana asalnya, darimana saja aku hingga terdampar ditempat ini. Apa yang telah kulewati hingga membawaku kesini. Aku mencoba mengingatnya. Berusaha keras, sekeras melupakannya. Tapi rasanya semua tak berawal, begitu saja, ntah dari mana jalannya aku berdiri disini. Ntah dimana.
Ntah tempat apa yang sekarang kusinggahi.  Kutatapi sekelilingku, kuamati tiap sudutnya. Hanya kutemukan gedung disini. Kupalingkan wajahku berkali-kali, tak kutemukan siapapun untuk bertanya. Ahh seperti kota mati saja.
Perlahan aku mulai berjalan mendekati gedung itu. Terlihat papan bunga dihalaman depan, mungkin sedang ada acara didalamnya. Dengan tatapan kosong, pikiran ku semakin hampa. Aku berjalan saja menuju papan bunga itu. Aku meraba-raba tulisannya. Aku bertingkah sangat aneh. Tapi aku juga tak berpikir mengapa aku bertingkah seaneh ini.
Aku tak membaca isinya. Aku hanya meraba-raba saja hingga akhirnya tanganku tertusuk jarum yang ada disana. Tak berapa lama tanganku telah dipenuhi darah. Sontak saja itu membuyarkan lamunan dan pikiran kosongku. Dengan segera aku berjalan menjauhi papan bunga itu. Aku mulai berjalan keluar dari tempat aneh ini.
Selangkah lagi langkahku menuju gerbang keluar, ntah pikiran apa yang mendorongku hingga akhirnya aku menolehkan pandanganku sekali lagi kebelakang. Kuamati sekali lagi papan bunga yang menyakitiku tadi. Kuamati perlahan-lahan dan baru ku baca. Benar dugaanku, memang ada acara, tepatnya acara pernikahan. Kubaca nama mempelainya. Rahaka Nugraha . Sontak saja nafasku seperti terhenti.
Aku mulai mendekati papan bunga itu lagi. Ku baca kembali nama dipapan bunga itu. Memang benar-benar nama lelaki yang sekeras itu kulupakan. Dipapan bunga itu dia bersanding dengan wanitanya. Wanita yang belakangan kutahu adalah kekasihnya. Ahh. Aku hampir terduduk lemas. Kakiku rasanya tak bisa lagi menahan berat tubuhku. Tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
Dengan langkah gontai, tergesa-gesa dan tubuh gemetar aku berjalan kedalam gedung . Tepat didepan gedung itu dapat dengan jelas kusaksikan tubuh kurus tinggi dibalut kemeja putih dan jas hitam, rambut ikalnya ditimpa peci hitam. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Dia sedang berjabat tangan dengan lelaki paruh baya berpeci didepannya.  Disampingnya kulihat wanita itu. Dia berbalut kebaya putih-putih. Rambutnya tersanggul rapi dan ditutup selendang putih.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku hanya bisa berdiri terpatung disini. Aku mencoba memanggilnya. Sekuat tenaga, sekuat aku membencinya. Tapi ntah kenapa aku tak bisa bersuara. Kupanggil berkali-kali. Tapi mungkin sia-sia karna sama sekali suaraku hilang begitu saja. Aku tertunduk mulai putus asa. Airmataku terjatuh membasahi tanah. Aku berusaha menghapusnya.
Aku tak punya daya mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari sini. Panggilan tak bersuaraku tentu saja tak bisa didengarnya. Tiba-tiba dia bangkit. Ntah apa yang dikatakan kepada lelaki paruh baya itu dan wanitanya. Dia berdiri dan berjalan keluar. Aku tak menyadari tiba-tiba saja dia telah dihadapanku dan menarik tanganku. Dia membawaku kehalaman belakang gedung . Di menyuruhku duduk disampingnya.
Dia mengangkat kepalaku yang masih saja tertunduk. Mataku sudah terpenuhi airmata dan mulai sembab. Aku tak bisa menghentikannya.
"Udahlah, kitakan udah lama berlalu. Jangan ditangisi lagi."
Suaranya memecahkan tangisanku. Membuat aku semakin tak bisa menahannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Sejadi-jadi tiap malam aku merindukannya. Tubuhku makin tak berdaya. Nafasku tertahan, isakanku makin menggema.
Dia menarik tanganku, menatap mata sembabku. Aku semakin saja rapuh, tubuhku melayu, benar-benar tak berdaya dihadapannya. Lalu dia menarikku dan merangkul tubuhku. Dia menyandarkan kepalaku kedadanya. Aku makin saja menangis dipelukannya.  Air mataku semakin  tak bisa dihentikan. Isakanku semakin menjadi. Tak ada yang bisa kukatakan. 
" Udah, tenanglah. Kitakan udah berlalu lama. Kenapa masih ditangisi kek gini lagi."
Katanya sambil mengusap-usap kepalaku. Aku tak peduli. Aku masih saja menangis sejadi-jadinya. Dadaku serasa sangat sesak. Sakit saja rasanya. Masih benar-benar terasa luka perpisahan beberapa tahun lalu.
"Aku juga gak kebayang nikah muda. Ahh aku masih dua puluh tahun pun. Bayangin aja 5 tahun lagi pun aku masih 25 tahun. Udah nikah, udah punyak anak lah itu. Ahh Gak taulah . Kok uda nikah gini aku ya"
Kata-katanya bisa saja membuatku ingin tertawa ditengah tangisan yang sangat menyedihkan ini. Aku juga tak habis pikir tentang itu. Setelah bertahun-tahun kami tak pernah bertemu kini dihadapanku dia telah menjadi lelaki wanita lain. Dia akan menikah. Pernikahannya adalah perpisahan kami yang tak akan mungkin menyatu lagi. 
Aku masih saja menangis dipelukannya. Dia memang benar. Kami telah berlalu benar-benar lama. Tapi ntah mengapa. Sakitnya masih benar-benar terasa. Dia masih saja serasa milikku. Rasanya baru saja kemarin dia memelukku dan kudengar degupan jantungnya. Detakan kehidupan. Waktu begitu cepat berlalu.
Rasanya tangisanku tak akan menemukan ujungnya. Bagaimana bisa aku merelakan kehilangannya yang benar-benar hilang, tak akan ada lagi. Ahhh Hingga sehampa apa lagi yang akan aku rasakan. Hingga berapa lama lagi aku hidup yang tak hidup. Hingga kapan aku terkurung ntah dimana , tak pernah kutahu jalan kembalinya. Bagaimana aku akan melewati semua ini tanpanya. Bagaimana lagi aku menanti jika penantianku telah diberhentikan. Akan kemana aku pergi. Ya Allah aku telah diujung harapanku.
Aku benar-benar tak mampu mengatakan apapun untuknya. Aku ingin saja tetap berada dipelukan ini selamanya. Bagiku perpisahan kami yang lalu belum bagian akhir dari kisah kami. Kami belum berakhir, belum benar-benar berakhir. Inikah pengakhiranku, pengakhiran sekian lama penantianku.
Tak berapa lama seseorang datang dan memanggilnya. Dia segera menarik badannya dan merapikan jasnya. Aku menarik tangannya. Aku masih saja menangis. Isakanku tak mau berhenti. Nafasku makin saja terengah-engah. Aku benar-benar tak mau dia pergi. Kita belum berakhir, kita belum berakhir.
" Udah tenang ya. Aku mau kesana. Aku harus selesaikan pernikahanku dulu. Aku pergi ya"
Kemudian dia pergi dan meninggalkanku. Aku menangis sederas-derasnya. Sederas hujan di November yang kuhabiskan tanpanya. Dadaku makin  sesak dan terasa begitu sakit. Jantungku berdegup tak beraturan. Tubuhku menggigil. Dingin. Sedingin hati yang tak pernah tersentuh cinta lagi.
Aku tak tahan. Aku benar-benar tak kuat lagi. Aku teriak sekuat-kuatnya. Sekuat cinta ini yang tak pernah memudar untuknya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Aku tersentak. Aku terduduk di tempat tidur. Mimpi itu membangunkan tidurku. Aku baru tersadar itu hanya mimpi. Itu mimpi. Tapi sakitnya benar-benar terasa. Sesakit merindukan sosoknya yang tak pernah ada lagi. Kemudian aku menenangkan pikiranku.
Kulihat jam weker yang berdiri gagah disamping fotonya. Masih pukul 03 pagi. Aku memilih untuk beranjak dan tak ingin tidur lagi. Aku berdiri di balkon kamarku. Mataku jauh menerawang. Ntah apa yang kupikirkan. Aku merindukannya.  Hampa.
Angin berhembus. Rintik-rintik hujan mulai terasa.  Aromanya menenangkanku sejenak dan mendinginkan amarahku. Sekilas aku melihat bayangan hitam didepan gerbang rumahku. Hujan yang makin mengguyur membuyarkan bayangannya. Samar-samar kulihat dia tersenyum. Aku ingat senyumannya. Aku benar-benar memahami setiap simpul senyum itu.
Aku segera berlari kebawah. Membuka pintu rumah dan keluar menemuinya. Hujan makin saja derasnya. Sederas tangisanku kali ini. Langkah ku terhenti tepat dihadapannya. Aku menikmati setiap pancaran diwajahnya. Air mataku bercampur dengan hujan kala ini. Tangisanku makin saja tak terbendung. Lebih hebat dari hujan ini. Isakanku berlomba dengan gemuruh deru hujan .
Dengan segera aku memeluknya. Seerat-eratnya. Seerat dia berdiam dipikiranku selama ini.
Aku menangis, lagi-lagi hanya bisa menangis.

" Bawa aku pulang ka. Bawa aku pulang"
I can't say anything

Senin, 05 Mei 2014

Ketukan Pintu

Ketukan Pintu


Mataku masih saja tak mau terbuka. Aku berada diantara mimpi dan nyata. Suara ketukan pintu makin keras saja. Semakin lama semakin berirama untuk menarikku sepenuhnya pada kehidupan nyata. Aku masih lelah, masih sangat lelah. Hari ini telah menyita hampir seluruh akal dan jiwa. Aku masih ingin tertidur dan membaringkan seluruh raga dengan indah. Atau mungkin itu hanya suara ketukan pintu yang bersumber dari mimpiku saja. Ahh kurasa begitu, hingga akhirnya mataku tetap urung kubuka.
Antara mimpi dan nyata itu, kudengar kembali ketukan pintu. Ini sudah yang keempat kali dan kali ini kudengar samar-samar sisipan namaku diantara ketukan pintu itu. Aku masih menutup mata, yang benar saja kurasa suara itu memang tak  berasal dari mimpiku. Sekuat tenaga aku mengumpulkan sisa-sisa energi untuk membuka mata. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku membuka mata.
Kulihat jam wekerku masih menunjukkan angka 01.32, benarkah tanyaku dalam hati. Masih selarut ini sudah ada saja yang mengunjungiku. Takkah dia tahu adat bertamu hingga aku merasa terganggu. Tapi apakah mungkin ada mahluk yang kiranya berasal dari dunia lain punya kepentingan mendesak denganku. Atau memang benar, itu tingkah usil mahluk dunia lain saja yang ingin mengganggu jam istirahatku. Masih selarut itu dan aku urungkan beranjak kedepan untuk membuka pintu.
Ketukan pintu itu kembali mengagetkanku yang masih terduduk diatas tempat tidur untuk mengumpulkan seluruh nyawa kesadaranku. Suara samar-samar yang memanggilku itu kembali berbunyi dan disahut dengan ketukan pintu lagi. Usil benar pikirku jika itu hanya wujud dunia lain.  Tak mungkin dia mau bersabar menunggu didepan pintu. Bukankah dia dapat dengan mudah menembus tembok rumahku dan menghampiriku. Tapi entahlah,  aku makin penasaran saja siapa yang tampaknya sangat berkepentingan denganku malam ini, malam selarut ini, di 01.32 ini. 
Akhirnya aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keruang depan. Sepuluh langkah lagi jarakku meraih pintu, suara ketukan pintu itu kembali terdengar sambil menyertakan namaku. Spontan aku meresponnya dengan ucapan "Iya sebentar ya" kemudian dengan segera kuraih pintu . Sebelum membukakan pintu, kuintip sebentar siapa ternyata yang ada dibalik pintu . Tapi sayangnya dia membalikkan badan. Posturnya tinggi, kurus, memakai jeans biru dongker dan kaos hitam polos dengan sweather dilengan kanannya.   Sepertinya aku kenal dengan sosok ini, tapi sudahlah aku tak terlalu berniat untuk menerka itu siapa.
Dengan segera kubukakan pintu depan itu. Dengan wajah yang masih diantara mimpi dan nyata, dengan rambut yang masih terurai tak terarah, dengan baju tidurku yang sudah kusut bentuknya dan dengan mata yang tampak lelah luar biasa, kudapati wajah lelaki itu dengan senyuman yang menyergap jantungku seketika saat dia membalikkan tubuhnya. Aku seperti mendapat surprise yang bisa benar-benar memberhentikan detakan jantungku saat itu juga. Wajahku kaget tak percaya, dan dia masih saja tersenyum penuh makna. Masih tersenyum dengan senyum yang dulu pernah membuatku begitu terluka.
Benarkah ini terjadi , nyatakah sosok didepanku ini. Aku masih saja terdiam tak percaya, atau aku memang berada di dunia tak nyata. Aku masih saja memandanginya terbata, memperhatikan setiap detail sosok didepanku dari ujung kaki , menyusuri tubuhnya yang lebih tinggi dari aku, hingga keujung kepalanya dengan rambut yang masih saja ikal. Tak banyak yang berubah darinya, hanya saja kulitnya yang lebih bersih dari dua tahun lalu. Sosok dua tahun lalu yang benar-benar pergi dari hidupku, yang hanya bisa kutemu didalam mimpi kini hanya berjarak 30 senti dari tatapanku. Bukankah ini mimpi.
Wajahnya seketika berubah rona. Senyumnya kembali ia sembunyikan. Kali ini dia yang benar-benar memperhatikanku. Dia menatap dalam mataku sedalam tatapan matanya lebih dari dua tahun lalu. Dia juga masih terdiam dalam tatapan matanya. Kami masih sama-sama terdiam dalam dunia tak kepercayaanku didepannya. Hingga akhirnya tangannya yang mengusap lembut rambutku sambil berkata "Apakah aku mengganggu tidurmu" membuyarkan lamunanku.
Apa yang baru saja dilakukannya. Untuk apa dia kembali mengusap-usap lembut kepalaku seperti yang dulu sering dilakukannya hampir enam tahun lalu. Untuk apa dia masih melakukannya setelah hampir dua tahun ini dia malah  sama sekali tak peduli  kabar isi kepalaku ini. Aku masih saja terdiam tak menjawab tanyanya. Aku masih tak percaya siapa sosok didepanku , benarkah dia sosok itu ? Sosok yang hampir dua tahun ini tak kutahu kabar dan keberadaannya.
Dia juga ikut terdiam melihat aku yang masih saja setia membisu. Untuk beberapa saat dia masih saja menatap mataku sambil memainkan beberapa ekspresi yang tak bisa ku terka apa maskdunya. Aku masih berbicara dalam kediaman itu. Ada banyak percakapan yang kami utarakan lewat hati, ntah apa  yang kami permasalahkan kala ini. Banyak, terlalu banyak. Rumit.
Pelan-pelan kulihat dia memberanikan diri untuk mengajakku berbicara. Tapi lagi-lagi katanya mengagetkanku.
" Ma, punya waktu sebentar. Aku butuh kau. Bener-bener butuh"
 Aku masih saja tak bisa menjawab pertanyaanya. Kata-kata yang baru saja diucapkannya masih terngiang di telingaku. "Ma . . " Panggilnya untuk ku yang  benar-benar tak pernah ku temui dua  tahun ini, membawaku kedunia enam tahun lalu saat awal mula mengenalnya.
" Ma, bisa sebentar ikut aku, banyak yang mau ku bilang samamu. Terlalu banyak. Kuharap aku punya cukup waktu untuk bilang semuanya sama mu "
Aku tetap terdiam. Ntah apa maksud lelaki ini. Setelah menghilang begitu saja kini tiba-tiba menghampiri dan ingin membawaku pergi. Aku benar-benar tak punya jawaban untuk semua tanyanya. Hingga saat ini, akhirnya kucoba menatap dalam matanya seperti enam tahun lalu. Ntah mengapa, tatapan mata ini selalu kutemui saat aku merasa terlukai karena tingkahnya tapi malah tetap bisa meyakini bahwa dia benar-benar menyayangiku. Sinar matanya kulihat selugu dulu, selugu ketika dia ingin mencium keningku tapi akhirnya dia mengurungkannya lalu mengusap-usap lembut rambutku sambil berkata aku akan menjagamu. Ahh betapa konyol kami dulu.
Dia menganggukkan kepalanya merayuku. Aku masih terdiam. Dia kembali menganggukkan kepalanya tanda memaksaku. Tapi kali ini anggukannya tanpa seyum dan kedipan manja matanya seperti dulu. Dia tampak lebih serius dan benar-benar mengharapkan aku ada untuknya kali ini.
Aku masih saja mempercayai tatapan matanya hingga akhirnya aku mengunci pintu rumah sambil berjalan kearahnya. Dengan segera dia mengeluarkan kunci motornya dan membawaku berjalan menuju motornya. Sebelum dia membawaku pergi, tiba-tiba dia memakaikan sweathernya kepundakku dan menarik lenganku untuk dimasukkan ke lengan sweather hitamnya itu. Malam ini cuaca memang terasa lebih dingin, tapi aku benci. Aku benci karena dia mengenakan sweathernya ditubuhku.
Dia menghidupkan motornya lalu membawaku pergi ke suatu taman yang pernah kami kunjungi bersama tiga tahun lalu. Dia mencari posisi yang tepat untuk menyampaikan apa yang sudah dipendamnya dari tadi. Kami berhenti di pinggiran danau dan duduk tepat dibawah lampu yang dulu pernah menyinari tawa kami  tiga tahun lalu.
Angin usil menyerbu lembut hingga kurasa makin dingin saja. Kami duduk bersampingan dan ini benar-benar kembali mengingatkan kenangan yang selama dua tahun ini selalu ingin kulupakan. Akhirnya dia memulai pembicaraan yang hampir dua tahun ini tak pernah ku temui.
" Ma, masih ingat tempat ini ?  " Tanyanya pertama kali.
Aku diam. Aku hanya terdiam. Tak banyak yang mau kubicarakan. Rasanya aku sudah benar-benar lelah berbicara dalam doa selama ini.
" Ma, tidak kah kau merasa hampa selama hampir setahun lebih ini ?."  Sambungnya sambil menatap kearahku. Dia mulai berbicara serius padaku. Tapi  ahh pertanyaan gila. Untuk apa dia menanyakannya. Aku tak mau menjawab. Aku tak mau menjawab.
" Udahlah, uda waktunya aku jujur sama perasaanku sendiri untukmu. Kau tau, selama hampir satu tahun ini sepertinya aku merasa hampa. Aku tak tau hampa itu bagaimana definisinya. Jelasnya aku merasa hidupku biasa-biasa saja, tak banyak yang tampak istimewa untuk hatiku. Hari-hari ku datar, gitu-gitu aja. Sampek akhirnya aku merasa kehilangan feel tersendiri untuk kehidupanku. Aku gak punya tujuan. Aku gak tau aku mau kemana.Setahun lebih ini aku tersesat dan yang kurasa hanya hampa. "
Keadaanku masih saja hening. Aku menggerutu dalam hati, kau memang lelaki tak berhati. Kau hanya merasakan setahun lebih ini kehampaan tanpa melihat aku. Aku, aku yang sebenarnya telah merasakan hampa ketika 4 tahun lalu kau putuskan untuk mengakhiri dan 2 tahun lalu kau putuskan untuk benar-benar pergi. Kau tak pikirkan selama apa hampaku yang hampir 6 kali lipat dari kehampaanmu. Tidakkah kau mengerti.
" Kadang aku teringat samamu. Aku kangen samamu. Awalnya kukira yah wajar saja aku merindukan wanita yang pernah begitu setia disampingku selama bertahun-tahun. Tapi akhir-akhir ini aku makin  saja merindukanmu lebih dari biasanya. Aku kangen sama suaramu yang gak bisa pelan, kangen sama marah-marah mu yang luar biasa, kangen sama larangan-laranganmu, kangen sama semua aturanmu , kangen sama permintaan anehmu dan kangen sama cerwet-cerwet mu, tingkah berlebihanmu. Aku kangen. Kangen kali."
Iss dasar lelaki yang benar-benar jahat. Tak adil, tak adil. Selama ini dia hanya teringat dan merindukan aku terkadang saja. Terkadang ingat terkadang lupa. Sementara aku, aku selalu, garis bawahi kata selalu. Aku selalu mengingatmu. Aku selalu merindukanmu. Kau jahat. Aku tetap terdiam. Aku mau tetap terdiam. Kata-kataku terlalu banyak untuk disampaikan.
" Tau , Aku kangen hidupku dulu dengan banyak laranganmu, aku ngerasa berwarna meski selalu dibawah marah-marahmu dan aku ngerasa ada karena semua permintaan aneh-anehmu. Aku baru sadar, bahwa aturan-aturanmu, tuntutan-tuntutanmu, bukan karena kau tak bisa menerimaku, tapi tak lebih untuk kebaikanku. Aku kehilangan kau, orang yang benar-benar peduli tentangku . Aku kehilangan itu semua hampir dua tahun ini. Aku kehilangan apa yang membuatku hidup selama dua tahun ini. Bukankan itu hampa?"
Aku tetap saja terdiam. Ntahlah , rasanya aku sudah tak perlu banyak bicara. Kata-kataku nanti akan terlalu sulit dia pahami. Dia tak kan pernah mengerti.

" Ma, bicaralah. Katakan semua yang kau rasakan selama dua tahun menyebalkan ini. Seandainya waktu bisa kembali, dulu tak seharusnya aku melepaskanmu dan berhenti berjuang untuk kita. Aku salah, aku terlalu buta untuk membaca semua cinta tulus yang kau punya. Aku salah, aku menyesal. Benar-benar menyesal. "
Kali ini tak ada yang ingin kutanggapi. Bukankah penyesalan selalu datang belakangan. Tapi tak guna penyesalanmu. Semua takkan bisa membawa kita kemasa lalu untuk mempertahankan kisah-kisah itu.
Dia menatapku dalam, sangat dalam.
" Masihkah kau percayai cinta? Cinta kita tepatnya " Tanyanya yang benar-benar menusuk hatiku. Aku tak tahan lagi. Dengan begitu saja airmata itu mengalir kemudian aku tertunduk menghalau tatapannya. Pertanyaan yang kembali membuka luka lama. Bukankah dulu hingga  detik ini aku masih percaya akannya. Bukankah dia yang nyatanya mengingkari cinta itu selama dua tahun ini. Kau seharusnya tak menanyakan itu padaku, tanyakan pada dirimu sendiri. 
" Tidakkah kau bertanya mengapa dengan sangat tiba-tiba selarut ini aku menemuimu dan membawamu pergi? "
Aku tersentak dengan tanyanya kali ini. Aku menatap kembali matanya. Itulah pertanyaanku sedari  saat pertama melihatnya membalikkan badan di depan pintu .
" Cinta telah memanggilku. Sebenarnya akhir-akhir ini aku udah sering terbangun malam keinget kau. Kau orang yang pertama kali kupikirin ketika aku bangun dari tidurku. Dan kau satu-satunya yang membuat tidurku selalu terganggu. Sudah hampir dua tahun berlalu. Tapi ternyata masih ada saja rindu untukmu. Selama itu aku berusaha kembali menghubungimu. Aku mencari keberadaanmu hingga menemukan alamatmu. "
Aku melihatnya tak percaya. Baru kali ini akhirnya dia merasakan yang dulu kurasakan sejak dia memilih pergi.
Dia menyambung lagi kata-katanya " Tadi aku juga sudah tertidur. Lagi-lagi tawamu mengagetkan tidurku dan membangunkanku. Ntah mengapa, detakan jantung yang lebih cepat dari biasanya, detakan jantung seperti saat pertama kali aku memelukmu, sekarang kurasakan lagi setelah sekian lama tak pernah ku temui. Aku gelisah. Aku kahwatir tak biasa. Ada yang mengejarku dalam hati. Ada yang seolah menyuruhku pergi hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuimu. "
Aku masih terdiam, tapi kali ini aku sedikit lega telah temukan jawabnya. Aku menyeka airmataku.
"Ma bisakah kau kembali pada rumahmu. Bisakah kita kembali menghuni rumah itu. Masih bisakah kita tata kembali cinta yang pernah kita perjuangkan bersama. Pulang lah padaku. Pulanglah."
Aku kembali menjatuhkan airmataku. Takkah dia pikir siapa yang pergi dan siapa yang harus kembali. Sesulit itukah cinta ini hingga dia sama sekali tak pernah mengerti.
" Tak semudah itu membangun rumah yang sudah porak poranda ditinggal penghuninya. Tak semudah itu temukan jalan pulang setelah sekian lama tersesat jauh berkelana. Mengerti. " Akhirnya aku berbicara untuk pertama kalinya sambil bangkit dari tempat dudukku dengan nafas yang terengah karena tangisanku. 
Dia menahan langkahku.
" Bukankah kau juga merindukan semuanya. Bukan kah kau juga merindukan tawa kita bersama. Ingat pertama kali aku mengantarmu pulang dibawah rintikan hujan itu. Ingat pertama kali aku yang tak pernah bisa menatap matamu. Ingatkah aku yang selalu setia ada untukmu. Ingat aku yang selalu menuruti semua permintaan tak masuk akalmu. Bisakah kita ulangi semua itu ? " Tanyanya yang membuat aku semakin rapuh.
" Jangan bawa aku kembali pada kenangan masa lalu. Aku sudah tidak tinggal disana. Satu saja yang ingin kutanya. Masih ingatkah kau yang lebih memilih pergi dan tak percayai semua perjuangan cintaku selama ini?" Aku menangis. Aku kembali menangis.

" But hold your breathe. Because tonight will be the night that I will fall for you. Over again, don't make me chance my mind. Or I will live to  see another day, I swere It's true beacuse a girl like you is imposible to find you're imposible to find. "
Tiba-tiba dia bernyanyi. Ntah apa maksudnya. Dia menyanyikan lagu itu, lagu yang dia tahu sangat kusukai semenjak dia memilih pergi. Dia menyanyikannya dan kemudian menarik tanganku. " Sudahlah. Aku terlalu lelah tanpamu. "
Aku kembali terdiam. Dia masih tak mengerti dengan semua yang telah terjadi sampai sejauh ini. Dia menjatuhkan tubuhnya. Berlutut memohon padaku.
" Maukah kau menemani hari-hariku kembali. Maukah jadi wanita yang setia berdiri disampingku memperjuangkan semuanya kembali seperti dulu. Maukah percayakan hatimu padaku lagi. Aku mau kita kembali. Aku jatuh cinta lagi padamu. Jangan buatku semakin gila. Bisakah kita ulang semua dan hiduplah lebih berarti bersamaku. " Pintanya sambil menggenggam erat tanganku dan menatap mataku.
Aku terdiam. Untuk beberapa saat aku teringat kisah-kisah dulu. Kenangan itu mengejarku dan juga ikut memohon untuk diperjuangkan kembali.
" Ma, beri aku kesempatan. Sekali lagi. Hari ini, esok dan seterusnya bahagialah bersamaku. "
Aku masih terdiam untuk beberapa saat. Namun kali ini aku telah menemukan jawabnya.
" Kau bisa saja mengetuk pintu rumahku malam ini, kau bisa saja berkali-kali mengetuknya. Tapi sesaat  kau lebih memilih pergi dan mengunci hati ini, kau tak kan pernah bisa mengetuknya kembali. Kau tak berhak mengetuknya. Kau tak berhak. Tolong pahami. "
Ada banyak yang harus kau pelajari kembali. Tentang aku, tentang cintaku. Cintaku akan selalu sulit untuk kau mengerti, hingga saat itu, saat dimana kepergianmu , aku telah meneyederhanakannya. Tak perlu memilikimu karena kurasa cinta lebih dari itu semua,  bukan sebatas perkara hidup bersama. Cinta adalah satu hal  yang tak pernah bisa aku jelaskan.

Minggu, 06 April 2014

Tanggal 6 Untuk Terakhir Kalinya




Ya Allah, sudah tanggal 6 lagi. Masih ada saja tanggal 6 ini di kalender ya. Bisakah tanggal 6 ini tiba-tiba menghilang dari tiap bulannya. Satu tanggal saja, sudah sudah cukup. Tapi  akankah bulan-bulan  tetap seperti sedia kala jika menghapusnya. Apa salahnya dengan tanggal 6 itu. Bukankah tetap saja tanpa tanggal 6 tak sempurna. Tanggal 6 harus ada dan akan tetap ada di sana tanpa bisa aku menghapusnya.
Sepertinya tak habis-habis masalahku dengan tanggal 6 ini. Ahh tanggal 6 yang dimulai dengan cinta berakhir masalah adalah bencana. Tapi sudahlah, tak perlu kupermasalahkan lagi jika masih tetap ada dan akan selalu ada tanggal 6 ini. Biar saja dia masih selalu tertulis di tiap bulannya. Biar saja dia masih berdiri anggun disana, aku tak peduli. Bagiku, karena bagiku, taggal 6 itu tak akan pernah ada lagi. Tanggal 6 akan terhenti disini. Tanggal 6 sudah tak perlu kuhitungi lagi, dan ini tanggal 6 untuk terakhir kalinya. Tanggal 6 yang hanya sanggup kuhitungi hingga keempat puluh satu bulan lamanya.  
Taanggal 6 lagi tanggal 6 lagi~
Tanggal 6  ini, tanggal 6 yang terakhir kalinya , apa kabar dia yang disana. Kuharap tawa dan bahagia selalu mendamaikannya. Terpenting dia  baik-baik saja tanpa aku disampingnya. Setidaknya hanya itu yang kini mampu kuharapkan akan keadaanya. Tak ada lagi, benar-benar tak ada lagi keinginanku untuk menghabiskan seharusnya 41 bulan usia kebersamaan kita.
Taukah, tapi sebenarnya juga dia tak perlu tau, aku masih saja terbalut rindu hingga tanggal 6 ini.  Aku dikelilingi  dalam bilik yang dipenuhi  kasih dan rindu untuknya. Kurasa sudah tak ada lagi tempat yang bisa kudiami tanpa basuhan rindu. Terkadang serasa tak adil, ketika rindu langit akan tetesan-tetesan air hujannya kini sudah mulai sering terobati, tapi apa kabar rinduku ini. Ntah kapan rinduku bisa seperti rindunya langit yang telah terobati itu. Nth kapan rinduku ini bisa terselesaikan. Tak adil bukan.
Namun, beberapa waktu kemarin, aku lupa kapan tepatnya, serasa rindu itu temukan polanya. Dia boleh saja tetap merasuki, tapi akhirnya Tuhan mengerti dan menutupinya. Dini hari itu , aku masih saja terbangun dan lagi-lagi teringat dia yang disana. Kupilih untuk menyalakan telivisi karena kutau pagi ini team kebanggaannya Real Madrid bertanding dengan Barcelona.
Sebenarnya aku tak terlalu perlu untuk menontonya, tapi kurasa aku bisa mengurangi rindu-rindu itu jika menontonya. Dia serasa dekat denganku karena kami pasti ada dalam  tontonan tayangan yang sama. Bukankah itu sudah jarak yang cukup dekat untukku.
Ahh, tapi  kenapa tim kesayangan kami malah terkalahkan dengan skor 3-4 untuk Barcelona. Dia pasti kecewa, aku juga ikut kecewa untukknya. Malam itu kami juga berada dalam kekecewaan yang sama dan lagi - lagi itu jarak yang cukup dekat buatku. Yah karena setelah subuh itu pertandingan berakhir aku kembali ambil bagian tidurku yang tersita tadi.
Dalam tidurku untuk keduakalinya itu, dia akhirnya berkunjung dimimpiku. Ntah bagaimana alur mimpiku, aku lupa. Tapi tiba-tiba aku memeluknya. Aku bisa memeluknya lewat mimpi itu dalam balutan rindu . Dan taukah, rasa  pelukan itu sehangat pelukan pertama kalinya untuk ku. Pelukannya masih saja  sehangat itu. Pelukan  yang membuatku benar-benar nyaman  dalam keadaan apapun. Pelukan yang mampu menenangkan kegelisahanku. Pelukan yang kurasa benar-benar nyaman hingga dapat menghapus semua kesedihan akan kekecewaan.  Pelukan inilah yang kurasa benar-benar rumah yang kurindu itu. Aku ingin pulang, kembali  dan tinggal disini selamanya.
Tapi  akhirnya aku terbangun dan ini tak lebih dari mimpi. Aku baru tersadar ini hanya mimpi. Pelukan ini hanya mimpi yang terasa begitu nyata. Jika saja aku sadari ini hanya mimpi, maka aku pasti tak mau bangun lagi tadi. Dan memang benar, betapapun singkatnya pelukan yang hanya terjadi dalam mimpi, akan sangat berarti jika kau begitu merindui.
Itulah satu-satunya pelukan yang terkadang meredakan rinduku selama 2 bulan 9 hari sampai tanggal 6 ini. Sejahat itukan dia yang tak pernah terlepas dari doa-doaku, membiarkan aku mati dalam tumpukan rindu dan sepi.  Tapi aku menikmati, aku masih menikmati dan aku bahagia meski terkadang ku ingkari janjiku untuk berhenti mencintai. Aku masih berusaha untuk itu, berhenti mencintai.  Tapi entahlah, biarkan aku bahagia bersama  sisa-sisa cinta ini.
Untuk tanggal 6 terakhir kali ini, tak banyak yang ku mau darinya. Yah, rasanya mataku sudah benar-benar terbuka akan sifat buruknya hingga semua harapan telah mati bersama dia yang telah pergi. Dia pasti telah bahagia dengan jalan yang dia pilih dan aku harus mencari bahagiaku sendiri  hingga tanggal 6 ini harus ku akhiri. Tak akan ada lagi tanggal 6 untuk seharusnya usia kebersamaan. Ingatkah , 6 - November - 2010 lalu akhirnya terkubur disini, 6-April-2014. Terimakasih atas semuanya, dan aku tetap tak memiliki alasan untuk masih saja menyayanginya hingga tanggal 6 terakhir kali ini. Tanggal 6 untuk terakhir kalinya, 6 November yang telah menemukan pembaringannya. Mengharukkan. 
Tanggal 6 for the last~