Andai saja bisa ku pinta pada Sang Penguasa, bolehkah ambil semua air mata yang ku punya. Atau bolehkah sekali saja aku bersandar untuk menangis sepuas-puasnya. Aku selalu merasa lebih baik setelah menangis sehebat-hebatnya. Tapi aku pusing. Aku lelah. Aku ingin tidur, lelap dan lupa. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa pejamkan mata.
Tak ada siapapun disini. Tapi aku merasa seluruh dunia menertawakan keadaanku. Seketika aku merasa orang sebodoh-bodohnya yang ada di dunia. Seketika aku merasa mereka-mereka juara dan aku lah si pecundang yang jatuh, tersungkur dan tak akan ada yang mengulurkan tangan indahnya untuk membangunkanku.
Aku masih menangis . Masih sehebat-hebatnya.Bahkan yang ada disisiku tak akan pernah mengerti semua air mataku. Ataukah pada Hello Kitty merah jambu kusandarkan tangisanku . Karena dia tak akan mengeluh seberapa banyak air mata yang ku tumpahkan padanya tanpa bertanya mengapa. Seketika aku lega.
Diujung-ujung jemari yang selalu kau genggam, terdengar suara sendu lagu yang selalu mengantarkan kau dalam ingatanku. Aku kembali menjatuhkan air mata ku. Nanti aku bisa sakit. Tapi aku masih ingin membasahi Hello Kitty merah jambu kesayanganku..
Aku selalu bertanya-tanya, mengapa ada cinta sebaik-baiknya cinta untuk orang jahat-sejahatnya. Tapi bukankah dalam sejahat-jahatnya manusia pasti ada kebaikan didalamnya. Aku selalu percaya, hatiku selalu mau dia adalah orang terbaik yang selalu ku rasa semua baik-baik saja saat bersamanya. Semua seolah lebih baik ketika aku bersamanya. Haha, Hatiku tertipu. Sadarilah air mata yang terjatuh sebanyak-banyaknya yang bahkan dia tak ingin melihatnya.
Aku menutup mata, harap-harap cemas kumohonkan semoga ini hanya mimpi. Semoga semua yang terjadi hanya kekhawatiranku atau aku kembali ke beberapa waktu yang lalu dan merubah segalanya. Atau aku sama sekali tak pernah mengetahui semua hal yang akan menjatuhkan air mataku. Sudahlah semua sia-sia. Percuma. Ini nyata dan aku tak bisa menjadikannya maya.
Teruntuk engkau, yang saat menulis inipun masih saja mengalirkan air mataku. Tak pernah pun sekali aku berharap kau berbelas kasih. Aku tak mau mengganggumu. Aku hanya ingin kau tau. Demi senyapnya malam, demi lagu-lagu sendu di ujung telingaku, demi Hello Kitty merah jambu kesayanganku, tiada sayang yang bisa kukatakan lagi. Tiada kata lagi yang mampu kutitipkan untuk disampaikan oleh dinginnya malam seberapa sayangku untukmu. Tiada yang akan mengerti seberapa penuh hatiku akanmu.
Tapi sudahlah. Kurasa sudah cukup semua kecintaanku. Cukup tapi tak mungkin berhenti. Untukmu, berbahagialah dengan bahagiamu. Dan aku akan bahagia dengan kebahagiaanku. Aku hanya ingin menemukan hidup yang lebih baik lagi. Bahagia yang lebih baik lagi. Dan yang lebih baik adalah kehidupanmu yang lebih baik. .........
Aku sayang, sudah. Aku marah, tak bisa. Aku benci, percuma. Aku menyesal, sia-sia. Aku lupa, tak akan pernah.
Sekali saja kau goreskan luka pada wanita yang hatinya tulus penuh cinta. Dia tak akan mungkin lupa, tak akan mungkin tersembuhkan meskipun wajahnya tertawa.
Dia, siapapun dia yang tak mampu lagi kusebut namanya dalam doa, aku takut Tuhan marah karena cinta yang terlalu.
Serpihan Cerita
Selasa, 16 Agustus 2016
Kamis, 03 Maret 2016
Yang Ku Ungkapkan Untuk Kecintaan
Ntah lebih berat mana, menahan kehilangan atau kehilangan yang tertahan. Jika saja aku bertahan untuk kehilangan, tak lebih menunda kesakitan yang akan mendalam. Namun aku tak ada daya untuk menahan kehilangan andai akhirnya itu yang harus kuhadapi. Tak lebih menyakitkan dari semua keadaan. Aku berada diujung pengharapanku Tuhan.
Tak kutau, mencintaimu mungkin kesalahan yang telah merubah hidupku seutuhnya. Dari awal, aku tau apa yang akan kuhadapi bersamamu. Ahhh.. tapi rasanya aku butuh membebaskan hati untuk sedikit saja mencintaimu. Sedikit saja menjatuhkan hati. Sedikit saja, hanya sedikit saja aku ingin mencintaimu.
Waktu bergulir disamping kita. Kubiarkan aku tetap bersamamu. Banyak, terlalu banyak tawa yang kita bawa bersama. Jauh, terlalu jauh aku iringkan langkahkahku mengikuti tapakmu. Membiasakan dan terbiasa bersamamu adalah hal yang selalu membahagiakan. Melupakan bahwa aku pernah benar-benar tersakiti. Melupakan hal yang sama menyakitkannya mungkin akan terulang lagi. Melupakan siapa aku. Melupakan sebagaimana seharusnya cintaku.
Seiring waktu yang berjalan disamping mu, hati tak pernah diterka arah jalannya. Mulanya yang sedikit saja kusisihkan untuk mencintaimu, tak ku tau dari mana sebabnya ia meluas. Seutuhnya, segenap hati telah kujatuhkan akanmu. Seutuhnya, seluruh hati telah kubawakan untukmu. Lebih dari kutitipkan, kuberikan untuk satu-satunya cinta yang kukira semua akan baik-baik saja.
Bukankah sudah ku tau bagaimana kedepannya. Aku selalu berharap bisa menjadi lebih, yang kau juga akan selalu perjuangkan untuk tetap bersamaku. Tapi semua tak semudah pengharapanku. Perjuangan ku untuk dapat selalu bersamamu malah menghilangkan keakuanku. Aku terlalu jauh mengikuti langkahmu. Samar-samar kuterka jalan kembaliku. Aku tersesat dalam duniamu. Aku rindu, aku rindu serindu rindunya pada jalan pulangku . Aku ingin pulang pada duniaku. Pada duniaku. Hidupmu bukan lah jalan kembaliku. Dan aku tak mungkin pada jalan yang bukan jalan kembaliku. Tak mungkin pada jalan yang tak membawaku pulang kerumahku.
Aku tersesat. Aku tersembunyi pada potongan-potongan mozaik akan kecintaan untukmu. Aku tak mampu menerka habis teka-teki hidup yang kujalani bersamamu. Langkah demi langkah semakin membawaku jauh. Menghilangkan jejak-jejak kembaliku. Aku terbawa. Semakin tak menau arah yang ku tempuh. Memburamkan pikiranku, melumpuhkan logikaku. Aku hilang dalam kisah kita. Aku menyerah. Satu langkah yang pasti. Pergi. Aku memilih pergi untuk kembali pada aku yang seutuhnya.
Kini, tak pernah ku tau apa yang harus ku tangisi ketika aku memilih pergi untuk kembali pulang kerumahku. Jangan pernah tanya seberapa menyakitkan untuk melepaskan. Jangan pernah tanya mengapa aku memilih hal yang lebih menyakitkan. Hal yang perlu kau tau saja, semakin aku jauh pergi, semakin banyak langkahku berlari, maka sebegitu juga aku mencintai. Sebegitu juga aku menyayangi. Percaya lah..
Cinta memang begitu, tak pernah berpihak pada yang ku mau. Cinta selalu begitu, tak akan pernah seperti apa yang ada dipikiranku. Dan entah mengapa ada cinta yang terlintas bagitu saja pada kita. Begitu saja dan merubah semuanya. Ahh sudah berapa kali aku mengenal cinta dan ini untuk pertama kalinya kukibarkan bendera menyerah. Membisu pada keadaan kita. Dan menyerahkan pada yang Maha Cinta. Entah apa rahasia dibalik perkenalan kita. Entah apa makna perkenalanku ku denganmu, denganmu yang tak mungkin menyentuh garis kehidupanku, tapi malah bertemu tepat pada satu waktu.
Seandainya saja aku bisa meminta. Kau seharusnya sesederhana hujan- hujan manja dikala senja, yang enggan menetes bersama-sama. Menyejukkan dan tak membuatku merasa takut. Kau seharusya hidup dalam jalan pulangku. Dimana kau adalah rumah tempat ku kembali, tinggal dan berdiam selamanya. Kau seharusnya jalan yang tak menghilangkan siapa aku, jalan yang mententramkanku dalam likunya kehidupan yang semu. Kau seharusnya apa yang dapat dengan seisi hati kupertahankan tanpa melukai diri sendiri.
Seharusnya cinta kita dapat membaikkan ku. Membaikanmu dan membaikkan cerita masa lalu kita. Seharusnya kau ada dalam cerita cinta dimana aku lah dalangnya. Bukan aku yang hidup dalam cerita cinta dimana kau adalah penyusunnya. Kau seharusnya mampu menyelamiku bukan untuk menenggelamkanku dalam samudera yang airnya tak pernah kusentuh.
Namun tak mungkin kupaksakan untuk merubahmu sejalan dengan aku. Lelah, terlalu lelah aku menyesali diri untuk semua yang telah kita lewati, yang membawaku semakin mencintaimu. Tapi aku tak mungkin memilih lain dari ini. Aku ingin pergi. Aku ingin bebas mencintai ntah dari sudut apa yang ku cari. Maka biarkan aku mencintaimu dengan hal yang sama saja juga menyakitkan diriku sendiri. Melepaskan. Maka biarkan aku mencintai tanpa meninggalkan apa yang tak mungkin kutinggalkan.
Terakhir kali kuberitahu padamu. Kuungkapkan segala apa yang tertahan. Demi langkah-langkah yang tak pernah putus akan bayangmu. Demi senja-senja yang tak pernah hilang akan tawamu. Demi malam-malam yang tak pernah senyap akan suaramu. Dan demi hati yang selalu menahan akan keraguaanku. Aku mencintaimu. Dengan segenap hatiku. Dengan segenap yang telah bersih akan masalalu. Seutuhnya mencintaimu. Hanya kamu.
Kau adalah orang yang kucintai setulus hati. Orang yang paling kusayangi dari segenap rinduku. Orang yang dengan menyerah ku pintakan namanya dalam doa-doaku. Orang yang takut untuk dijauhkan dariku. Orang yang kutinggalkan tapi tak mau untuk dihilangkan.Orang yang entah bagaimana caranya selalu ku inginkan untuk tetap disisiku ketika telah kutinggalkan. Orang yang masih kupintakan pada Tuhan untuk dijalankan pada jalan pulangku. Orang yang ku mohonkan agar Tuhan dapat merubahkan kehidupanmu bersamaku. Orang yang ku lepaskan karena kecintaan yang terlalu. Kau adalah orang yang kutitipkan bahagia ku. Tuhan, semoga ada yang lebih baik dari segala hal yang menyedihkan. Aku mencintaimu. Cukup. Bahagialah selalu...
By : Cima on 9th of February 2016.
Untuk kecintaan yang selalu ku sembunyikan, Achmad Fauzi Hasibuan.
Jumat, 14 November 2014
Untitled
Tiba-tiba saja aku berdiri disini. Aku terkejut. Dari mana
asalnya, darimana saja aku hingga terdampar ditempat ini. Apa yang telah
kulewati hingga membawaku kesini. Aku mencoba mengingatnya. Berusaha keras,
sekeras melupakannya. Tapi rasanya semua tak berawal, begitu saja, ntah dari
mana jalannya aku berdiri disini. Ntah dimana.
Ntah tempat apa yang sekarang kusinggahi. Kutatapi sekelilingku, kuamati tiap sudutnya.
Hanya kutemukan gedung disini. Kupalingkan wajahku berkali-kali, tak kutemukan
siapapun untuk bertanya. Ahh seperti kota mati saja.
Perlahan aku mulai berjalan mendekati gedung itu. Terlihat papan
bunga dihalaman depan, mungkin sedang ada acara didalamnya. Dengan tatapan
kosong, pikiran ku semakin hampa. Aku berjalan saja menuju papan bunga itu. Aku
meraba-raba tulisannya. Aku bertingkah sangat aneh. Tapi aku juga tak berpikir
mengapa aku bertingkah seaneh ini.
Aku tak membaca isinya. Aku hanya meraba-raba saja hingga akhirnya
tanganku tertusuk jarum yang ada disana. Tak berapa lama tanganku telah
dipenuhi darah. Sontak saja itu membuyarkan lamunan dan pikiran kosongku.
Dengan segera aku berjalan menjauhi papan bunga itu. Aku mulai berjalan keluar
dari tempat aneh ini.
Selangkah lagi langkahku menuju gerbang keluar, ntah pikiran apa
yang mendorongku hingga akhirnya aku menolehkan pandanganku sekali lagi
kebelakang. Kuamati sekali lagi papan bunga yang menyakitiku tadi. Kuamati
perlahan-lahan dan baru ku baca. Benar dugaanku, memang ada acara, tepatnya
acara pernikahan. Kubaca nama mempelainya. Rahaka Nugraha
. Sontak saja nafasku seperti terhenti.
Aku mulai mendekati papan bunga itu lagi. Ku baca kembali nama
dipapan bunga itu. Memang benar-benar nama lelaki yang sekeras itu kulupakan.
Dipapan bunga itu dia bersanding dengan wanitanya. Wanita yang belakangan
kutahu adalah kekasihnya. Ahh. Aku hampir terduduk lemas. Kakiku rasanya tak
bisa lagi menahan berat tubuhku. Tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
Dengan langkah gontai, tergesa-gesa dan tubuh gemetar aku berjalan
kedalam gedung . Tepat didepan gedung itu dapat dengan jelas kusaksikan tubuh
kurus tinggi dibalut kemeja putih dan jas hitam, rambut ikalnya ditimpa peci
hitam. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Dia sedang berjabat tangan
dengan lelaki paruh baya berpeci didepannya.
Disampingnya kulihat wanita itu. Dia berbalut kebaya putih-putih.
Rambutnya tersanggul rapi dan ditutup selendang putih.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku hanya
bisa berdiri terpatung disini. Aku mencoba memanggilnya. Sekuat tenaga, sekuat
aku membencinya. Tapi ntah kenapa aku tak bisa bersuara. Kupanggil
berkali-kali. Tapi mungkin sia-sia karna sama sekali suaraku hilang begitu
saja. Aku tertunduk mulai putus asa. Airmataku terjatuh membasahi tanah. Aku
berusaha menghapusnya.
Aku tak punya daya mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari
sini. Panggilan tak bersuaraku tentu saja tak bisa didengarnya. Tiba-tiba dia
bangkit. Ntah apa yang dikatakan kepada lelaki paruh baya itu dan wanitanya.
Dia berdiri dan berjalan keluar. Aku tak menyadari tiba-tiba saja dia telah
dihadapanku dan menarik tanganku. Dia membawaku kehalaman belakang gedung . Di
menyuruhku duduk disampingnya.
Dia mengangkat kepalaku yang masih saja tertunduk. Mataku sudah
terpenuhi airmata dan mulai sembab. Aku tak bisa menghentikannya.
"Udahlah, kitakan udah lama berlalu. Jangan ditangisi
lagi."
Suaranya memecahkan tangisanku. Membuat aku semakin tak bisa
menahannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Sejadi-jadi tiap malam aku
merindukannya. Tubuhku makin tak berdaya. Nafasku tertahan, isakanku makin
menggema.
Dia menarik tanganku, menatap mata sembabku. Aku semakin saja
rapuh, tubuhku melayu, benar-benar tak berdaya dihadapannya. Lalu dia menarikku
dan merangkul tubuhku. Dia menyandarkan kepalaku kedadanya. Aku makin saja
menangis dipelukannya. Air mataku
semakin tak bisa dihentikan. Isakanku
semakin menjadi. Tak ada yang bisa kukatakan.
" Udah, tenanglah. Kitakan udah berlalu lama. Kenapa masih
ditangisi kek gini lagi."
Katanya sambil mengusap-usap kepalaku. Aku tak peduli. Aku masih
saja menangis sejadi-jadinya. Dadaku serasa sangat sesak. Sakit saja rasanya.
Masih benar-benar terasa luka perpisahan beberapa tahun lalu.
"Aku juga gak kebayang nikah muda. Ahh aku masih dua puluh
tahun pun. Bayangin aja 5 tahun lagi pun aku masih 25 tahun. Udah nikah, udah
punyak anak lah itu. Ahh Gak taulah . Kok uda nikah gini aku ya"
Kata-katanya bisa saja membuatku ingin tertawa ditengah tangisan
yang sangat menyedihkan ini. Aku juga tak habis pikir tentang itu. Setelah
bertahun-tahun kami tak pernah bertemu kini dihadapanku dia telah menjadi
lelaki wanita lain. Dia akan menikah. Pernikahannya adalah perpisahan kami yang
tak akan mungkin menyatu lagi.
Aku masih saja menangis dipelukannya. Dia memang benar. Kami telah
berlalu benar-benar lama. Tapi ntah mengapa. Sakitnya masih benar-benar terasa.
Dia masih saja serasa milikku. Rasanya baru saja kemarin dia memelukku dan
kudengar degupan jantungnya. Detakan kehidupan. Waktu begitu cepat berlalu.
Rasanya tangisanku tak akan menemukan ujungnya. Bagaimana bisa aku
merelakan kehilangannya yang benar-benar hilang, tak akan ada lagi. Ahhh Hingga
sehampa apa lagi yang akan aku rasakan. Hingga berapa lama lagi aku hidup yang
tak hidup. Hingga kapan aku terkurung ntah dimana , tak pernah kutahu jalan
kembalinya. Bagaimana aku akan melewati semua ini tanpanya. Bagaimana lagi aku
menanti jika penantianku telah diberhentikan. Akan kemana aku pergi. Ya Allah
aku telah diujung harapanku.
Aku benar-benar tak mampu mengatakan apapun untuknya. Aku ingin
saja tetap berada dipelukan ini selamanya. Bagiku perpisahan kami yang lalu
belum bagian akhir dari kisah kami. Kami belum berakhir, belum benar-benar
berakhir. Inikah pengakhiranku, pengakhiran sekian lama penantianku.
Tak berapa lama seseorang datang dan memanggilnya. Dia segera
menarik badannya dan merapikan jasnya. Aku menarik tangannya. Aku masih saja
menangis. Isakanku tak mau berhenti. Nafasku makin saja terengah-engah. Aku
benar-benar tak mau dia pergi. Kita belum berakhir, kita belum berakhir.
" Udah tenang ya. Aku mau kesana. Aku harus selesaikan
pernikahanku dulu. Aku pergi ya"
Kemudian dia pergi dan meninggalkanku. Aku menangis
sederas-derasnya. Sederas hujan di November yang kuhabiskan tanpanya. Dadaku
makin sesak dan terasa begitu sakit.
Jantungku berdegup tak beraturan. Tubuhku menggigil. Dingin. Sedingin hati yang
tak pernah tersentuh cinta lagi.
Aku tak tahan. Aku benar-benar tak kuat lagi. Aku teriak
sekuat-kuatnya. Sekuat cinta ini yang tak pernah memudar untuknya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
.
Aku tersentak. Aku terduduk di tempat tidur. Mimpi itu
membangunkan tidurku. Aku baru tersadar itu hanya mimpi. Itu mimpi. Tapi
sakitnya benar-benar terasa. Sesakit merindukan sosoknya yang tak pernah ada
lagi. Kemudian aku menenangkan pikiranku.
Kulihat jam weker yang berdiri gagah disamping fotonya. Masih
pukul 03 pagi. Aku memilih untuk beranjak dan tak ingin tidur lagi. Aku berdiri
di balkon kamarku. Mataku jauh menerawang. Ntah apa yang kupikirkan. Aku
merindukannya. Hampa.
Angin berhembus. Rintik-rintik hujan mulai terasa. Aromanya menenangkanku sejenak dan
mendinginkan amarahku. Sekilas aku melihat bayangan hitam didepan gerbang
rumahku. Hujan yang makin mengguyur membuyarkan bayangannya. Samar-samar
kulihat dia tersenyum. Aku ingat senyumannya. Aku benar-benar memahami setiap
simpul senyum itu.
Aku segera berlari kebawah. Membuka pintu rumah dan keluar
menemuinya. Hujan makin saja derasnya. Sederas tangisanku kali ini. Langkah ku
terhenti tepat dihadapannya. Aku menikmati setiap pancaran diwajahnya. Air
mataku bercampur dengan hujan kala ini. Tangisanku makin saja tak terbendung.
Lebih hebat dari hujan ini. Isakanku berlomba dengan gemuruh deru hujan .
Dengan segera aku memeluknya. Seerat-eratnya. Seerat dia berdiam
dipikiranku selama ini.
Aku menangis, lagi-lagi hanya bisa menangis.
" Bawa aku pulang ka.
Bawa aku pulang"
![]() |
| I can't say anything |
Senin, 05 Mei 2014
Ketukan Pintu
![]() |
| Ketukan Pintu |
Mataku masih
saja tak mau terbuka. Aku berada diantara mimpi dan nyata. Suara ketukan pintu
makin keras saja. Semakin lama semakin berirama untuk menarikku sepenuhnya pada
kehidupan nyata. Aku masih lelah, masih sangat lelah. Hari ini telah menyita
hampir seluruh akal dan jiwa. Aku masih ingin tertidur dan membaringkan seluruh
raga dengan indah. Atau mungkin itu hanya suara ketukan pintu yang bersumber
dari mimpiku saja. Ahh kurasa begitu, hingga akhirnya mataku tetap urung
kubuka.
Antara mimpi
dan nyata itu, kudengar kembali ketukan pintu. Ini sudah yang keempat kali dan
kali ini kudengar samar-samar sisipan namaku diantara ketukan pintu itu. Aku
masih menutup mata, yang benar saja kurasa suara itu memang tak berasal dari mimpiku. Sekuat tenaga aku
mengumpulkan sisa-sisa energi untuk membuka mata. Dengan sangat terpaksa
akhirnya aku membuka mata.
Kulihat jam
wekerku masih menunjukkan angka 01.32, benarkah tanyaku dalam hati. Masih
selarut ini sudah ada saja yang mengunjungiku. Takkah dia tahu adat bertamu
hingga aku merasa terganggu. Tapi apakah mungkin ada mahluk yang kiranya
berasal dari dunia lain punya kepentingan mendesak denganku. Atau memang benar,
itu tingkah usil mahluk dunia lain saja yang ingin mengganggu jam istirahatku.
Masih selarut itu dan aku urungkan beranjak kedepan untuk membuka pintu.
Ketukan pintu
itu kembali mengagetkanku yang masih terduduk diatas tempat tidur untuk
mengumpulkan seluruh nyawa kesadaranku. Suara samar-samar yang memanggilku itu
kembali berbunyi dan disahut dengan ketukan pintu lagi. Usil benar pikirku jika
itu hanya wujud dunia lain. Tak mungkin
dia mau bersabar menunggu didepan pintu. Bukankah dia dapat dengan mudah
menembus tembok rumahku dan menghampiriku. Tapi entahlah, aku makin penasaran saja siapa yang tampaknya
sangat berkepentingan denganku malam ini, malam selarut ini, di 01.32 ini.
Akhirnya aku
mulai beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keruang depan. Sepuluh langkah
lagi jarakku meraih pintu, suara ketukan pintu itu kembali terdengar sambil
menyertakan namaku. Spontan aku meresponnya dengan ucapan "Iya sebentar
ya" kemudian dengan segera kuraih pintu . Sebelum membukakan pintu,
kuintip sebentar siapa ternyata yang ada dibalik pintu . Tapi sayangnya dia
membalikkan badan. Posturnya tinggi, kurus, memakai jeans biru dongker dan kaos
hitam polos dengan sweather dilengan kanannya.
Sepertinya aku kenal dengan sosok ini, tapi sudahlah aku tak terlalu
berniat untuk menerka itu siapa.
Dengan segera
kubukakan pintu depan itu. Dengan wajah yang masih diantara mimpi dan nyata,
dengan rambut yang masih terurai tak terarah, dengan baju tidurku yang sudah
kusut bentuknya dan dengan mata yang tampak lelah luar biasa, kudapati wajah
lelaki itu dengan senyuman yang menyergap jantungku seketika saat dia
membalikkan tubuhnya. Aku seperti mendapat surprise yang bisa benar-benar
memberhentikan detakan jantungku saat itu juga. Wajahku kaget tak percaya, dan
dia masih saja tersenyum penuh makna. Masih tersenyum dengan senyum yang dulu
pernah membuatku begitu terluka.
Benarkah ini
terjadi , nyatakah sosok didepanku ini. Aku masih saja terdiam tak percaya,
atau aku memang berada di dunia tak nyata. Aku masih saja memandanginya
terbata, memperhatikan setiap detail sosok didepanku dari ujung kaki ,
menyusuri tubuhnya yang lebih tinggi dari aku, hingga keujung kepalanya dengan
rambut yang masih saja ikal. Tak banyak yang berubah darinya, hanya saja
kulitnya yang lebih bersih dari dua tahun lalu. Sosok dua tahun lalu yang
benar-benar pergi dari hidupku, yang hanya bisa kutemu didalam mimpi kini hanya
berjarak 30 senti dari tatapanku. Bukankah ini mimpi.
Wajahnya
seketika berubah rona. Senyumnya kembali ia sembunyikan. Kali ini dia yang
benar-benar memperhatikanku. Dia menatap dalam mataku sedalam tatapan matanya
lebih dari dua tahun lalu. Dia juga masih terdiam dalam tatapan matanya. Kami
masih sama-sama terdiam dalam dunia tak kepercayaanku didepannya. Hingga
akhirnya tangannya yang mengusap lembut rambutku sambil berkata "Apakah
aku mengganggu tidurmu" membuyarkan lamunanku.
Apa yang baru
saja dilakukannya. Untuk apa dia kembali mengusap-usap lembut kepalaku seperti
yang dulu sering dilakukannya hampir enam tahun lalu. Untuk apa dia masih
melakukannya setelah hampir dua tahun ini dia malah sama sekali tak peduli kabar isi kepalaku ini. Aku masih saja
terdiam tak menjawab tanyanya. Aku masih tak percaya siapa sosok didepanku ,
benarkah dia sosok itu ? Sosok yang hampir dua tahun ini tak kutahu kabar dan
keberadaannya.
Dia juga ikut
terdiam melihat aku yang masih saja setia membisu. Untuk beberapa saat dia
masih saja menatap mataku sambil memainkan beberapa ekspresi yang tak bisa ku
terka apa maskdunya. Aku masih berbicara dalam kediaman itu. Ada banyak
percakapan yang kami utarakan lewat hati, ntah apa yang kami permasalahkan kala ini. Banyak,
terlalu banyak. Rumit.
Pelan-pelan
kulihat dia memberanikan diri untuk mengajakku berbicara. Tapi lagi-lagi
katanya mengagetkanku.
" Ma,
punya waktu sebentar. Aku butuh kau. Bener-bener butuh"
Aku masih saja tak bisa menjawab pertanyaanya.
Kata-kata yang baru saja diucapkannya masih terngiang di telingaku. "Ma .
. " Panggilnya untuk ku yang
benar-benar tak pernah ku temui dua
tahun ini, membawaku kedunia enam tahun lalu saat awal mula mengenalnya.
" Ma, bisa
sebentar ikut aku, banyak yang mau ku bilang samamu. Terlalu banyak. Kuharap
aku punya cukup waktu untuk bilang semuanya sama mu "
Aku tetap
terdiam. Ntah apa maksud lelaki ini. Setelah menghilang begitu saja kini
tiba-tiba menghampiri dan ingin membawaku pergi. Aku benar-benar tak punya
jawaban untuk semua tanyanya. Hingga saat ini, akhirnya kucoba menatap dalam
matanya seperti enam tahun lalu. Ntah mengapa, tatapan mata ini selalu kutemui
saat aku merasa terlukai karena tingkahnya tapi malah tetap bisa meyakini bahwa
dia benar-benar menyayangiku. Sinar matanya kulihat selugu dulu, selugu ketika
dia ingin mencium keningku tapi akhirnya dia mengurungkannya lalu mengusap-usap
lembut rambutku sambil berkata aku akan menjagamu. Ahh betapa konyol kami dulu.
Dia menganggukkan
kepalanya merayuku. Aku masih terdiam. Dia kembali menganggukkan kepalanya
tanda memaksaku. Tapi kali ini anggukannya tanpa seyum dan kedipan manja
matanya seperti dulu. Dia tampak lebih serius dan benar-benar mengharapkan aku
ada untuknya kali ini.
Aku masih saja
mempercayai tatapan matanya hingga akhirnya aku mengunci pintu rumah sambil
berjalan kearahnya. Dengan segera dia mengeluarkan kunci motornya dan membawaku
berjalan menuju motornya. Sebelum dia membawaku pergi, tiba-tiba dia memakaikan
sweathernya kepundakku dan menarik lenganku untuk dimasukkan ke lengan sweather
hitamnya itu. Malam ini cuaca memang terasa lebih dingin, tapi aku benci. Aku
benci karena dia mengenakan sweathernya ditubuhku.
Dia
menghidupkan motornya lalu membawaku pergi ke suatu taman yang pernah kami
kunjungi bersama tiga tahun lalu. Dia mencari posisi yang tepat untuk
menyampaikan apa yang sudah dipendamnya dari tadi. Kami berhenti di pinggiran
danau dan duduk tepat dibawah lampu yang dulu pernah menyinari tawa kami tiga tahun lalu.
Angin usil
menyerbu lembut hingga kurasa makin dingin saja. Kami duduk bersampingan dan
ini benar-benar kembali mengingatkan kenangan yang selama dua tahun ini selalu
ingin kulupakan. Akhirnya dia memulai pembicaraan yang hampir dua tahun ini tak
pernah ku temui.
" Ma,
masih ingat tempat ini ? " Tanyanya
pertama kali.
Aku diam. Aku
hanya terdiam. Tak banyak yang mau kubicarakan. Rasanya aku sudah benar-benar
lelah berbicara dalam doa selama ini.
" Ma,
tidak kah kau merasa hampa selama hampir setahun lebih ini ?." Sambungnya sambil menatap kearahku. Dia mulai
berbicara serius padaku. Tapi ahh
pertanyaan gila. Untuk apa dia menanyakannya. Aku tak mau menjawab. Aku tak mau
menjawab.
" Udahlah,
uda waktunya aku jujur sama perasaanku sendiri untukmu. Kau tau, selama hampir
satu tahun ini sepertinya aku merasa hampa. Aku tak tau hampa itu bagaimana
definisinya. Jelasnya aku merasa hidupku biasa-biasa saja, tak banyak yang
tampak istimewa untuk hatiku. Hari-hari ku datar, gitu-gitu aja. Sampek akhirnya
aku merasa kehilangan feel tersendiri untuk kehidupanku. Aku gak punya tujuan.
Aku gak tau aku mau kemana.Setahun lebih ini aku tersesat dan yang kurasa hanya
hampa. "
Keadaanku masih
saja hening. Aku menggerutu dalam hati, kau memang lelaki tak berhati. Kau
hanya merasakan setahun lebih ini kehampaan tanpa melihat aku. Aku, aku yang
sebenarnya telah merasakan hampa ketika 4 tahun lalu kau putuskan untuk
mengakhiri dan 2 tahun lalu kau putuskan untuk benar-benar pergi. Kau tak
pikirkan selama apa hampaku yang hampir 6 kali lipat dari kehampaanmu. Tidakkah
kau mengerti.
" Kadang
aku teringat samamu. Aku kangen samamu. Awalnya kukira yah wajar saja aku
merindukan wanita yang pernah begitu setia disampingku selama bertahun-tahun.
Tapi akhir-akhir ini aku makin saja
merindukanmu lebih dari biasanya. Aku kangen sama suaramu yang gak bisa pelan,
kangen sama marah-marah mu yang luar biasa, kangen sama larangan-laranganmu,
kangen sama semua aturanmu , kangen sama permintaan anehmu dan kangen sama
cerwet-cerwet mu, tingkah berlebihanmu. Aku kangen. Kangen kali."
Iss dasar
lelaki yang benar-benar jahat. Tak adil, tak adil. Selama ini dia hanya
teringat dan merindukan aku terkadang saja. Terkadang ingat terkadang lupa.
Sementara aku, aku selalu, garis bawahi kata selalu. Aku selalu mengingatmu.
Aku selalu merindukanmu. Kau jahat. Aku tetap terdiam. Aku mau tetap terdiam.
Kata-kataku terlalu banyak untuk disampaikan.
" Tau ,
Aku kangen hidupku dulu dengan banyak laranganmu, aku ngerasa berwarna meski
selalu dibawah marah-marahmu dan aku ngerasa ada karena semua permintaan
aneh-anehmu. Aku baru sadar, bahwa aturan-aturanmu, tuntutan-tuntutanmu, bukan
karena kau tak bisa menerimaku, tapi tak lebih untuk kebaikanku. Aku kehilangan
kau, orang yang benar-benar peduli tentangku . Aku kehilangan itu semua hampir
dua tahun ini. Aku kehilangan apa yang membuatku hidup selama dua tahun ini.
Bukankan itu hampa?"
Aku tetap saja
terdiam. Ntahlah , rasanya aku sudah tak perlu banyak bicara. Kata-kataku nanti
akan terlalu sulit dia pahami. Dia tak kan pernah mengerti.
" Ma,
bicaralah. Katakan semua yang kau rasakan selama dua tahun menyebalkan ini.
Seandainya waktu bisa kembali, dulu tak seharusnya aku melepaskanmu dan
berhenti berjuang untuk kita. Aku salah, aku terlalu buta untuk membaca semua
cinta tulus yang kau punya. Aku salah, aku menyesal. Benar-benar menyesal.
"
Kali ini tak
ada yang ingin kutanggapi. Bukankah penyesalan selalu datang belakangan. Tapi
tak guna penyesalanmu. Semua takkan bisa membawa kita kemasa lalu untuk mempertahankan
kisah-kisah itu.
Dia menatapku
dalam, sangat dalam.
" Masihkah
kau percayai cinta? Cinta kita tepatnya " Tanyanya yang benar-benar
menusuk hatiku. Aku tak tahan lagi. Dengan begitu saja airmata itu mengalir
kemudian aku tertunduk menghalau tatapannya. Pertanyaan yang kembali membuka
luka lama. Bukankah dulu hingga detik
ini aku masih percaya akannya. Bukankah dia yang nyatanya mengingkari cinta itu
selama dua tahun ini. Kau seharusnya tak menanyakan itu padaku, tanyakan pada
dirimu sendiri.
" Tidakkah
kau bertanya mengapa dengan sangat tiba-tiba selarut ini aku menemuimu dan
membawamu pergi? "
Aku tersentak
dengan tanyanya kali ini. Aku menatap kembali matanya. Itulah pertanyaanku
sedari saat pertama melihatnya
membalikkan badan di depan pintu .
" Cinta
telah memanggilku. Sebenarnya akhir-akhir ini aku udah sering terbangun malam
keinget kau. Kau orang yang pertama kali kupikirin ketika aku bangun dari
tidurku. Dan kau satu-satunya yang membuat tidurku selalu terganggu. Sudah
hampir dua tahun berlalu. Tapi ternyata masih ada saja rindu untukmu. Selama
itu aku berusaha kembali menghubungimu. Aku mencari keberadaanmu hingga
menemukan alamatmu. "
Aku melihatnya
tak percaya. Baru kali ini akhirnya dia merasakan yang dulu kurasakan sejak dia
memilih pergi.
Dia menyambung
lagi kata-katanya " Tadi aku juga sudah tertidur. Lagi-lagi tawamu
mengagetkan tidurku dan membangunkanku. Ntah mengapa, detakan jantung yang
lebih cepat dari biasanya, detakan jantung seperti saat pertama kali aku
memelukmu, sekarang kurasakan lagi setelah sekian lama tak pernah ku temui. Aku
gelisah. Aku kahwatir tak biasa. Ada yang mengejarku dalam hati. Ada yang
seolah menyuruhku pergi hingga akhirnya kuputuskan untuk menemuimu. "
Aku masih
terdiam, tapi kali ini aku sedikit lega telah temukan jawabnya. Aku menyeka
airmataku.
"Ma
bisakah kau kembali pada rumahmu. Bisakah kita kembali menghuni rumah itu.
Masih bisakah kita tata kembali cinta yang pernah kita perjuangkan bersama.
Pulang lah padaku. Pulanglah."
Aku kembali menjatuhkan
airmataku. Takkah dia pikir siapa yang pergi dan siapa yang harus kembali.
Sesulit itukah cinta ini hingga dia sama sekali tak pernah mengerti.
" Tak
semudah itu membangun rumah yang sudah porak poranda ditinggal penghuninya. Tak
semudah itu temukan jalan pulang setelah sekian lama tersesat jauh berkelana.
Mengerti. " Akhirnya aku berbicara untuk pertama kalinya sambil bangkit
dari tempat dudukku dengan nafas yang terengah karena tangisanku.
Dia menahan
langkahku.
" Bukankah
kau juga merindukan semuanya. Bukan kah kau juga merindukan tawa kita bersama.
Ingat pertama kali aku mengantarmu pulang dibawah rintikan hujan itu. Ingat
pertama kali aku yang tak pernah bisa menatap matamu. Ingatkah aku yang selalu
setia ada untukmu. Ingat aku yang selalu menuruti semua permintaan tak masuk
akalmu. Bisakah kita ulangi semua itu ? " Tanyanya yang membuat aku
semakin rapuh.
" Jangan
bawa aku kembali pada kenangan masa lalu. Aku sudah tidak tinggal disana. Satu
saja yang ingin kutanya. Masih ingatkah kau yang lebih memilih pergi dan tak
percayai semua perjuangan cintaku selama ini?" Aku menangis. Aku kembali
menangis.
" But hold
your breathe. Because tonight will be the night that I will fall for you. Over
again, don't make me chance my mind. Or I will live to see another day, I swere It's true beacuse a
girl like you is imposible to find you're imposible to find. "
Tiba-tiba dia
bernyanyi. Ntah apa maksudnya. Dia menyanyikan lagu itu, lagu yang dia tahu
sangat kusukai semenjak dia memilih pergi. Dia menyanyikannya dan kemudian
menarik tanganku. " Sudahlah. Aku terlalu lelah tanpamu. "
Aku kembali
terdiam. Dia masih tak mengerti dengan semua yang telah terjadi sampai sejauh
ini. Dia menjatuhkan tubuhnya. Berlutut memohon padaku.
" Maukah
kau menemani hari-hariku kembali. Maukah jadi wanita yang setia berdiri
disampingku memperjuangkan semuanya kembali seperti dulu. Maukah percayakan
hatimu padaku lagi. Aku mau kita kembali. Aku jatuh cinta lagi padamu. Jangan
buatku semakin gila. Bisakah kita ulang semua dan hiduplah lebih berarti
bersamaku. " Pintanya sambil menggenggam erat tanganku dan menatap mataku.
Aku terdiam.
Untuk beberapa saat aku teringat kisah-kisah dulu. Kenangan itu mengejarku dan
juga ikut memohon untuk diperjuangkan kembali.
" Ma, beri
aku kesempatan. Sekali lagi. Hari ini, esok dan seterusnya bahagialah
bersamaku. "
Aku masih
terdiam untuk beberapa saat. Namun kali ini aku telah menemukan jawabnya.
" Kau bisa
saja mengetuk pintu rumahku malam ini, kau bisa saja berkali-kali mengetuknya.
Tapi sesaat kau lebih memilih pergi dan
mengunci hati ini, kau tak kan pernah bisa mengetuknya kembali. Kau tak berhak
mengetuknya. Kau tak berhak. Tolong pahami. "
Ada banyak yang
harus kau pelajari kembali. Tentang aku, tentang cintaku. Cintaku akan selalu
sulit untuk kau mengerti, hingga saat itu, saat dimana kepergianmu , aku telah
meneyederhanakannya. Tak perlu memilikimu karena kurasa cinta lebih dari itu
semua, bukan sebatas perkara hidup
bersama. Cinta adalah satu hal yang tak
pernah bisa aku jelaskan.
Minggu, 06 April 2014
Tanggal 6 Untuk Terakhir Kalinya
Ya Allah,
sudah tanggal 6 lagi. Masih ada saja tanggal 6 ini di kalender ya. Bisakah
tanggal 6 ini tiba-tiba menghilang dari tiap bulannya. Satu tanggal saja, sudah
sudah cukup. Tapi akankah bulan-bulan tetap seperti sedia kala jika menghapusnya.
Apa salahnya dengan tanggal 6 itu. Bukankah tetap saja tanpa tanggal 6
tak sempurna. Tanggal 6 harus ada dan akan tetap ada di sana tanpa bisa aku
menghapusnya.
Sepertinya tak
habis-habis masalahku dengan tanggal 6 ini. Ahh tanggal 6 yang dimulai dengan
cinta berakhir masalah adalah bencana. Tapi sudahlah, tak perlu kupermasalahkan
lagi jika masih tetap ada dan akan selalu ada tanggal 6 ini. Biar saja dia
masih selalu tertulis di tiap bulannya. Biar saja dia masih berdiri anggun disana,
aku tak peduli. Bagiku, karena bagiku, taggal 6 itu tak akan pernah ada
lagi. Tanggal 6 akan terhenti disini. Tanggal 6 sudah tak perlu kuhitungi lagi,
dan ini tanggal 6 untuk terakhir kalinya. Tanggal 6 yang hanya sanggup
kuhitungi hingga keempat puluh satu bulan lamanya.
![]() |
| Taanggal 6 lagi tanggal 6 lagi~ |
Tanggal 6 ini, tanggal 6 yang terakhir kalinya , apa
kabar dia yang disana. Kuharap tawa dan bahagia selalu mendamaikannya.
Terpenting dia baik-baik saja tanpa aku
disampingnya. Setidaknya hanya itu yang kini mampu kuharapkan akan keadaanya.
Tak ada lagi, benar-benar tak ada lagi keinginanku untuk menghabiskan seharusnya
41 bulan usia kebersamaan kita.
Taukah, tapi
sebenarnya juga dia tak perlu tau, aku masih saja terbalut rindu hingga tanggal
6 ini. Aku dikelilingi dalam bilik yang dipenuhi kasih dan rindu untuknya. Kurasa sudah tak
ada lagi tempat yang bisa kudiami tanpa basuhan rindu. Terkadang serasa tak
adil, ketika rindu langit akan tetesan-tetesan air hujannya kini sudah mulai sering
terobati, tapi apa kabar rinduku ini. Ntah kapan rinduku bisa seperti rindunya
langit yang telah terobati itu. Nth kapan rinduku ini bisa terselesaikan. Tak
adil bukan.
Namun, beberapa
waktu kemarin, aku lupa kapan tepatnya, serasa rindu itu temukan polanya. Dia
boleh saja tetap merasuki, tapi akhirnya Tuhan mengerti dan menutupinya. Dini
hari itu , aku masih saja terbangun dan lagi-lagi teringat dia yang disana.
Kupilih untuk menyalakan telivisi karena kutau pagi ini team kebanggaannya Real
Madrid bertanding dengan Barcelona.
Sebenarnya aku
tak terlalu perlu untuk menontonya, tapi kurasa aku bisa mengurangi rindu-rindu
itu jika menontonya. Dia serasa dekat denganku karena kami pasti ada dalam tontonan tayangan yang sama. Bukankah itu
sudah jarak yang cukup dekat untukku.
Ahh, tapi kenapa tim kesayangan kami malah terkalahkan
dengan skor 3-4 untuk Barcelona. Dia pasti kecewa, aku juga ikut kecewa
untukknya. Malam itu kami juga berada dalam kekecewaan yang sama dan lagi -
lagi itu jarak yang cukup dekat buatku. Yah karena setelah subuh itu
pertandingan berakhir aku kembali ambil bagian tidurku yang tersita tadi.
Dalam tidurku
untuk keduakalinya itu, dia akhirnya berkunjung dimimpiku. Ntah bagaimana alur
mimpiku, aku lupa. Tapi tiba-tiba aku memeluknya. Aku bisa memeluknya lewat
mimpi itu dalam balutan rindu . Dan taukah, rasa pelukan itu sehangat pelukan pertama kalinya
untuk ku. Pelukannya masih saja sehangat
itu. Pelukan yang membuatku benar-benar
nyaman dalam keadaan apapun. Pelukan
yang mampu menenangkan kegelisahanku. Pelukan yang kurasa benar-benar nyaman
hingga dapat menghapus semua kesedihan akan kekecewaan. Pelukan inilah yang kurasa benar-benar rumah
yang kurindu itu. Aku ingin pulang, kembali
dan tinggal disini selamanya.
Tapi akhirnya aku terbangun dan ini tak lebih dari
mimpi. Aku baru tersadar ini hanya mimpi. Pelukan ini hanya mimpi yang
terasa begitu nyata. Jika saja aku sadari ini hanya mimpi, maka aku pasti tak
mau bangun lagi tadi. Dan memang benar,
betapapun
singkatnya pelukan yang hanya terjadi dalam mimpi, akan sangat berarti jika kau
begitu merindui.
Itulah
satu-satunya pelukan yang terkadang meredakan rinduku selama 2 bulan 9 hari
sampai tanggal 6 ini. Sejahat itukan dia yang tak pernah terlepas dari
doa-doaku, membiarkan aku mati dalam tumpukan rindu dan sepi. Tapi aku menikmati, aku masih menikmati dan
aku bahagia meski terkadang ku ingkari janjiku untuk berhenti mencintai. Aku
masih berusaha untuk itu, berhenti mencintai. Tapi entahlah, biarkan aku bahagia
bersama sisa-sisa cinta ini.
Untuk tanggal 6
terakhir kali ini, tak banyak yang ku mau darinya. Yah, rasanya mataku sudah
benar-benar terbuka akan sifat buruknya hingga semua harapan telah mati bersama
dia yang telah pergi. Dia pasti telah bahagia dengan jalan yang dia pilih dan
aku harus mencari bahagiaku sendiri
hingga tanggal 6 ini harus ku akhiri. Tak akan ada lagi tanggal 6 untuk
seharusnya usia kebersamaan. Ingatkah , 6 - November - 2010 lalu akhirnya terkubur
disini, 6-April-2014. Terimakasih atas semuanya, dan aku tetap tak memiliki
alasan untuk masih saja menyayanginya hingga tanggal 6 terakhir kali ini.
Tanggal 6 untuk terakhir kalinya, 6 November yang telah menemukan pembaringannya.
Mengharukkan.
![]() |
| Tanggal 6 for the last~ |
Langganan:
Komentar (Atom)



