Dewi, Dewi
Anggraini. Iya, namanya Dewi. Tentu saja parasnya seelok namanya, Dewi. Putih,
bersih, dengan wajah berseri, rambut
ikal terurai panjang kemerahan, dan senyum tipisnya yang terkadang
menjengkelkan. Dewi , Iya namanya Dewi, tentu saja hatinya seelok namanya,
Dewi. Tulus, ramah, dengan hati yang ikhlas berbagi, tangan yang tak enggan
memberi dan kaki yang tak sulit berlari.
Ahh sudahlah. Pokok.a namanya Dewi dan dia seperti Dewi, kau bisa lihat
sendiri.
![]() |
| Dewi Anggraini |
Tapi jangan
berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya. Tidak tidak, aku tidak gila mencintai
sesama wanita. Ahh yang benar saja, mataku masih terpesona dengan lelaki senja.
Jangan berpikir seperti itu lagi padaku ya. Aku tak meyukai wanita. Tidak suka
, tapi jujur saja, aku menyayanginya. Iya, aku sayang.
Perlu tau, dia
sebenarnya adalah salah satu sahabat terbaikku. Sahabat yang benar-benar
sahabat. Sahabat yang tak satu ceritapun kami lewatkan. Sahabat berbagi,
sahabat berlari, sahabat berjuang dan sahabat yang sangat berarti. Dia adalah
sahabat pertama, yang kurasa adalah rumah, benar-benar rumah tanpa persaingan
tersembunyi didalamnya. Sahabat yang berkaca sebagai sahabat. Sahabat yang kau
sebut sebagai sahabat.
Dia kutemukan
dikampusku sejak semester satu. Putri dosen yang sebenarnya bersahaja itu
awalnya bersembunyi dibalik sikap yang penuh gaya. Awalnya kukira dia gadis
luar kota, eh ternyata dia adalah kembang desa. Lucu saja kurasa, dengan gaya
modis trend ala artis ibu kota mau kuliah di kampus sederhana dan jurusan
diluar daya. Yah itulah kurasa sahabatku.
Dia dikenalkan
oleh salah satu teman kampusku juga yang baru kukenal. Yah mulanya kami biasa
saja, tak terlalu banyak bicara diantaranya. Tapi ntah dari mana asalnya,
ketika kami mulai saling membuka cerita semua kata-kata mengalir begitu saja.
Aku juga tak menyadari ternyata sudah banyak cerita tentang kehidupanku yang
kubagi bersamanya dan aku juga sudah cukup tau banyak tentang cerita hidupnya.
Aku sebenarnya
adalah mahasiswi yang paling tak betahan dikampus. Paling suntuk kalau sudah
pagi tiba dan paling suka mengeluh jika banyak tugas menyerbu. Bahkan good
moodku berubah drastis jika tapak kakiku sudah melewati pintu gerbang kampus. Aku memang anti kampus, benar-benar
anti. Kurasa lelah saja jika aku
berlama-lama dikampus dan menghabiskan waktu tak jelasku menunggu dosen. Itu
hal-hal yang paling menyebalkan.
Tapi tanpa
disadari, kehadiran Dewi, kehadiran
sahabat-sahabatku ternyata merubahnya. Yah mungkin karena Dewi juga, aku tidak
terlalu suntuk untuk pergi ke kampus. Terkadang aku merasa banyak cerita yang harus kusampaikan padanya
hingga aku tak malas lagi jika pagi tiba. Aku sudah merasa biasa saja jika
dirasa butuh banyak waktu untuk menunggu dosen. Malah terkadang aku lupa dengan waktu menyebalkan itu.
Aku juga tak
merasa harus cepat-cepat pulang ke kos karena di kampus aku sudah merasa biasa
saja. Tak berasa saja, dan aku bisa merasa bahagia duduk di sudut-sudut kampus
yang awalnya aku sama sekali tak suka. Semua mungkin karena dia, Dewi .
Sahabatku yang mengubah rasa bosanku
akan kehidupan kampus.
Dewi banyak
mengajari dan menasehati aku akan hal-hal kecil yang terkadang aku tak peduli.
Dia selalu mengingatkan akan cara berjalanku, akan sholat lima waktuku, akan
jam tidurku yang tak teratur. Dia juga selalu mengingatkan untuk tak membawa
buku terlalu banyak dan tak membawa batu dalam tasku. Hahhha, sebenarnya bukan
batu, aku juga tak pernah tahu mengapa tas ku selalu terasa berat. Aku sampai
sering berkeringat dingin membawa tas berat itu. Tapi terkadang dengan penuh
perhatian Dewi menukarkan tasnya yang tak berisi itu dengan tasku dan akhirnya
dia yang membawa tasku. Romantis bukan ? Hahhha.
Dia juga
sering menenangkan kegelisahanku. Jika aku sering terlalu khawatir dengan nilai
ujianku yang buruk, dengan ketaksiapan tugasku dan dengan dosen-dosen kami yang
mengerikan, dia selalu mengajariku tersenyum, sambil berkata" Udahlah,
hadapi aja". Karena kata-katanya itulah aku belajar untuk jadi individu
yang kuat hingga apapun yang akan terjadi akan selalu kuhadapi.
Kami punya
hoby yang sama, suka menceritakan satu topik yang tak ada habisnya kami
bicarakan, hingga jika kalian melihat
kami ketika bersama maka kalian akan melihat kami bercerita. Kalian akan
melihat wajah keseriusan dan ketertarikan yang luar biasa diantara kami saat
menceritakannya. Tapi aku rasa kalian tak perlu tau topik pembicaraan kami itu.
Kurasa karena memang tak menarik untuk orang lain. Cukup kami berdua yang
terkadang tak peduli situasi saat membahasnya.
Kami memiliki
satu pandangan walau terkadang suka berselisih pilihan. Kami sama-sama suka
berjalan, suka kepo sama semua hal, suka gila-gilaan dan paling suka fotoan.
Kami selalu berfoto dimanapun kami sedang ingin berfoto. Kami selalu berfoto
kapanpun kami sedang ingin berfoto. Tiada satu haripun yang kami lewatkan tanpa
satu jepretan kamera. Terkadang kegilaan berfoto kami memang sangat memalukan tapi sayangnya kami tak pernah
peduli.
![]() |
| Tetep berfoto saat dosen kasih kuliah didepan :D |
Kami juga suka
jalan-jalan gak jelas. Aku sebagai anak perantauan dan dia sebagai anak
pindahan memang terlalu kepo untuk menjelajahi kota ini. Kami memang terlalu kepo untuk mendatangi semua tempat
yang belum pernah kami datangi . Khususnya untuk makan, kami paling suka
mencoba-coba semua tempat makan yang membuat kami penasaran . Meskipun
sebenarnya selera kulinerku tak terlalu bagus, aku ikut saja kemanapun
sahabatku ini meyetirku. Dalam pikirianku terpenting jika ada orang yang
bertanya " Udah pernah makan disana ? " Maka dengan bangganya aku
akan menjawab " Ohh disana. Uda , uda pernah." Kemudian jika pertanyaan
itu berlanjut " Enak engga makan disana? ". Maka akan kujawab dengan
senyum termanis sambil berkata" Enak gak ya. Gak tau deh. Cobak tanyak
Dewi." Yah intinya aku sudah pernah saja mendatanginya.
![]() |
| Salah satu tempat makan yang kami kepoin :D |
Selain sudah
begitu banyak cerita yang kami bagi, kami juga sudah punya begitu banyak cerita
yang kami lewati bersama. Jika kami sudah merasa penat dengan waktu-waktu
dikampus, merasa jenuh dengan aktivitas-aktivitas kampus , dia sering
mengajakku untuk merefreshingkan pikiran. Mulai dari pergi ke tempat makan,
belanja, duduk-duduk gak jelas, minum es buah di pinggir jalan, berenang
berdua, karokean atau nonton bioskop. Perlu tahu, dewi adalah orang pertama
yang mengajakku nonton bioskop , dan itu pertama kalinya juga aku akhirnya
nonton bioskop. Hahhaha memalukan.
Kami juga
salah satu laskar pejalan kaki yang tangguh. Kami pernah berjalan berkilo-kilo
meter tapi anehnya kami tak pernah merasa lelah. Kau tau, kami bahkan pernah
berjalan, dari UMSU ke WS glugur, kami sering berjalan dari Milo ke Merdeka Walk
dan kami selalu berjalan dari simpang kosku ke kosanku bahkan kami pernah
mengajak sahabatku lainnya untuk berjalan dari Carefour ke Milo. Alasannya
mungkin klasik untuk lebih ekonomis, namun ku rasa itu alasan yang terlalu
dibuat-buat. Karena kurasa sifat keekonomisan kami sebenarnya sudah mulai
luntur.
Aku juga
selalu menjadi korbannya jika tiap kali ada seseorang yang mengajaknya
kopdaran. Dia memang sangat suka sosial media. Dia cewek yang terlalu ramah
terkadang untuk membalas chat cowok-cowok yang belum dia kenal sama sekali.
Dengan wajahnya yang jangan ditanya, sudah pasti banyak yang ingin memikatnya.
Alhasil setelah melewati beberapa pengujian maka dia akan memutuskan untuk
menemui beberapa lelaki dan akulah teman yang paling setia menemani. Aku
sebenarnya sama sekali tak tertarik untuk aktivitas kopdaran seperti itu, tapi
demi Dewi apalagi yang harus kulakukan. Yah setidaknya ada hikmahnya, aku
banyak kenal lelaki dengan berbagai tingkah.
Hal yang
paling tak terlupakan kurasa dalam cerita kami, ketika itu, untuk kali pertama aku yang akan kopdaran dengan
lelaki kenalanku via bbm. Sebenarnya aku terpaksa mau, karena Dewi yang
memaksaku harus mau. Dia juga berjanji untuk menemani. Setelah merencanakan
waktu dan tempat , kami memutuskan untuk bertemu sekaligus nonton di suatu
tempat. Tapi sayangnya, ditengah perjalanan karena ketidak jelasannya akhirnya
kopdaran kami itu gagal .
Akhirnya aku
dan Dewi memutuskan untuk makan saja di Mc.Donalds Merdeka Walk. Kami memang suka menghabisakan
waktu disana dan sehabis itu duduk-duduk tak jelas di Lapangan Merdeka. Namun kali itu, kami memutuskan sehabis makan
itu kami mendatangi sebuah event yang cukup menarik di Lapangan Benteng. Tentu
saja kami berjalan dari Merdeka Walk ke Lapangan Benteng. Kan tak terlalu jauh
, tak masalah kurasa.
Ketika itu
Dewi memakai highhells. Tentu saja dengan perjalanan ini dia merasa lelah dan
kakinya terasa lecet. Namun untuk jalan pertama dia masih bisa menahannya.
Setelah sampai di sana, kami sempatkan untuk berfoto sebentar dan akhirnya
ketika itu kami berhasil foto bersama salah satu turis yang kebetulan ada
disana. Setelah menyaksikan beberapa pertunjukannya akhirnya event itu selesai
dan kami memutuskan untuk kembali ke Merdeka Walk lagi.
![]() |
| Narsis bareng bule hih |
Aku punya
niatan untuk berfoto sebentar di PT London Sumatera, karena itu akhirnya kami
berjalan kembali menuju tempat itu yang memang searah dengan Merdeka Walk.
Ditengah perjalanan Dewi sudah tak tahan
merasakan sakit kakinya, akhirnya aku berinisiatif untuk menukarkan sepatu kami
untuk sementara. Taulah, aku cewek yang terkadang bukan cewek. Aku tak bisa
memakai sepatu hells tinggi hingga akhirnya beberapa langkah saja aku berjalan,
hells dewi putus dan aku hampir terjatuh. Seketika kami malah tertawa bersama
dan orang-orang yang melihatnya pun ikut tertawa. Itu hal yang paling memalukan
tapi kami tak terlalu peduli.
Akhirnya kami
tetap saja berjalan, tapi kali ini Dewi yang memutuskan untuk tak memakai
sepatu. Untungnya saja jalanan tak terlalu ramai hingga tak banyak yang memperhatikankan
kami. Kami malah masih sempat tetap berfoto di London Sumatera tanpa alas kaki
si Dewi.
![]() |
| Pakek dulu sendalnya :p |
Yah, karena
komitmen senasib sepenanggungan, juga karena tidak ada didekat sana yang
berjualan sendal, sesampainya di Merdeka Walk maka akulah yang bergantian
berjalan tanpa alas kaki. Memalukan memang, tapi aku terkadang biasa saja dan
tak peduli. Bukan sebuah dosa kurasa berjalan tanpa alas kaki. Dengan keadaan
terpaksa saja dan aku tak mengapa. Tak berapa lama setelah kami menghabisakan
makanan,akhirnya kami pulang dan aku tetap saja tak beralas kaki dalam angkutan
umum itu. Siapa yang peduli pikirku. Benar-benar hari yang tak terlupakan.
Seperti itulah
sedikit cerita tentang kebersamaan kami, sedikit cerita tentang tingkah
memalukan kami dan kami tetap tak peduli. Mungkin itu akan menjadi waktu-waktu
terindah untuk dikenang kembali.
Sudah banyak
yang kami lewati. Kami selalu berusaha untuk tetap bersama dalam susah dan
bahagia. Kami juga sudah pernah bertengkar dan sempat satu semester lebih
berjauhan karena keegoisanku. Tapi, nth darimana jalannya, akhirnya Tuhan
kembali menyatukan kami. Dan perpisahan itu menjadi pelajaran paling berharga
untuk kami agar lebih menghargai satu dan lainnya. Dan aku sangat
berterimakasih karena Tuhan telah kembalikan sahabatku.
Dan aku rasa,
persahabatan juga seperti cinta, yang tetap harus dijaga dan dihargai. Berusaha
saling menjaga dan saling berbagi. Selalu ada apapun posisi yang akan dihadapi.
Cintamu boleh pergi tapi kuharap persahabatanku sampai akhir hidup ini. Tuhan,
izinkanlah dia menjadi sahabatku sampai kapan pun itu. Jangan pisahkan kami
lagi dan Terimakasih buat semua cerita yang telah kami lewati.
![]() |
| will be forever :) |
Risma
Medan, 16-Maret-2014 03:48 WIB





