Sabtu, 22 Maret 2014

Dewi, dewiku




Dewi, Dewi Anggraini. Iya, namanya Dewi. Tentu saja parasnya seelok namanya, Dewi. Putih, bersih, dengan wajah berseri,  rambut ikal terurai panjang kemerahan, dan senyum tipisnya yang terkadang menjengkelkan. Dewi , Iya namanya Dewi, tentu saja hatinya seelok namanya, Dewi. Tulus, ramah, dengan hati yang ikhlas berbagi, tangan yang tak enggan memberi dan kaki yang tak sulit berlari.  Ahh sudahlah. Pokok.a namanya Dewi dan dia seperti Dewi, kau bisa lihat sendiri. 
Dewi Anggraini

Tapi jangan berpikir bahwa aku jatuh cinta padanya. Tidak tidak, aku tidak gila mencintai sesama wanita. Ahh yang benar saja, mataku masih terpesona dengan lelaki senja. Jangan berpikir seperti itu lagi padaku ya. Aku tak meyukai wanita. Tidak suka , tapi jujur saja, aku menyayanginya. Iya, aku sayang.
Perlu tau, dia sebenarnya adalah salah satu sahabat terbaikku. Sahabat yang benar-benar sahabat. Sahabat yang tak satu ceritapun kami lewatkan. Sahabat berbagi, sahabat berlari, sahabat berjuang dan sahabat yang sangat berarti. Dia adalah sahabat pertama, yang kurasa adalah rumah, benar-benar rumah tanpa persaingan tersembunyi didalamnya. Sahabat yang berkaca sebagai sahabat. Sahabat yang kau sebut sebagai sahabat.
Dia kutemukan dikampusku sejak semester satu. Putri dosen yang sebenarnya bersahaja itu awalnya bersembunyi dibalik sikap yang penuh gaya. Awalnya kukira dia gadis luar kota, eh ternyata dia adalah kembang desa. Lucu saja kurasa, dengan gaya modis trend ala artis ibu kota mau kuliah di kampus sederhana dan jurusan diluar daya. Yah itulah kurasa sahabatku.
Dia dikenalkan oleh salah satu teman kampusku juga yang baru kukenal. Yah mulanya kami biasa saja, tak terlalu banyak bicara diantaranya. Tapi ntah dari mana asalnya, ketika kami mulai saling membuka cerita semua kata-kata mengalir begitu saja. Aku juga tak menyadari ternyata sudah banyak cerita tentang kehidupanku yang kubagi bersamanya dan aku juga sudah cukup tau banyak tentang cerita hidupnya.
Aku sebenarnya adalah mahasiswi yang paling tak betahan dikampus. Paling suntuk kalau sudah pagi tiba dan paling suka mengeluh jika banyak tugas menyerbu. Bahkan good moodku berubah drastis jika tapak kakiku sudah melewati pintu gerbang  kampus. Aku memang anti kampus, benar-benar anti. Kurasa lelah saja  jika aku berlama-lama dikampus dan menghabiskan waktu tak jelasku menunggu dosen. Itu hal-hal yang paling menyebalkan.
Tapi tanpa disadari,  kehadiran Dewi, kehadiran sahabat-sahabatku ternyata merubahnya. Yah mungkin karena Dewi juga, aku tidak terlalu suntuk untuk pergi ke kampus. Terkadang aku merasa  banyak cerita yang harus kusampaikan padanya hingga aku tak malas lagi jika pagi tiba. Aku sudah merasa biasa saja jika dirasa butuh banyak waktu untuk menunggu dosen. Malah terkadang aku  lupa dengan waktu menyebalkan itu.
Aku juga tak merasa harus cepat-cepat pulang ke kos karena di kampus aku sudah merasa biasa saja. Tak berasa saja, dan aku bisa merasa bahagia duduk di sudut-sudut kampus yang awalnya aku sama sekali tak suka. Semua mungkin karena dia, Dewi . Sahabatku yang mengubah rasa bosanku  akan kehidupan kampus.
Dewi banyak mengajari dan menasehati aku akan hal-hal kecil yang terkadang aku tak peduli. Dia selalu mengingatkan akan cara berjalanku, akan sholat lima waktuku, akan jam tidurku yang tak teratur. Dia juga selalu mengingatkan untuk tak membawa buku terlalu banyak dan tak membawa batu dalam tasku. Hahhha, sebenarnya bukan batu, aku juga tak pernah tahu mengapa tas ku selalu terasa berat. Aku sampai sering berkeringat dingin membawa tas berat itu. Tapi terkadang dengan penuh perhatian Dewi menukarkan tasnya yang tak berisi itu dengan tasku dan akhirnya dia yang membawa tasku. Romantis bukan ? Hahhha.
Dia juga sering menenangkan kegelisahanku. Jika aku sering terlalu khawatir dengan nilai ujianku yang buruk, dengan ketaksiapan tugasku dan dengan dosen-dosen kami yang mengerikan, dia selalu mengajariku tersenyum, sambil berkata" Udahlah, hadapi aja". Karena kata-katanya itulah aku belajar untuk jadi individu yang kuat hingga apapun yang akan terjadi akan selalu kuhadapi.
Kami punya hoby yang sama, suka menceritakan satu topik yang tak ada habisnya kami bicarakan,  hingga jika kalian melihat kami ketika bersama maka kalian akan melihat kami bercerita. Kalian akan melihat wajah keseriusan dan ketertarikan yang luar biasa diantara kami saat menceritakannya. Tapi aku rasa kalian tak perlu tau topik pembicaraan kami itu. Kurasa karena memang tak menarik untuk orang lain. Cukup kami berdua yang terkadang tak peduli situasi saat membahasnya.
Kami memiliki satu pandangan walau terkadang suka berselisih pilihan. Kami sama-sama suka berjalan, suka kepo sama semua hal, suka gila-gilaan dan paling suka fotoan. Kami selalu berfoto dimanapun kami sedang ingin berfoto. Kami selalu berfoto kapanpun kami sedang ingin berfoto. Tiada satu haripun yang kami lewatkan tanpa satu jepretan kamera. Terkadang kegilaan berfoto kami memang sangat  memalukan tapi sayangnya kami tak pernah peduli.
 
Tetep berfoto saat dosen kasih kuliah didepan :D


Kami juga suka jalan-jalan gak jelas. Aku sebagai anak perantauan dan dia sebagai anak pindahan memang terlalu kepo untuk menjelajahi kota ini. Kami memang  terlalu kepo untuk mendatangi semua tempat yang belum pernah kami datangi . Khususnya untuk makan, kami paling suka mencoba-coba semua tempat makan yang membuat kami penasaran . Meskipun sebenarnya selera kulinerku tak terlalu bagus, aku ikut saja kemanapun sahabatku ini meyetirku. Dalam pikirianku terpenting jika ada orang yang bertanya " Udah pernah makan disana ? " Maka dengan bangganya aku akan menjawab " Ohh disana. Uda , uda pernah." Kemudian jika pertanyaan itu berlanjut " Enak engga makan disana? ". Maka akan kujawab dengan senyum termanis sambil berkata" Enak gak ya. Gak tau deh. Cobak tanyak Dewi." Yah intinya aku sudah pernah saja mendatanginya. 
Salah satu tempat makan yang kami kepoin :D

Selain sudah begitu banyak cerita yang kami bagi, kami juga sudah punya begitu banyak cerita yang kami lewati bersama. Jika kami sudah merasa penat dengan waktu-waktu dikampus, merasa jenuh dengan aktivitas-aktivitas kampus , dia sering mengajakku untuk merefreshingkan pikiran. Mulai dari pergi ke tempat makan, belanja, duduk-duduk gak jelas, minum es buah di pinggir jalan, berenang berdua, karokean atau nonton bioskop. Perlu tahu, dewi adalah orang pertama yang mengajakku nonton bioskop , dan itu pertama kalinya juga aku akhirnya nonton bioskop. Hahhaha memalukan.
Kami juga salah satu laskar pejalan kaki yang tangguh. Kami pernah berjalan berkilo-kilo meter tapi anehnya kami tak pernah merasa lelah. Kau tau, kami bahkan pernah berjalan, dari UMSU ke WS glugur, kami sering berjalan dari Milo ke Merdeka Walk dan kami selalu berjalan dari simpang kosku ke kosanku bahkan kami pernah mengajak sahabatku lainnya untuk berjalan dari Carefour ke Milo. Alasannya mungkin klasik untuk lebih ekonomis, namun ku rasa itu alasan yang terlalu dibuat-buat. Karena kurasa sifat keekonomisan kami sebenarnya sudah mulai luntur.
Aku juga selalu menjadi korbannya jika tiap kali ada seseorang yang mengajaknya kopdaran. Dia memang sangat suka sosial media. Dia cewek yang terlalu ramah terkadang untuk membalas chat cowok-cowok yang belum dia kenal sama sekali. Dengan wajahnya yang jangan ditanya, sudah pasti banyak yang ingin memikatnya. Alhasil setelah melewati beberapa pengujian maka dia akan memutuskan untuk menemui beberapa lelaki dan akulah teman yang paling setia menemani. Aku sebenarnya sama sekali tak tertarik untuk aktivitas kopdaran seperti itu, tapi demi Dewi apalagi yang harus kulakukan. Yah setidaknya ada hikmahnya, aku banyak kenal lelaki dengan berbagai tingkah.
Hal yang paling tak terlupakan kurasa dalam cerita kami, ketika itu, untuk  kali pertama aku yang akan kopdaran dengan lelaki kenalanku via bbm. Sebenarnya aku terpaksa mau, karena Dewi yang memaksaku harus mau. Dia juga berjanji untuk menemani. Setelah merencanakan waktu dan tempat , kami memutuskan untuk bertemu sekaligus nonton di suatu tempat. Tapi sayangnya, ditengah perjalanan karena ketidak jelasannya akhirnya kopdaran kami itu gagal .
Akhirnya aku dan Dewi memutuskan untuk makan saja di Mc.Donalds  Merdeka Walk. Kami memang suka menghabisakan waktu disana dan sehabis itu duduk-duduk tak jelas di Lapangan Merdeka.  Namun kali itu, kami memutuskan sehabis makan itu kami mendatangi sebuah event yang cukup menarik di Lapangan Benteng. Tentu saja kami berjalan dari Merdeka Walk ke Lapangan Benteng. Kan tak terlalu jauh , tak masalah kurasa.
Ketika itu Dewi memakai highhells. Tentu saja dengan perjalanan ini dia merasa lelah dan kakinya terasa lecet. Namun untuk jalan pertama dia masih bisa menahannya. Setelah sampai di sana, kami sempatkan untuk berfoto sebentar dan akhirnya ketika itu kami berhasil foto bersama salah satu turis yang kebetulan ada disana. Setelah menyaksikan beberapa pertunjukannya akhirnya event itu selesai dan kami memutuskan untuk kembali ke Merdeka Walk lagi.

Narsis bareng bule hih


Aku punya niatan untuk berfoto sebentar di PT London Sumatera, karena itu akhirnya kami berjalan kembali menuju tempat itu yang memang searah dengan Merdeka Walk. Ditengah perjalanan Dewi  sudah tak tahan merasakan sakit kakinya, akhirnya aku berinisiatif untuk menukarkan sepatu kami untuk sementara. Taulah, aku cewek yang terkadang bukan cewek. Aku tak bisa memakai sepatu hells tinggi hingga akhirnya beberapa langkah saja aku berjalan, hells dewi putus dan aku hampir terjatuh. Seketika kami malah tertawa bersama dan orang-orang yang melihatnya pun ikut tertawa. Itu hal yang paling memalukan tapi kami tak terlalu peduli.
Akhirnya kami tetap saja berjalan, tapi kali ini Dewi yang memutuskan untuk tak memakai sepatu. Untungnya saja jalanan tak terlalu ramai hingga tak banyak yang memperhatikankan kami. Kami malah masih sempat tetap berfoto di London Sumatera tanpa alas kaki si Dewi. 
Pakek dulu sendalnya :p

Yah, karena komitmen senasib sepenanggungan, juga karena tidak ada didekat sana yang berjualan sendal, sesampainya di Merdeka Walk maka akulah yang bergantian berjalan tanpa alas kaki. Memalukan memang, tapi aku terkadang biasa saja dan tak peduli. Bukan sebuah dosa kurasa berjalan tanpa alas kaki. Dengan keadaan terpaksa saja dan aku tak mengapa. Tak berapa lama setelah kami menghabisakan makanan,akhirnya kami pulang dan aku tetap saja tak beralas kaki dalam angkutan umum itu. Siapa yang peduli pikirku. Benar-benar hari yang tak terlupakan. 
Seperti itulah sedikit cerita tentang kebersamaan kami, sedikit cerita tentang tingkah memalukan kami dan kami tetap tak peduli. Mungkin itu akan menjadi waktu-waktu terindah untuk dikenang kembali.
Sudah banyak yang kami lewati. Kami selalu berusaha untuk tetap bersama dalam susah dan bahagia. Kami juga sudah pernah bertengkar dan sempat satu semester lebih berjauhan karena keegoisanku. Tapi, nth darimana jalannya, akhirnya Tuhan kembali menyatukan kami. Dan perpisahan itu menjadi pelajaran paling berharga untuk kami agar lebih menghargai satu dan lainnya. Dan aku sangat berterimakasih karena Tuhan telah kembalikan sahabatku.
Dan aku rasa, persahabatan juga seperti cinta, yang tetap harus dijaga dan dihargai. Berusaha saling menjaga dan saling berbagi. Selalu ada apapun posisi yang akan dihadapi. Cintamu boleh pergi tapi kuharap persahabatanku sampai akhir hidup ini. Tuhan, izinkanlah dia menjadi sahabatku sampai kapan pun itu. Jangan pisahkan kami lagi dan Terimakasih buat semua cerita yang telah kami lewati. 
will be forever :)

Risma

Medan, 16-Maret-2014 03:48 WIB