Selasa, 16 Agustus 2016

Could I cry?

Andai saja bisa ku pinta pada Sang Penguasa, bolehkah ambil semua air mata yang ku punya. Atau bolehkah sekali saja  aku bersandar untuk menangis sepuas-puasnya. Aku selalu merasa lebih baik setelah menangis sehebat-hebatnya. Tapi aku pusing. Aku lelah. Aku ingin tidur, lelap dan lupa. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa pejamkan mata.

Tak ada siapapun disini. Tapi aku merasa seluruh dunia menertawakan keadaanku. Seketika aku merasa orang sebodoh-bodohnya yang ada di dunia. Seketika aku merasa mereka-mereka juara dan aku lah si pecundang yang jatuh, tersungkur dan tak akan ada yang mengulurkan tangan indahnya untuk membangunkanku.

Aku masih menangis . Masih sehebat-hebatnya.Bahkan yang ada disisiku tak akan pernah mengerti semua air mataku. Ataukah pada Hello Kitty merah jambu kusandarkan tangisanku . Karena dia tak akan mengeluh seberapa banyak air mata yang ku tumpahkan padanya tanpa bertanya mengapa. Seketika aku lega.

Diujung-ujung jemari yang selalu kau genggam, terdengar suara sendu lagu yang selalu mengantarkan kau dalam ingatanku. Aku kembali menjatuhkan air mata ku. Nanti aku bisa sakit. Tapi aku masih ingin membasahi  Hello Kitty merah jambu kesayanganku..

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa ada cinta sebaik-baiknya cinta untuk orang jahat-sejahatnya. Tapi bukankah dalam sejahat-jahatnya manusia pasti ada kebaikan didalamnya. Aku selalu percaya, hatiku selalu mau dia adalah orang terbaik yang selalu ku rasa semua baik-baik saja saat bersamanya. Semua seolah lebih baik ketika aku bersamanya. Haha, Hatiku tertipu. Sadarilah air mata yang terjatuh sebanyak-banyaknya yang bahkan dia tak ingin melihatnya.

Aku menutup mata, harap-harap cemas kumohonkan semoga ini hanya mimpi. Semoga semua yang terjadi hanya kekhawatiranku atau aku kembali ke beberapa waktu yang lalu dan merubah segalanya. Atau aku sama sekali tak pernah mengetahui semua hal yang akan menjatuhkan air mataku. Sudahlah semua sia-sia. Percuma. Ini nyata dan aku tak bisa menjadikannya maya.

Teruntuk engkau, yang saat menulis inipun masih saja mengalirkan air mataku. Tak pernah pun sekali aku berharap kau berbelas kasih. Aku tak mau mengganggumu. Aku hanya ingin kau tau. Demi senyapnya malam, demi lagu-lagu sendu di ujung telingaku, demi Hello Kitty merah jambu kesayanganku, tiada sayang yang bisa kukatakan lagi. Tiada kata lagi yang mampu kutitipkan untuk disampaikan oleh dinginnya malam seberapa sayangku untukmu. Tiada yang akan mengerti seberapa penuh hatiku akanmu.

Tapi sudahlah. Kurasa sudah cukup semua kecintaanku. Cukup tapi tak mungkin berhenti. Untukmu, berbahagialah dengan bahagiamu. Dan aku akan bahagia dengan kebahagiaanku. Aku hanya ingin menemukan hidup yang lebih baik lagi. Bahagia yang lebih baik lagi. Dan yang lebih baik adalah kehidupanmu yang lebih baik. .........

Aku sayang, sudah. Aku marah, tak bisa. Aku benci, percuma. Aku menyesal, sia-sia. Aku lupa, tak akan pernah.

Sekali saja kau goreskan luka pada wanita yang hatinya tulus penuh cinta. Dia tak akan mungkin lupa, tak akan mungkin tersembuhkan meskipun wajahnya tertawa.

 Dia, siapapun dia yang tak mampu lagi kusebut namanya dalam doa, aku takut Tuhan marah karena cinta yang terlalu.

Kamis, 03 Maret 2016

Yang Ku Ungkapkan Untuk Kecintaan


     Ntah lebih berat mana, menahan kehilangan atau kehilangan yang tertahan. Jika saja aku bertahan untuk kehilangan,  tak lebih menunda kesakitan yang akan mendalam. Namun aku tak ada daya untuk menahan kehilangan andai akhirnya itu yang harus kuhadapi. Tak lebih menyakitkan dari semua keadaan. Aku berada diujung pengharapanku Tuhan.

     Tak kutau, mencintaimu mungkin kesalahan yang telah merubah hidupku seutuhnya. Dari awal, aku tau apa yang akan kuhadapi bersamamu. Ahhh.. tapi rasanya aku butuh membebaskan hati untuk sedikit saja mencintaimu. Sedikit saja menjatuhkan hati. Sedikit saja, hanya sedikit saja aku ingin mencintaimu.
    Waktu bergulir disamping kita. Kubiarkan aku tetap bersamamu. Banyak, terlalu banyak tawa yang kita bawa bersama. Jauh, terlalu jauh aku iringkan langkahkahku mengikuti tapakmu. Membiasakan dan terbiasa bersamamu adalah hal yang selalu membahagiakan. Melupakan bahwa aku pernah benar-benar tersakiti. Melupakan hal yang sama menyakitkannya mungkin akan terulang lagi. Melupakan siapa aku. Melupakan sebagaimana seharusnya cintaku.

  Seiring waktu yang berjalan disamping mu, hati tak pernah diterka arah jalannya. Mulanya yang sedikit saja kusisihkan untuk mencintaimu, tak ku tau dari mana sebabnya ia meluas. Seutuhnya, segenap hati telah kujatuhkan akanmu. Seutuhnya, seluruh hati telah kubawakan untukmu. Lebih dari kutitipkan, kuberikan untuk satu-satunya cinta yang kukira semua akan baik-baik saja.

        Bukankah sudah ku tau bagaimana kedepannya. Aku selalu berharap bisa menjadi lebih, yang kau juga akan selalu perjuangkan untuk tetap bersamaku. Tapi semua tak semudah pengharapanku. Perjuangan ku untuk dapat selalu bersamamu malah menghilangkan keakuanku. Aku terlalu jauh mengikuti langkahmu. Samar-samar kuterka jalan kembaliku. Aku tersesat dalam duniamu. Aku rindu, aku rindu serindu rindunya pada jalan pulangku . Aku ingin pulang pada duniaku. Pada duniaku. Hidupmu bukan lah jalan kembaliku. Dan aku tak mungkin pada jalan yang bukan jalan kembaliku.  Tak mungkin pada jalan yang tak membawaku pulang kerumahku.

       Aku tersesat. Aku tersembunyi pada potongan-potongan mozaik akan kecintaan untukmu. Aku tak mampu menerka habis teka-teki hidup yang kujalani bersamamu. Langkah demi langkah semakin membawaku jauh. Menghilangkan jejak-jejak kembaliku. Aku terbawa. Semakin tak menau arah yang ku tempuh. Memburamkan pikiranku, melumpuhkan logikaku. Aku hilang dalam kisah kita. Aku menyerah. Satu langkah yang pasti. Pergi. Aku memilih pergi untuk kembali pada aku yang seutuhnya.

    Kini, tak pernah ku tau apa yang harus ku tangisi ketika aku memilih pergi untuk kembali pulang kerumahku. Jangan pernah tanya seberapa menyakitkan untuk melepaskan. Jangan pernah tanya mengapa aku memilih hal yang lebih menyakitkan. Hal yang perlu kau tau saja, semakin aku jauh pergi, semakin banyak langkahku berlari, maka sebegitu juga aku mencintai. Sebegitu juga aku menyayangi. Percaya lah..

    Cinta memang begitu, tak pernah berpihak pada yang ku mau. Cinta selalu begitu, tak akan pernah seperti apa yang ada dipikiranku. Dan entah mengapa ada cinta yang terlintas bagitu saja pada kita. Begitu saja dan merubah semuanya. Ahh sudah berapa kali aku mengenal cinta dan ini untuk pertama kalinya kukibarkan bendera menyerah. Membisu pada keadaan kita. Dan menyerahkan pada yang Maha Cinta. Entah apa rahasia dibalik perkenalan kita. Entah apa makna perkenalanku ku denganmu, denganmu yang tak mungkin menyentuh garis kehidupanku, tapi malah bertemu tepat pada satu waktu.

         Seandainya saja aku bisa meminta. Kau seharusnya sesederhana hujan- hujan manja dikala senja, yang enggan menetes bersama-sama. Menyejukkan dan tak membuatku merasa takut. Kau seharusya hidup dalam jalan pulangku. Dimana kau adalah rumah tempat ku kembali, tinggal dan berdiam selamanya. Kau seharusnya jalan yang tak menghilangkan siapa aku, jalan yang mententramkanku dalam likunya kehidupan yang semu. Kau seharusnya apa yang dapat dengan seisi hati kupertahankan tanpa melukai diri sendiri.

  Seharusnya cinta kita dapat membaikkan ku. Membaikanmu dan membaikkan cerita masa lalu kita. Seharusnya kau ada dalam cerita cinta dimana aku lah dalangnya. Bukan aku yang hidup dalam cerita cinta dimana kau adalah penyusunnya. Kau seharusnya mampu menyelamiku bukan untuk menenggelamkanku dalam samudera yang airnya tak pernah kusentuh.

    Namun tak mungkin kupaksakan untuk merubahmu sejalan dengan aku. Lelah, terlalu lelah aku menyesali diri untuk semua yang telah kita lewati, yang membawaku semakin mencintaimu. Tapi aku tak mungkin memilih lain dari ini. Aku ingin pergi. Aku ingin bebas mencintai ntah dari sudut apa yang ku cari. Maka biarkan aku mencintaimu dengan   hal yang sama saja juga menyakitkan diriku sendiri. Melepaskan. Maka biarkan aku mencintai tanpa meninggalkan apa yang tak mungkin kutinggalkan.

        Terakhir kali kuberitahu padamu. Kuungkapkan segala apa yang tertahan. Demi langkah-langkah yang tak pernah putus akan bayangmu. Demi senja-senja yang tak pernah hilang akan tawamu. Demi malam-malam yang tak pernah senyap akan suaramu. Dan demi hati yang selalu menahan akan keraguaanku. Aku mencintaimu. Dengan segenap hatiku. Dengan segenap yang telah bersih akan masalalu. Seutuhnya mencintaimu. Hanya kamu.

     Kau adalah orang yang kucintai setulus hati. Orang yang paling kusayangi dari segenap rinduku. Orang yang dengan menyerah ku pintakan namanya dalam doa-doaku. Orang yang takut untuk dijauhkan dariku. Orang yang kutinggalkan tapi tak mau untuk dihilangkan.Orang yang entah bagaimana caranya selalu ku inginkan untuk tetap disisiku ketika telah kutinggalkan. Orang yang masih kupintakan pada Tuhan untuk dijalankan pada jalan pulangku. Orang yang ku mohonkan agar Tuhan dapat merubahkan kehidupanmu bersamaku. Orang yang ku lepaskan karena kecintaan yang terlalu. Kau adalah orang yang kutitipkan bahagia ku. Tuhan, semoga ada yang lebih baik dari segala hal yang menyedihkan. Aku mencintaimu. Cukup. Bahagialah selalu...

By : Cima on 9th of February 2016.

Untuk kecintaan yang selalu ku sembunyikan, Achmad Fauzi Hasibuan.