Ya Allah,
sudah tanggal 6 lagi. Masih ada saja tanggal 6 ini di kalender ya. Bisakah
tanggal 6 ini tiba-tiba menghilang dari tiap bulannya. Satu tanggal saja, sudah
sudah cukup. Tapi akankah bulan-bulan tetap seperti sedia kala jika menghapusnya.
Apa salahnya dengan tanggal 6 itu. Bukankah tetap saja tanpa tanggal 6
tak sempurna. Tanggal 6 harus ada dan akan tetap ada di sana tanpa bisa aku
menghapusnya.
Sepertinya tak
habis-habis masalahku dengan tanggal 6 ini. Ahh tanggal 6 yang dimulai dengan
cinta berakhir masalah adalah bencana. Tapi sudahlah, tak perlu kupermasalahkan
lagi jika masih tetap ada dan akan selalu ada tanggal 6 ini. Biar saja dia
masih selalu tertulis di tiap bulannya. Biar saja dia masih berdiri anggun disana,
aku tak peduli. Bagiku, karena bagiku, taggal 6 itu tak akan pernah ada
lagi. Tanggal 6 akan terhenti disini. Tanggal 6 sudah tak perlu kuhitungi lagi,
dan ini tanggal 6 untuk terakhir kalinya. Tanggal 6 yang hanya sanggup
kuhitungi hingga keempat puluh satu bulan lamanya.
![]() |
| Taanggal 6 lagi tanggal 6 lagi~ |
Tanggal 6 ini, tanggal 6 yang terakhir kalinya , apa
kabar dia yang disana. Kuharap tawa dan bahagia selalu mendamaikannya.
Terpenting dia baik-baik saja tanpa aku
disampingnya. Setidaknya hanya itu yang kini mampu kuharapkan akan keadaanya.
Tak ada lagi, benar-benar tak ada lagi keinginanku untuk menghabiskan seharusnya
41 bulan usia kebersamaan kita.
Taukah, tapi
sebenarnya juga dia tak perlu tau, aku masih saja terbalut rindu hingga tanggal
6 ini. Aku dikelilingi dalam bilik yang dipenuhi kasih dan rindu untuknya. Kurasa sudah tak
ada lagi tempat yang bisa kudiami tanpa basuhan rindu. Terkadang serasa tak
adil, ketika rindu langit akan tetesan-tetesan air hujannya kini sudah mulai sering
terobati, tapi apa kabar rinduku ini. Ntah kapan rinduku bisa seperti rindunya
langit yang telah terobati itu. Nth kapan rinduku ini bisa terselesaikan. Tak
adil bukan.
Namun, beberapa
waktu kemarin, aku lupa kapan tepatnya, serasa rindu itu temukan polanya. Dia
boleh saja tetap merasuki, tapi akhirnya Tuhan mengerti dan menutupinya. Dini
hari itu , aku masih saja terbangun dan lagi-lagi teringat dia yang disana.
Kupilih untuk menyalakan telivisi karena kutau pagi ini team kebanggaannya Real
Madrid bertanding dengan Barcelona.
Sebenarnya aku
tak terlalu perlu untuk menontonya, tapi kurasa aku bisa mengurangi rindu-rindu
itu jika menontonya. Dia serasa dekat denganku karena kami pasti ada dalam tontonan tayangan yang sama. Bukankah itu
sudah jarak yang cukup dekat untukku.
Ahh, tapi kenapa tim kesayangan kami malah terkalahkan
dengan skor 3-4 untuk Barcelona. Dia pasti kecewa, aku juga ikut kecewa
untukknya. Malam itu kami juga berada dalam kekecewaan yang sama dan lagi -
lagi itu jarak yang cukup dekat buatku. Yah karena setelah subuh itu
pertandingan berakhir aku kembali ambil bagian tidurku yang tersita tadi.
Dalam tidurku
untuk keduakalinya itu, dia akhirnya berkunjung dimimpiku. Ntah bagaimana alur
mimpiku, aku lupa. Tapi tiba-tiba aku memeluknya. Aku bisa memeluknya lewat
mimpi itu dalam balutan rindu . Dan taukah, rasa pelukan itu sehangat pelukan pertama kalinya
untuk ku. Pelukannya masih saja sehangat
itu. Pelukan yang membuatku benar-benar
nyaman dalam keadaan apapun. Pelukan
yang mampu menenangkan kegelisahanku. Pelukan yang kurasa benar-benar nyaman
hingga dapat menghapus semua kesedihan akan kekecewaan. Pelukan inilah yang kurasa benar-benar rumah
yang kurindu itu. Aku ingin pulang, kembali
dan tinggal disini selamanya.
Tapi akhirnya aku terbangun dan ini tak lebih dari
mimpi. Aku baru tersadar ini hanya mimpi. Pelukan ini hanya mimpi yang
terasa begitu nyata. Jika saja aku sadari ini hanya mimpi, maka aku pasti tak
mau bangun lagi tadi. Dan memang benar,
betapapun
singkatnya pelukan yang hanya terjadi dalam mimpi, akan sangat berarti jika kau
begitu merindui.
Itulah
satu-satunya pelukan yang terkadang meredakan rinduku selama 2 bulan 9 hari
sampai tanggal 6 ini. Sejahat itukan dia yang tak pernah terlepas dari
doa-doaku, membiarkan aku mati dalam tumpukan rindu dan sepi. Tapi aku menikmati, aku masih menikmati dan
aku bahagia meski terkadang ku ingkari janjiku untuk berhenti mencintai. Aku
masih berusaha untuk itu, berhenti mencintai. Tapi entahlah, biarkan aku bahagia
bersama sisa-sisa cinta ini.
Untuk tanggal 6
terakhir kali ini, tak banyak yang ku mau darinya. Yah, rasanya mataku sudah
benar-benar terbuka akan sifat buruknya hingga semua harapan telah mati bersama
dia yang telah pergi. Dia pasti telah bahagia dengan jalan yang dia pilih dan
aku harus mencari bahagiaku sendiri
hingga tanggal 6 ini harus ku akhiri. Tak akan ada lagi tanggal 6 untuk
seharusnya usia kebersamaan. Ingatkah , 6 - November - 2010 lalu akhirnya terkubur
disini, 6-April-2014. Terimakasih atas semuanya, dan aku tetap tak memiliki
alasan untuk masih saja menyayanginya hingga tanggal 6 terakhir kali ini.
Tanggal 6 untuk terakhir kalinya, 6 November yang telah menemukan pembaringannya.
Mengharukkan.
![]() |
| Tanggal 6 for the last~ |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar