Minggu, 06 April 2014

Tanggal 6 Untuk Terakhir Kalinya




Ya Allah, sudah tanggal 6 lagi. Masih ada saja tanggal 6 ini di kalender ya. Bisakah tanggal 6 ini tiba-tiba menghilang dari tiap bulannya. Satu tanggal saja, sudah sudah cukup. Tapi  akankah bulan-bulan  tetap seperti sedia kala jika menghapusnya. Apa salahnya dengan tanggal 6 itu. Bukankah tetap saja tanpa tanggal 6 tak sempurna. Tanggal 6 harus ada dan akan tetap ada di sana tanpa bisa aku menghapusnya.
Sepertinya tak habis-habis masalahku dengan tanggal 6 ini. Ahh tanggal 6 yang dimulai dengan cinta berakhir masalah adalah bencana. Tapi sudahlah, tak perlu kupermasalahkan lagi jika masih tetap ada dan akan selalu ada tanggal 6 ini. Biar saja dia masih selalu tertulis di tiap bulannya. Biar saja dia masih berdiri anggun disana, aku tak peduli. Bagiku, karena bagiku, taggal 6 itu tak akan pernah ada lagi. Tanggal 6 akan terhenti disini. Tanggal 6 sudah tak perlu kuhitungi lagi, dan ini tanggal 6 untuk terakhir kalinya. Tanggal 6 yang hanya sanggup kuhitungi hingga keempat puluh satu bulan lamanya.  
Taanggal 6 lagi tanggal 6 lagi~
Tanggal 6  ini, tanggal 6 yang terakhir kalinya , apa kabar dia yang disana. Kuharap tawa dan bahagia selalu mendamaikannya. Terpenting dia  baik-baik saja tanpa aku disampingnya. Setidaknya hanya itu yang kini mampu kuharapkan akan keadaanya. Tak ada lagi, benar-benar tak ada lagi keinginanku untuk menghabiskan seharusnya 41 bulan usia kebersamaan kita.
Taukah, tapi sebenarnya juga dia tak perlu tau, aku masih saja terbalut rindu hingga tanggal 6 ini.  Aku dikelilingi  dalam bilik yang dipenuhi  kasih dan rindu untuknya. Kurasa sudah tak ada lagi tempat yang bisa kudiami tanpa basuhan rindu. Terkadang serasa tak adil, ketika rindu langit akan tetesan-tetesan air hujannya kini sudah mulai sering terobati, tapi apa kabar rinduku ini. Ntah kapan rinduku bisa seperti rindunya langit yang telah terobati itu. Nth kapan rinduku ini bisa terselesaikan. Tak adil bukan.
Namun, beberapa waktu kemarin, aku lupa kapan tepatnya, serasa rindu itu temukan polanya. Dia boleh saja tetap merasuki, tapi akhirnya Tuhan mengerti dan menutupinya. Dini hari itu , aku masih saja terbangun dan lagi-lagi teringat dia yang disana. Kupilih untuk menyalakan telivisi karena kutau pagi ini team kebanggaannya Real Madrid bertanding dengan Barcelona.
Sebenarnya aku tak terlalu perlu untuk menontonya, tapi kurasa aku bisa mengurangi rindu-rindu itu jika menontonya. Dia serasa dekat denganku karena kami pasti ada dalam  tontonan tayangan yang sama. Bukankah itu sudah jarak yang cukup dekat untukku.
Ahh, tapi  kenapa tim kesayangan kami malah terkalahkan dengan skor 3-4 untuk Barcelona. Dia pasti kecewa, aku juga ikut kecewa untukknya. Malam itu kami juga berada dalam kekecewaan yang sama dan lagi - lagi itu jarak yang cukup dekat buatku. Yah karena setelah subuh itu pertandingan berakhir aku kembali ambil bagian tidurku yang tersita tadi.
Dalam tidurku untuk keduakalinya itu, dia akhirnya berkunjung dimimpiku. Ntah bagaimana alur mimpiku, aku lupa. Tapi tiba-tiba aku memeluknya. Aku bisa memeluknya lewat mimpi itu dalam balutan rindu . Dan taukah, rasa  pelukan itu sehangat pelukan pertama kalinya untuk ku. Pelukannya masih saja  sehangat itu. Pelukan  yang membuatku benar-benar nyaman  dalam keadaan apapun. Pelukan yang mampu menenangkan kegelisahanku. Pelukan yang kurasa benar-benar nyaman hingga dapat menghapus semua kesedihan akan kekecewaan.  Pelukan inilah yang kurasa benar-benar rumah yang kurindu itu. Aku ingin pulang, kembali  dan tinggal disini selamanya.
Tapi  akhirnya aku terbangun dan ini tak lebih dari mimpi. Aku baru tersadar ini hanya mimpi. Pelukan ini hanya mimpi yang terasa begitu nyata. Jika saja aku sadari ini hanya mimpi, maka aku pasti tak mau bangun lagi tadi. Dan memang benar, betapapun singkatnya pelukan yang hanya terjadi dalam mimpi, akan sangat berarti jika kau begitu merindui.
Itulah satu-satunya pelukan yang terkadang meredakan rinduku selama 2 bulan 9 hari sampai tanggal 6 ini. Sejahat itukan dia yang tak pernah terlepas dari doa-doaku, membiarkan aku mati dalam tumpukan rindu dan sepi.  Tapi aku menikmati, aku masih menikmati dan aku bahagia meski terkadang ku ingkari janjiku untuk berhenti mencintai. Aku masih berusaha untuk itu, berhenti mencintai.  Tapi entahlah, biarkan aku bahagia bersama  sisa-sisa cinta ini.
Untuk tanggal 6 terakhir kali ini, tak banyak yang ku mau darinya. Yah, rasanya mataku sudah benar-benar terbuka akan sifat buruknya hingga semua harapan telah mati bersama dia yang telah pergi. Dia pasti telah bahagia dengan jalan yang dia pilih dan aku harus mencari bahagiaku sendiri  hingga tanggal 6 ini harus ku akhiri. Tak akan ada lagi tanggal 6 untuk seharusnya usia kebersamaan. Ingatkah , 6 - November - 2010 lalu akhirnya terkubur disini, 6-April-2014. Terimakasih atas semuanya, dan aku tetap tak memiliki alasan untuk masih saja menyayanginya hingga tanggal 6 terakhir kali ini. Tanggal 6 untuk terakhir kalinya, 6 November yang telah menemukan pembaringannya. Mengharukkan. 
Tanggal 6 for the last~

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar