Tiba-tiba saja aku berdiri disini. Aku terkejut. Dari mana
asalnya, darimana saja aku hingga terdampar ditempat ini. Apa yang telah
kulewati hingga membawaku kesini. Aku mencoba mengingatnya. Berusaha keras,
sekeras melupakannya. Tapi rasanya semua tak berawal, begitu saja, ntah dari
mana jalannya aku berdiri disini. Ntah dimana.
Ntah tempat apa yang sekarang kusinggahi. Kutatapi sekelilingku, kuamati tiap sudutnya.
Hanya kutemukan gedung disini. Kupalingkan wajahku berkali-kali, tak kutemukan
siapapun untuk bertanya. Ahh seperti kota mati saja.
Perlahan aku mulai berjalan mendekati gedung itu. Terlihat papan
bunga dihalaman depan, mungkin sedang ada acara didalamnya. Dengan tatapan
kosong, pikiran ku semakin hampa. Aku berjalan saja menuju papan bunga itu. Aku
meraba-raba tulisannya. Aku bertingkah sangat aneh. Tapi aku juga tak berpikir
mengapa aku bertingkah seaneh ini.
Aku tak membaca isinya. Aku hanya meraba-raba saja hingga akhirnya
tanganku tertusuk jarum yang ada disana. Tak berapa lama tanganku telah
dipenuhi darah. Sontak saja itu membuyarkan lamunan dan pikiran kosongku.
Dengan segera aku berjalan menjauhi papan bunga itu. Aku mulai berjalan keluar
dari tempat aneh ini.
Selangkah lagi langkahku menuju gerbang keluar, ntah pikiran apa
yang mendorongku hingga akhirnya aku menolehkan pandanganku sekali lagi
kebelakang. Kuamati sekali lagi papan bunga yang menyakitiku tadi. Kuamati
perlahan-lahan dan baru ku baca. Benar dugaanku, memang ada acara, tepatnya
acara pernikahan. Kubaca nama mempelainya. Rahaka Nugraha
. Sontak saja nafasku seperti terhenti.
Aku mulai mendekati papan bunga itu lagi. Ku baca kembali nama
dipapan bunga itu. Memang benar-benar nama lelaki yang sekeras itu kulupakan.
Dipapan bunga itu dia bersanding dengan wanitanya. Wanita yang belakangan
kutahu adalah kekasihnya. Ahh. Aku hampir terduduk lemas. Kakiku rasanya tak
bisa lagi menahan berat tubuhku. Tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya.
Dengan langkah gontai, tergesa-gesa dan tubuh gemetar aku berjalan
kedalam gedung . Tepat didepan gedung itu dapat dengan jelas kusaksikan tubuh
kurus tinggi dibalut kemeja putih dan jas hitam, rambut ikalnya ditimpa peci
hitam. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Dia sedang berjabat tangan
dengan lelaki paruh baya berpeci didepannya.
Disampingnya kulihat wanita itu. Dia berbalut kebaya putih-putih.
Rambutnya tersanggul rapi dan ditutup selendang putih.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku hanya
bisa berdiri terpatung disini. Aku mencoba memanggilnya. Sekuat tenaga, sekuat
aku membencinya. Tapi ntah kenapa aku tak bisa bersuara. Kupanggil
berkali-kali. Tapi mungkin sia-sia karna sama sekali suaraku hilang begitu
saja. Aku tertunduk mulai putus asa. Airmataku terjatuh membasahi tanah. Aku
berusaha menghapusnya.
Aku tak punya daya mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari
sini. Panggilan tak bersuaraku tentu saja tak bisa didengarnya. Tiba-tiba dia
bangkit. Ntah apa yang dikatakan kepada lelaki paruh baya itu dan wanitanya.
Dia berdiri dan berjalan keluar. Aku tak menyadari tiba-tiba saja dia telah
dihadapanku dan menarik tanganku. Dia membawaku kehalaman belakang gedung . Di
menyuruhku duduk disampingnya.
Dia mengangkat kepalaku yang masih saja tertunduk. Mataku sudah
terpenuhi airmata dan mulai sembab. Aku tak bisa menghentikannya.
"Udahlah, kitakan udah lama berlalu. Jangan ditangisi
lagi."
Suaranya memecahkan tangisanku. Membuat aku semakin tak bisa
menahannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Sejadi-jadi tiap malam aku
merindukannya. Tubuhku makin tak berdaya. Nafasku tertahan, isakanku makin
menggema.
Dia menarik tanganku, menatap mata sembabku. Aku semakin saja
rapuh, tubuhku melayu, benar-benar tak berdaya dihadapannya. Lalu dia menarikku
dan merangkul tubuhku. Dia menyandarkan kepalaku kedadanya. Aku makin saja
menangis dipelukannya. Air mataku
semakin tak bisa dihentikan. Isakanku
semakin menjadi. Tak ada yang bisa kukatakan.
" Udah, tenanglah. Kitakan udah berlalu lama. Kenapa masih
ditangisi kek gini lagi."
Katanya sambil mengusap-usap kepalaku. Aku tak peduli. Aku masih
saja menangis sejadi-jadinya. Dadaku serasa sangat sesak. Sakit saja rasanya.
Masih benar-benar terasa luka perpisahan beberapa tahun lalu.
"Aku juga gak kebayang nikah muda. Ahh aku masih dua puluh
tahun pun. Bayangin aja 5 tahun lagi pun aku masih 25 tahun. Udah nikah, udah
punyak anak lah itu. Ahh Gak taulah . Kok uda nikah gini aku ya"
Kata-katanya bisa saja membuatku ingin tertawa ditengah tangisan
yang sangat menyedihkan ini. Aku juga tak habis pikir tentang itu. Setelah
bertahun-tahun kami tak pernah bertemu kini dihadapanku dia telah menjadi
lelaki wanita lain. Dia akan menikah. Pernikahannya adalah perpisahan kami yang
tak akan mungkin menyatu lagi.
Aku masih saja menangis dipelukannya. Dia memang benar. Kami telah
berlalu benar-benar lama. Tapi ntah mengapa. Sakitnya masih benar-benar terasa.
Dia masih saja serasa milikku. Rasanya baru saja kemarin dia memelukku dan
kudengar degupan jantungnya. Detakan kehidupan. Waktu begitu cepat berlalu.
Rasanya tangisanku tak akan menemukan ujungnya. Bagaimana bisa aku
merelakan kehilangannya yang benar-benar hilang, tak akan ada lagi. Ahhh Hingga
sehampa apa lagi yang akan aku rasakan. Hingga berapa lama lagi aku hidup yang
tak hidup. Hingga kapan aku terkurung ntah dimana , tak pernah kutahu jalan
kembalinya. Bagaimana aku akan melewati semua ini tanpanya. Bagaimana lagi aku
menanti jika penantianku telah diberhentikan. Akan kemana aku pergi. Ya Allah
aku telah diujung harapanku.
Aku benar-benar tak mampu mengatakan apapun untuknya. Aku ingin
saja tetap berada dipelukan ini selamanya. Bagiku perpisahan kami yang lalu
belum bagian akhir dari kisah kami. Kami belum berakhir, belum benar-benar
berakhir. Inikah pengakhiranku, pengakhiran sekian lama penantianku.
Tak berapa lama seseorang datang dan memanggilnya. Dia segera
menarik badannya dan merapikan jasnya. Aku menarik tangannya. Aku masih saja
menangis. Isakanku tak mau berhenti. Nafasku makin saja terengah-engah. Aku
benar-benar tak mau dia pergi. Kita belum berakhir, kita belum berakhir.
" Udah tenang ya. Aku mau kesana. Aku harus selesaikan
pernikahanku dulu. Aku pergi ya"
Kemudian dia pergi dan meninggalkanku. Aku menangis
sederas-derasnya. Sederas hujan di November yang kuhabiskan tanpanya. Dadaku
makin sesak dan terasa begitu sakit.
Jantungku berdegup tak beraturan. Tubuhku menggigil. Dingin. Sedingin hati yang
tak pernah tersentuh cinta lagi.
Aku tak tahan. Aku benar-benar tak kuat lagi. Aku teriak
sekuat-kuatnya. Sekuat cinta ini yang tak pernah memudar untuknya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
.
Aku tersentak. Aku terduduk di tempat tidur. Mimpi itu
membangunkan tidurku. Aku baru tersadar itu hanya mimpi. Itu mimpi. Tapi
sakitnya benar-benar terasa. Sesakit merindukan sosoknya yang tak pernah ada
lagi. Kemudian aku menenangkan pikiranku.
Kulihat jam weker yang berdiri gagah disamping fotonya. Masih
pukul 03 pagi. Aku memilih untuk beranjak dan tak ingin tidur lagi. Aku berdiri
di balkon kamarku. Mataku jauh menerawang. Ntah apa yang kupikirkan. Aku
merindukannya. Hampa.
Angin berhembus. Rintik-rintik hujan mulai terasa. Aromanya menenangkanku sejenak dan
mendinginkan amarahku. Sekilas aku melihat bayangan hitam didepan gerbang
rumahku. Hujan yang makin mengguyur membuyarkan bayangannya. Samar-samar
kulihat dia tersenyum. Aku ingat senyumannya. Aku benar-benar memahami setiap
simpul senyum itu.
Aku segera berlari kebawah. Membuka pintu rumah dan keluar
menemuinya. Hujan makin saja derasnya. Sederas tangisanku kali ini. Langkah ku
terhenti tepat dihadapannya. Aku menikmati setiap pancaran diwajahnya. Air
mataku bercampur dengan hujan kala ini. Tangisanku makin saja tak terbendung.
Lebih hebat dari hujan ini. Isakanku berlomba dengan gemuruh deru hujan .
Dengan segera aku memeluknya. Seerat-eratnya. Seerat dia berdiam
dipikiranku selama ini.
Aku menangis, lagi-lagi hanya bisa menangis.
" Bawa aku pulang ka.
Bawa aku pulang"
![]() |
| I can't say anything |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar