Move . . . . . movee. . . . and
moving on. Aku benci kata-kata itu. Kau
tahu, kata-kata itu membuat aku menjadi munafik dan bukan diriku sendiri.
Bagaimana mungkin aku harus melakukan hal-hal yang ku benci. Bagaimana mungkin
aku harus menikmati dan meneruskan hal-hal yang justru menyiksaku yang kata
kebanyakan orang untuk membahagiakanku. Apa mereka tahu rasanya. Mengapa mereka
bilang ini satu-satunya solusi terbaik untuk kebahagiaanku padahal aku sungguh
sangat menderita dengan semua ini.
Ahhh. Bagian yang sangat sulit kurasa
dalam hidupku. Membenci orang yang benar-benar masih ku sayangi. Kata mereka,
dia terlalu jahat untukku. Dia meninggalkanku , menyakitiku dan kini dia
bersama yang lain. Kata mereka, aku harus menerimanya dan mencoba melupakannya.
Kata mereka, aku harus move on, buat apa memikirkan orang yang tak pernah
memikirkan kita. Kata mereka , kata mereka dan kata mereka.
Tapi tidak kah kalian tahu apa
kataku. Aku juga merasa tersakiti. Aku juga tersiksa, karna semua yang mereka
katakan akulah yang sungguh-sungguh merasakan. Apakah mereka tahu. Aku selalu
berjuang untuk melupakannya, berjuang untuk tak menghubunginya. Tapi apa mereka
rasa, tiap bangun tidurku aku teringatnya, khawatir yang tak biasa
menyinggahiku dan menyadarkan ku dia bukan milikkku lagi. Apa mereka rasa ketika rindu itu
menggebu-gebu dan aku sangat ingin menghubunginya. Tapi semua harus ku tahan
demi move yang katanya akan buat ku bahagia.
Mereka tidak tahu kan. Terlalu banyak
yang ku khawatirkan tanpanya. Aku juga tak pernah benar-benar paham apa yang ku
khawatirkan. Nth apa yang membuat dia terlalu membekas dihatiku sampai rasanya
sulit untuk dilepaskan. Aku benci harus belajar tanpanya. Aku benci lalui
hari-hari tanpa mengetahui kabarnya. Aku benci melihatnya melupakanku yang
masih benar-benar menyayanginya. Aku benci melihatnya bahagia bersama yang lain
karna yang aku mau kami bahagia bersama.
Aku sudah mencoba segala cara untuk
menghapusnya dari memoriku. Atau sekedar melupakannya dan tak lagi berharap padanya.
Semua cara telah aku lakukan. Dari mencari yang baru , menyibukkan diri , mengingat
keburukannya menghabiskan waktu bersama teman , tak mau kepoin kabar tentangnya
bahkan mendoakan agar aku bisa benar-benar melupakannya. Tapi kenapa semua itu
sama saja. Sia-sia dan semua usaha tak ada yang berpihak padaku.
Aku tahu untuk bangun aku harus
bangkit dan melupakannya. Apa yang harus ku lakukan agar aku bisa bangkit. Aku
sudah mencoba, sudah. Aku tak menyerah, bukan. Tapi bagaimana mungkin aku harus
bangkit ketika aku mencoba membuka hati, setiap lelaki yang mengetuk pintu
malah semakin membuatku terjatuh. Setiap lelaki yang mencoba berada disampingku
malah semakin menghadirkan dia si masa
lalu yang paling merindukan itu. Apa yang sebenarnya terjadi ketika aku mencoba
menepi malah mereka-mereka yang baru makin mengingatkan dia yang dulu dan aku
tak sanggup untuk melupakannya
Bagaimana mungkin aku harus
membencinya. Ketika tiap-tiap kali aku mengingat keburukannya aku hanya bisa
bernafas panjang dan semakin membuat hatiku pilu. Mencintai yang telah
menyakiti, hatiku semakin pilu dengan kebodohan itu.Bagaimana bisa tiap-tiap
keburukannya malah menghadiahkanku ingatan akan tatapan matanya yang tulus itu.
Tiap-tiap keburukannya malah mengingatkan perjuangan dan pengorbanannya dulu.
Dia tak lebih dari lelaki misteri yang kurasa mencintaiku tapi lebih memilih
menyakitiku. Aku masih bodoh, masih saja bodoh mengingat kesungguhannya
meluluhkan hatiku tanpa memeprtimbangkan sakit yang kini kurasakan karenanya.
Bagaimana bisa aku menikmati
waktu-waktu bersama teman untuk menghilangkan beban hatiku ketika diantara
keramaian-keramaian yang ada dia mampu hadir tertawa bersama. Dia punya ilmu
apa hingga ketika dikala keramain itu aku hanya merasakan sepi, kesepian tak
berujung akan sosoknya yang telah pergi. Bagaimana bisa tawa-tawanya,
bentakan-bentakan kasarnya seakan selalu mengejarku, tepat berada dibelakangku
yang terus saja mengejarku ketika aku memilih berlari dari kenangan itu.
Mengapa bisa seperti ini, ketika aku
menyibukkan diri aku malah kesibukan dengan menceritakan dia yang dulu kembali.
Ketika aku menyibukkan diri aku malah lebih memilih menyibukkan mengingat-ingingatnya
kembali dalam tulisan ini. Ketika aku menyibukkan diri hanya dia inspirasi yang
tak terperi. Membuatku dengan sangat luarbiasanya menceritakan setiap
detik-detik yang pernah kami lewati. Mengapa bisa terjadi seperti ini.
Belum lagi ketika aku memilih tak mau lagi tahu tentang
kabarnya. Malah terkadang ketika aku tak peduli lagi, aku tetap memilih untuk mencintai. Lalu aku
merasa aku bodoh. Aku tak pernah tau seperti apa dia disana tapi seenaknya saja
masih membuatku tergila-gila. Itu makin membuatku haus akan kabarnya yang ku
pikir akan mampu membukakan mataku untuk membencinya. Hingga akhirnya aku
terpaksa mencari taunya. Tapi nyatanya membuatku terlihat lebih bodoh. Makin
tak ingin melepaskan orang yang jelas-jelas telah melepaskanku. Aku bodoh dan
paling bodoh.
Akhirnya aku hanya bisa berdoa untuk
melupakannya. Tapi malah apa yang terjadi. Aku hanya bisa terdiam. Terdiam
untuk beberapa saat . Kemudian meneteskan airmata, menghela nafas panjang dan
mengatakan, “Tuhan, aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Masihkah aku boleh
menyayanginya.Tetap menyayanginya.” Lalu tetesan airmata itu semakin membasahi
dan aku terus terdiam. Terdiam dan terdiam sambil menyerukan namanya didalam
hati. Tuhan, maafkan aku untuk kesalahanku mencintainya sampai seperti ini.
Maafkan aku dan tuntun lah aku dalam jalan-Mu.
Aku merasa rendah sangat rendah.
Setelah apa yang ku lakukan malah lebih membodohkanku. Menyadari dia tak pernah
bisa berbuat banyak dihidupku malah masih ku inginkan kembali. Aku selalu kalah
dengan rasa. Aku selalu memenagkan keegoisanku menyayanginya tanpa melihat
keadaan hati yang mungkin sudah tak berbentuk lagi. Aku malah lebih memilih
tutup telinga dengan semua perkataan yang membaikkan ku dan lebih mempercayai
diri sendiri. Aku tak lebih dari seorang looser.
Ntah apa yang ada dipelupuk mataku kala ini. Apakah ini sebuah hukuman
atau sebuah pelajaran yang harus ku hadapi dan kulewati. Ini tak lebih dari
nightmare yang benar-benar menyiksaku. Aku selalu berharap ini memang
benar-benar mimpi buruk yang pasti akan terlewati ketika aku bangun nanti. Dan tolong bangun kan aku sekarang
juga. Jangan biarkan aku tertidur kembali. Aku tak mau bermimpi lagi. Tak mau,
kau mengerti.
Aku sudah lelah, tapi hatiku tak mau
jera mengasihinya. Aku sudah mengerti tapi seisi kenangan itu tak mau terhenti.
Aku menyerah tapi kau makin saja menginjak-injak logika dan menarikku untuk
tetap mengingatmu. Tolonglah, aku bisa gila dan aku tak mau gila. Bisa kah
bangun kan aku dan bawa aku pergi dari ini. Bisakah hati sedikit saja berdamai
dengan diri. Mengalah lah, aku sudah hampir mati.
Akhirnya aku sejenak terhenti menerka
apa yang akan ku lakui. Aku akan menghentikan kemoveonanku dan berhenti
menyiksa diri sendiri. Aku tak mau memaksa untuk mengusirnya pergi dari hati.
Ketika logika dan perasaanmu saling menyeberangi maka kau memang akan sulit
untuk memutuskan seperti aku. Terpaksa harus memilih untuk berhenti dari ini.
Dari kemoveonan ini. Aku berhenti dan aku tak mau memaksanya lagi.
Aku masih menggenggam fotonya dengan
sangat erat. Kemudian menatapnya dalam-dalam hingga mataku terasa perih dan
berair. Berair dan membasahi foto itu. Bisakah beritahu pada lelaki ini
bagaimana keadaanku saat ini. Beberapa orang coba memamarahi dan menyalahkanku,
tapi mereka tak mengerti, aku tidak gila, dan tak akan gila. Aku hanya gadis
yang patah hati.
![]() |
| Memandangi foto tak seberapa |
![]() |
| Foto tak seberapa itu :3 |
Aku tahu semua ini memang tak masuk
akal. Aku seakan-akan memberatkan apa yang seharusnya mudah menjadi sangat
sulit. Tapi apalagi yang bisa kulakukan. How can I move on, when I’m still in
love with you.
Mungkin orang-orang akan
membicaraakan ku, mentertawakanku karena aku masih saja menunggu. Mungkin aku
akan terkenal sebagai gadis yang tak bisa pergi dan berpindah. Mungkin mereka
akan terus berpikir kalau aku tak kan berpindah. Mungkin mereka akan berkata
untuk apa aku tetap menunggu.Tapi kuharap kau yang dengar itu. Karena aku
menunggu hanya untukmu, sehari, sebulan, setahun ntah seberapa lamapun itu. Ku
harap kau tahu.
Karena suatu hari nanti aku berpikir
kau akan terbangun dan menyadari. Dan mungkin tanpa sengaja kau akan mendengar
kabar keadaanku. Kau akan merindukanku lagi dan kau kembali karena kau tahu
semua ini untukmu. Kau akan mencariku dan kau akan tetap menemuiku disini. Lalu
kau akan tetap mendengar aku menyenandungkan lagu ini :
Cause if one day you
wake up
And find that you’re
missing me
And your heart starts
to wonder where on this earth I could be
And you’d see me
waiting for you
On the corner of the street.
On the corner of the street.
So I’m not moving . .I’m
not moving . . .
Going
back to the corner
Where
I first saw you
Gonna
camp in my sleeping bag
I’m
not gonna move.
Aku selau berharap keajaiban itu datang . Dan keajaiban itu
dalah dirimu~.
| Hold my hand forever :) |
Inspirated by The
Script songs , “The Man who Can’t be
Moved”
Risma
Risma
20-Januari-2014. 16:15 WIB


Tidak ada komentar:
Posting Komentar