Malam
ini. Iya malam lagi. Terus-terus selalu cerita tentang malam di waktu
malam-malam. Kenapa harus malam. Kenapa
tentang saat gelap gulita , hitam temaram . Aku juga tak mengerti. Jangan
tanyakan itu padaku lagi. Yah mungkin karena semenjak kepergianmu hati ini
sudah menjadi malam. Yah seperti malam tak bercahaya hitam temaram. Mungkin
seperti itu hingga selalu malam dan tepat di malam-malam. Sekali lagi ku
beritahu aku juga tak mengerti.
Malam
ini, tepatnya memang tiap-tiap malam aku selalu mengingatmu. Tak ada satu
malampun yang berhasil melarikanku dari guratan-guratan bayangmu dalam
kenangan. Tak ada satu malampun yang berhasil membawaku pergi dari
keegoisan-keegosian perasaan sayangku yang tak kau hiraukan. Dan tak ada satu
malam pun yang berhasil menyadarkanku akan logika-logika kekecewaan.
Huhh
malam bisa saja. Makin kemari makin ku benci. Aku benci . Mungkin. Padahal dulu
aku sangat menyukai malam. Dulu, waktu dulu kali, waktu kita masih punya waktu
untuk bersama , malam memberi kita kisah tersendiri yang mungkin tak
tergantikan bagiku. Malam beri kita dunia berbeda hingga kita seoalah menyatu
dalam satu ruang. Iya satu dunia. Dunia kita ketika malam ada dan tercipta.
Iya.
Aku teringat. Tiap-tiap malam selama perjalanan kisah satu setengah tahun kita
aku selalu temui kata "Sayang kau Ma" atau "Sayang kali sama kau
Ma" sebelum tidurku. Tiap malam tiap-tiap aku berjuang untuk studiku, kau
selalu ada disampingku, bukan sekedar mendukungku tapi juga menemaniku. Aku tak
perlu repot-repot memasang jam alaramku karena di ujung telepon sana kau sudah
siap membangunkanku.
Aku
masih ingat, masih sangat ingat, di malam-malam kau menahan kantuk mu , kau
masih saja berusaha menahannya untuk menemaniku belajar sampai pagi dan tak
pernah kau keluhkan itu. Aku masih juga ingat ketika aku tak miliki waktu
istirahat karena tugasku, kau tetap terjaga sampai sepertiga malam untuk
membuktikan kesetiaanmu.
Ahh.
Malam memang makin saja mengingatkan akan kita yang dulu. Dulu dulu dulu aku
benci. Kenapa bukan kita yang selamanya. Selama-lamanya. Aku mau.
Satu hal dari sekian banyak hal-hal yang tak pernah terlupa olehku, belum kutemui lagi selain tak denganmu. Ketika tiap-tiap malam dimana kita memiliki jam tidur yang lebih lama, lebih cepat dari biasanya, malam masih tetap ingin menyatukan kita berdua.
Satu hal dari sekian banyak hal-hal yang tak pernah terlupa olehku, belum kutemui lagi selain tak denganmu. Ketika tiap-tiap malam dimana kita memiliki jam tidur yang lebih lama, lebih cepat dari biasanya, malam masih tetap ingin menyatukan kita berdua.
Saat
kita lebih memilih untuk tidur lebih dulu dari biasanya, aku sering terbangun
di sepertiga malam itu. Nth karena rindu ntah karena aku memang terbangun
begitu saja, aku pasti langsung mengirimi mu pesan singkat. Satu menit , dua
menit dan tak berapa lama. Kau ternyata membalasnya. Ku kira kau tak tertidur
tetapi ternyata kau juga terbangun dan langsung melihat pesan singkatku. Dan
malam itu kita habiskan kembali untuk bertukar rindu.
Tak
jauh beda ketika kau juga terbangun dari tidur mu di malam-malam larut itu. Kau
juga langsung mengirimi ku pesan. Dan anehnya, suara alaram dari yang normal
sampai sekeras apapun tak pernah berhasil membangunkanku, tapi getaran ponsel
dari pesanmu dapat membukakan mataku. Hanya getaran saja mampu membuatku
terbangun dari tidurku. Sekejap aku langsung melihat dan membalasnya dan kita
kembali habiskan malam untuk bertukar rindu.
Itu
mungkin kisah dari sekian malam yang sekarang masih tetap menjeratku dalam
malamku. Malamku, aku benci, benci. Kenapa hanya malamku bukan malam milik
kita. Malam milik kita, milik kita, aku mau, mau.
Yah
mungkin itu juga alasan kenapa malam selalu membangunkan aku untuk
merindukanmu. Kenapa malam masih ingin mengingatkan aku padamu. Apakah malam
juga ingin kita kembali pada dunia yang dulu-dulu. Apakah malam juga tak ingin
kan perpisahan ini dan tak restui kepergianmu. Tetapi kenapa malam hanya
memanggilku. Tidak kah malam bisa memanggilmu dan membawamu kembali pada
malam-malam kita dulu.
Malam
ini, masih saja memaksaku memikirkanmu , tapi tanpa kekasih barumu. Malam ini
sudah semakin larut, hingga aku mungkin kehilangan ibadah sepertiga malamku
untuk menceritakan kerinduanku pada Tuhanku. Malam ini sudah semakin larut,
selarut rinduku akan hadirmu.
Tapi
malam ini tak memugkinkan kita untuk bertukar rindu. Tak mungkin rasanya aku
mengirimimu pesan seperti dulu yang biasanya kulakukan saat aku terbangun dari
tidurku. Dan tak mungkin lagi rasanya mengharapkanmu diujung pesan-pesan itu
untuk sekedar mendegarkan ceritaku. Mengapa sekarang seperti itu, nthlah.
Mungkin aku mulai menyadari kau (bukan) milikku lagi dan aku (telah)
kehilanganmu. Aku benci. Benci.
Malam
ini kembali menjatuhkan airmataku. Nth harus seberapa banyak airmata yang perlu
aku hadiahkan padamu agar kau juga merasakanku. Merasakan malam-malam kita.
Seandainya airmata mampu memberitahumu lebih banyak dari malam-malam kita,
masih mungkinkah kau kembali seperti dulu. Masih pantaskah ku tanyakan itu.
Aku
tak tau. Jelas-jelas tak tau. Nth seberapa pantas kau ada di balik
kerinduan-kerinduan itu. Dibalik tetesan-tetesan airmata doa tentangmu. Adakah
kekasihmu mencintaimu seperti aku mengasihimu. Nth lah. Itu bukan urusanku. Aku
hanya menyayangimu. Seperti itu menyayangimu. Akankah kau rasakan itu. Nth lah.
Itu bukan urusanku. Aku hanya menyayangimu. Seperti airmata dan malam-malam
kita dulu. Bisakah mereka memanggilmu kembali. Masih pantaskah ku tanyakan itu
.
Sayang,
malam ini aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu. Merindukanmu. Masih bisakah kita bertemu. Masih bisa kah
kau genggam sela-sela jemari tanganku dengan jemari tanganmu. Masih bisakah kau
cium hangat keningku. Aku sangat rindu.
Sangat rindu. Rindu.
Masih
bisakah ku baringkan lelahku dipundakmu. Masih bisa kah kulihat hangat senyuman
mu . Masih bisakah ku dengar suara parau nyanyian mu. Masih bisakah kau peluk
aku hingga terdengar degupan jantungmu yang seakan berdetak berkejaran. Aku
rindu. Rindu. Apakah kau juga merindukanku .Masih pantaskah ku tanyakan itu .
Bisakah kau hapus airmataku dan mendekap aku
dalam malam kita lewat untaian doamu. Masih pantaskah ku tanyakan itu. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar