Rabu, 12 Februari 2014

Masih Pantaskah Ku Tanyakan Itu



Malam ini. Iya malam lagi. Terus-terus selalu cerita tentang malam di waktu malam-malam.  Kenapa harus malam. Kenapa tentang saat gelap gulita , hitam temaram . Aku juga tak mengerti. Jangan tanyakan itu padaku lagi. Yah mungkin karena semenjak kepergianmu hati ini sudah menjadi malam. Yah seperti malam tak bercahaya hitam temaram. Mungkin seperti itu hingga selalu malam dan tepat di malam-malam. Sekali lagi ku beritahu aku juga tak mengerti.
Malam ini, tepatnya memang tiap-tiap malam aku selalu mengingatmu. Tak ada satu malampun yang berhasil melarikanku dari guratan-guratan bayangmu dalam kenangan. Tak ada satu malampun yang berhasil membawaku pergi dari keegoisan-keegosian perasaan sayangku yang tak kau hiraukan. Dan tak ada satu malam pun yang berhasil menyadarkanku akan logika-logika kekecewaan.
Huhh malam bisa saja. Makin kemari makin ku benci. Aku benci . Mungkin. Padahal dulu aku sangat menyukai malam. Dulu, waktu dulu kali, waktu kita masih punya waktu untuk bersama , malam memberi kita kisah tersendiri yang mungkin tak tergantikan bagiku. Malam beri kita dunia berbeda hingga kita seoalah menyatu dalam satu ruang. Iya satu dunia. Dunia kita ketika malam ada dan tercipta.
Iya. Aku teringat. Tiap-tiap malam selama perjalanan kisah satu setengah tahun kita aku selalu temui kata "Sayang kau Ma" atau "Sayang kali sama kau Ma" sebelum tidurku. Tiap malam tiap-tiap aku berjuang untuk studiku, kau selalu ada disampingku, bukan sekedar mendukungku tapi juga menemaniku. Aku tak perlu repot-repot memasang jam alaramku karena di ujung telepon sana kau sudah siap membangunkanku.
Aku masih ingat, masih sangat ingat, di malam-malam kau menahan kantuk mu , kau masih saja berusaha menahannya untuk menemaniku belajar sampai pagi dan tak pernah kau keluhkan itu. Aku masih juga ingat ketika aku tak miliki waktu istirahat karena tugasku, kau tetap terjaga sampai sepertiga malam untuk membuktikan kesetiaanmu.
Ahh. Malam memang makin saja mengingatkan akan kita yang dulu. Dulu dulu dulu aku benci. Kenapa bukan kita yang selamanya. Selama-lamanya. Aku mau.
 Satu hal dari sekian banyak hal-hal yang tak pernah terlupa olehku, belum kutemui lagi selain tak denganmu. Ketika  tiap-tiap malam dimana kita memiliki jam tidur yang lebih lama, lebih cepat dari biasanya, malam masih tetap ingin menyatukan kita berdua.
Saat kita lebih memilih untuk tidur lebih dulu dari biasanya, aku sering terbangun di sepertiga malam itu. Nth karena rindu ntah karena aku memang terbangun begitu saja, aku pasti langsung mengirimi mu pesan singkat. Satu menit , dua menit dan tak berapa lama. Kau ternyata membalasnya. Ku kira kau tak tertidur tetapi ternyata kau juga terbangun dan langsung melihat pesan singkatku. Dan malam itu kita habiskan kembali untuk bertukar rindu.
Tak jauh beda ketika kau juga terbangun dari tidur mu di malam-malam larut itu. Kau juga langsung mengirimi ku pesan. Dan anehnya, suara alaram dari yang normal sampai sekeras apapun tak pernah berhasil membangunkanku, tapi getaran ponsel dari pesanmu dapat membukakan mataku. Hanya getaran saja mampu membuatku terbangun dari tidurku. Sekejap aku langsung melihat dan membalasnya dan kita kembali habiskan malam untuk bertukar rindu.
Itu mungkin kisah dari sekian malam yang sekarang masih tetap menjeratku dalam malamku. Malamku, aku benci, benci. Kenapa hanya malamku bukan malam milik kita. Malam milik kita, milik kita, aku mau, mau.
Yah mungkin itu juga alasan kenapa malam selalu membangunkan aku untuk merindukanmu. Kenapa malam masih ingin mengingatkan aku padamu. Apakah malam juga ingin kita kembali pada dunia yang dulu-dulu. Apakah malam juga tak ingin kan perpisahan ini dan tak restui kepergianmu. Tetapi kenapa malam hanya memanggilku. Tidak kah malam bisa memanggilmu dan membawamu kembali pada malam-malam kita dulu.
Malam ini, masih saja memaksaku memikirkanmu , tapi tanpa kekasih barumu. Malam ini sudah semakin larut, hingga aku mungkin kehilangan ibadah sepertiga malamku untuk menceritakan kerinduanku pada Tuhanku. Malam ini sudah semakin larut, selarut rinduku akan hadirmu.
Tapi malam ini tak memugkinkan kita untuk bertukar rindu. Tak mungkin rasanya aku mengirimimu pesan seperti dulu yang biasanya kulakukan saat aku terbangun dari tidurku. Dan tak mungkin lagi rasanya mengharapkanmu diujung pesan-pesan itu untuk sekedar mendegarkan ceritaku. Mengapa sekarang seperti itu, nthlah. Mungkin aku mulai menyadari kau (bukan) milikku lagi dan aku (telah) kehilanganmu. Aku benci. Benci.
Malam ini kembali menjatuhkan airmataku. Nth harus seberapa banyak airmata yang perlu aku hadiahkan padamu agar kau juga merasakanku. Merasakan malam-malam kita. Seandainya airmata mampu memberitahumu lebih banyak dari malam-malam kita, masih mungkinkah kau kembali seperti dulu. Masih pantaskah ku tanyakan itu.
Aku tak tau. Jelas-jelas tak tau. Nth seberapa pantas kau ada di balik kerinduan-kerinduan itu. Dibalik tetesan-tetesan airmata doa tentangmu. Adakah kekasihmu mencintaimu seperti aku mengasihimu. Nth lah. Itu bukan urusanku. Aku hanya menyayangimu. Seperti itu menyayangimu. Akankah kau rasakan itu. Nth lah. Itu bukan urusanku. Aku hanya menyayangimu. Seperti airmata dan malam-malam kita dulu. Bisakah mereka memanggilmu kembali. Masih pantaskah ku tanyakan itu .
Sayang, malam ini aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu. Merindukanmu.  Masih bisakah kita bertemu. Masih bisa kah kau genggam sela-sela jemari tanganku dengan jemari tanganmu. Masih bisakah kau cium hangat keningku. Aku sangat  rindu. Sangat rindu. Rindu.
Masih bisakah ku baringkan lelahku dipundakmu. Masih bisa kah kulihat hangat senyuman mu . Masih bisakah ku dengar suara parau nyanyian mu. Masih bisakah kau peluk aku hingga terdengar degupan jantungmu yang seakan berdetak berkejaran. Aku rindu. Rindu. Apakah kau juga merindukanku .Masih pantaskah ku tanyakan itu .
Bisakah peluk aku :(

Bisakah kau hapus airmataku dan mendekap aku dalam malam kita lewat untaian doamu. Masih pantaskah ku tanyakan itu.  





   Risma                                  

                                                                             Pematang Siantar, 18 Januari 2014,03:35 WIB  
            
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar