Rabu, 12 Februari 2014

Namamu dalam Barisan Doaku



Malam ini, setelah beberapa waktu, entah beberapa lama kepergianmu, setelah beberapa waktu, ntah beberapa kali kemove on nanku, aku mulai terbiasa tanpamu. Suasana hatiku mulai membaik, perlahan tapi pasti ketenangan itu ku rasakan. Meski terkadang gelisah dan khawatir itu masih menghampiri, aku juga sudah mulai terbiasa. Nth mengapa, nth apa yang ku khawatirkan, dengan begitu saja terkadang takut itu hadir di tengah-tengah kesenderianku. Tak mengapa, aku juga sudah mulai terbiasa menepisnya. Aku mulai terbiasa dan harus biasa untuk menghadapinya.
Aku mulai mempunyai kesibukan baru, membaca cerita-cerita orang di dunia maya untuk mengalihkan kesepianku. Mencari hal-hal lucu untuk menghiburku sekedar membuat senyum tipis di wajah kecil ku. Menggeluti  hoby baru yang mungkin dapat menarik minatku. Meluangkan waktu untuk lebih mengenal aku. Yah , semuanya ku coba untuk hal-hal yang baru. Aku sengaja menciptakan banyak kesibukan untuk diriku, agar aku tak terlalu memikirkan dia yang telah meninggalkanku. Aku sengaja lebih banyak  menikmati hal-hal yang menyenangkanku, agar aku tak terlalu memikirkan dia yang tak terlupakan olehku.
Seperti halnya malam ini. Ku habis kan waktu di depan layar kecil smartphoneku. Menjelajah kesana kemari untuk sekedar menambah pengetahuan atau membuka-buka akun twiiter. Aku lebih memilih menghabiskan waktu untuk itu dan berharap kemudian  tertidur tanpa mengizinkan dia memasuki alam pikirku terlebih dahulu. Atau terkadang mendengar musik dengan lagu-lagu kesukaanku agar aku dapat tertidur sekali lagi tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Aku tak mau dia selalu muncul di sela-sela pikiran sebelum tidurku. Itu akan lebih memberatkanku .
Diantara kehampaan dalam imajinasi didepan layar smartphoneku, lampu merah LED itu kulihat menyala. Kulihat sejenak, ternyata itu pertanda adanya  BBM. Ku urungkan untuk membukanya karna aku sudah mulai tak tertarik untuk berBBMan ria semenjak benar-benar kepatah hatianku. Namun sekilas kulihat nama pengirimnya. Tertulis nama sahabat terbaikku, tak mungkin ku tunda lagi untuk membukanya. Kali saja ada sesuatu yang penting menurutku.
Setelah ku buka, aku agak nyess melihatnya. Aku tak memiliki diksi untuk menjelaskan apa rasanya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Itu capture dari Personal message lelaki yang setengah mati ku lupakan itu. Yah. PM.a sudah pasti tentang pacar barunya. Dia tergambar seperti telah bahagia dan telah melupakanku, menepikan aku dari hidupnya.
Seketika aku kembali gelisah. Jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku kembali kehilangan ketenangan yang telah susah payah ku usahakan. Setelah setengah mati ku buang semua tentangnya kini dia kembali menghantuiku kala ku tahu PM itu.  Aku kembali memikirkannya. Kembali menggelisahkan sosoknya nth untuk keberapa kalinya. Aku benci aku benci.
Pikiranku masih saja memikirkannya. Aku coba mengalihkannya tapi makin menyerbu saja. Kulihat kembali capture itu. Aku makin saja gelisah. Sesak hati rasanya membayangkannya. Tak terbayangkan bukan, orang yg selama ini membahagiakanku kini bahagia bersama yang lain dan tak mempedulikanku.  Terus saja bayang-bayangnya menghantui, membuatku terpikirkan hal itu.
Sesaat dia memilih pergi , aku masih sanggup meminta kebahagiaan untuknya dalam doaku. Apa pun itu , aku hanya ingin kebahagiaannya , terbaik untuknya. Tapi kini, ketika doa itu telah seperti  terkabul aku malah tak merelakannya. Kali ini aku malah tak mau melepaskannya. Benar-benar tak mau melepaskannya.
Aku terbayangkan tentang semua yag pernah ku lewati bersamanya akan ia lewati dengan yang lain .  Apa yang harus ku rasakan harus ia rasakan bersama yang lain. Jantungku kembali berdegup lebih dari biasanya. Khawtir itu, gelisah itu mencekamku. Aku terpikirkan dimana wanita itu akan menggantikan posisiku dihatinya. Aku tak mau. Aku jelas-jelas tak mampu.
Makin saja pikiran buruk  menghantuiku. Membuat dada lebih sesak lagi dari biasanya. Gelisah itu menjadi-jadi. Ku coba tertidur tapi terbangun. Bahkan badanku saja tak bisa tenang dan memilih berbaring kesana kemari. Dia masih saja menghampiri imajinasiku. Ku coba untuk mendengarkan musik yang biasanya menenangkanku. Tapi kali ini tak mampu. Aku makin saja gelisah. Rasanya dada ini mau pecah ketika mengingatnya bersama kekasih barunya.
Gelisah itu makin menggebu-gebu menyerbu. Aku tak mampu , aku tak mampu hingga air mata itu menetes diluar kesadaran. Aku menangis mengingatnya. Jantungku tetap tak mau berdetak seperti biasa. Khawatir itu , gelisah itu semakin saja berseteru dengan hati dan tangisanku.
Ku hirup nafas panjang lalu menghembuskannya. Perlahan ku pilih untuk mengadu dengan Tuhan. Ku basuh wajah, tangan , rambut, telinga dan kaki untuk melengkapi wudhuku. Dalam sholat, ku rasakan ketenangan yang menjauhkan kegelisahan. Pelan-pelan dalam sujud terakhirku ini ku sebut namanya lalu terbangun tahiyatuil akhir dan menuntaskan sholatku.
Kali ini aku berdoa. Mencoba meraup ketenangan yang setengah mati ku usahakan. Perlahan-lahan, malu-malu dengan sangat malu kembali mengadukan nama.a dalam barisan doaku.
Masih pantaskah ku sebut nama.a dalam barisan doaku ketika dia telah menepikan ku dari ceritanya. Masih pantaskah ku beritahu sekali lagi kepada Tuhanku bahwa aku benar-benar manyayanginya ketika dia telah menyayangi orang lain. Masih pantaskah selalu kesebut nama.a terus-terus menyertakan namanya dalam sujud terakhirku ketika dia mulai melupakanku. Boleh kah namanya selalu ada dalam barisan doaku seperti dia yang selalu ada dalam barisan hatiku. Tuhan masih pantaskah ku memintanya kembali karna dia takkan ada gantinya.  Bolehkah dia kembali dan selalu bersamaku, karna aku ingin namanya tetap  akan selalu ada dalam barisan doaku.
Namamu dalam barisan doaku :3



Risma

Pematang Siantar, 16 Januari 2014,00:05 WIB  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar