Malam
ini, setelah beberapa waktu, entah beberapa lama kepergianmu, setelah beberapa
waktu, ntah beberapa kali kemove on nanku, aku mulai terbiasa tanpamu. Suasana
hatiku mulai membaik, perlahan tapi pasti ketenangan itu ku rasakan. Meski
terkadang gelisah dan khawatir itu masih menghampiri, aku juga sudah mulai
terbiasa. Nth mengapa, nth apa yang ku khawatirkan, dengan begitu saja terkadang
takut itu hadir di tengah-tengah kesenderianku. Tak mengapa, aku juga sudah
mulai terbiasa menepisnya. Aku mulai terbiasa dan harus biasa untuk
menghadapinya.
Aku
mulai mempunyai kesibukan baru, membaca cerita-cerita orang di dunia maya untuk
mengalihkan kesepianku. Mencari hal-hal lucu untuk menghiburku sekedar membuat
senyum tipis di wajah kecil ku. Menggeluti
hoby baru yang mungkin dapat menarik minatku. Meluangkan waktu untuk
lebih mengenal aku. Yah , semuanya ku coba untuk hal-hal yang baru. Aku sengaja
menciptakan banyak kesibukan untuk diriku, agar aku tak terlalu memikirkan dia
yang telah meninggalkanku. Aku sengaja lebih banyak menikmati hal-hal yang menyenangkanku, agar
aku tak terlalu memikirkan dia yang tak terlupakan olehku.
Seperti
halnya malam ini. Ku habis kan waktu di depan layar kecil smartphoneku.
Menjelajah kesana kemari untuk sekedar menambah pengetahuan atau membuka-buka
akun twiiter. Aku lebih memilih menghabiskan waktu untuk itu dan berharap
kemudian tertidur tanpa mengizinkan dia
memasuki alam pikirku terlebih dahulu. Atau terkadang mendengar musik dengan
lagu-lagu kesukaanku agar aku dapat tertidur sekali lagi tanpa memikirkannya
terlebih dahulu. Aku tak mau dia selalu muncul di sela-sela pikiran sebelum
tidurku. Itu akan lebih memberatkanku .
Diantara
kehampaan dalam imajinasi didepan layar smartphoneku, lampu merah LED itu
kulihat menyala. Kulihat sejenak, ternyata itu pertanda adanya BBM. Ku urungkan untuk membukanya karna aku
sudah mulai tak tertarik untuk berBBMan ria semenjak benar-benar kepatah
hatianku. Namun sekilas kulihat nama pengirimnya. Tertulis nama sahabat
terbaikku, tak mungkin ku tunda lagi untuk membukanya. Kali saja ada sesuatu
yang penting menurutku.
Setelah
ku buka, aku agak nyess melihatnya. Aku tak memiliki diksi untuk menjelaskan
apa rasanya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Itu capture
dari Personal message lelaki yang setengah mati ku lupakan itu. Yah. PM.a sudah
pasti tentang pacar barunya. Dia tergambar seperti telah bahagia dan telah
melupakanku, menepikan aku dari hidupnya.
Seketika
aku kembali gelisah. Jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku
kembali kehilangan ketenangan yang telah susah payah ku usahakan. Setelah
setengah mati ku buang semua tentangnya kini dia kembali menghantuiku kala ku
tahu PM itu. Aku kembali memikirkannya.
Kembali menggelisahkan sosoknya nth untuk keberapa kalinya. Aku benci aku
benci.
Pikiranku
masih saja memikirkannya. Aku coba mengalihkannya tapi makin menyerbu saja.
Kulihat kembali capture itu. Aku makin saja gelisah. Sesak hati rasanya
membayangkannya. Tak terbayangkan bukan, orang yg selama ini membahagiakanku
kini bahagia bersama yang lain dan tak mempedulikanku. Terus saja bayang-bayangnya menghantui,
membuatku terpikirkan hal itu.
Sesaat
dia memilih pergi , aku masih sanggup meminta kebahagiaan untuknya dalam doaku.
Apa pun itu , aku hanya ingin kebahagiaannya , terbaik untuknya. Tapi kini,
ketika doa itu telah seperti terkabul
aku malah tak merelakannya. Kali ini aku malah tak mau melepaskannya.
Benar-benar tak mau melepaskannya.
Aku
terbayangkan tentang semua yag pernah ku lewati bersamanya akan ia lewati
dengan yang lain . Apa yang harus ku
rasakan harus ia rasakan bersama yang lain. Jantungku kembali berdegup lebih
dari biasanya. Khawtir itu, gelisah itu mencekamku. Aku terpikirkan dimana
wanita itu akan menggantikan posisiku dihatinya. Aku tak mau. Aku jelas-jelas
tak mampu.
Makin
saja pikiran buruk menghantuiku. Membuat
dada lebih sesak lagi dari biasanya. Gelisah itu menjadi-jadi. Ku coba tertidur
tapi terbangun. Bahkan badanku saja tak bisa tenang dan memilih berbaring
kesana kemari. Dia masih saja menghampiri imajinasiku. Ku coba untuk
mendengarkan musik yang biasanya menenangkanku. Tapi kali ini tak mampu. Aku
makin saja gelisah. Rasanya dada ini mau pecah ketika mengingatnya bersama
kekasih barunya.
Gelisah
itu makin menggebu-gebu menyerbu. Aku tak mampu , aku tak mampu hingga air mata
itu menetes diluar kesadaran. Aku menangis mengingatnya. Jantungku tetap tak
mau berdetak seperti biasa. Khawatir itu , gelisah itu semakin saja berseteru
dengan hati dan tangisanku.
Ku
hirup nafas panjang lalu menghembuskannya. Perlahan ku pilih untuk mengadu
dengan Tuhan. Ku basuh wajah, tangan , rambut, telinga dan kaki untuk melengkapi
wudhuku. Dalam sholat, ku rasakan ketenangan yang menjauhkan kegelisahan.
Pelan-pelan dalam sujud terakhirku ini ku sebut namanya lalu terbangun
tahiyatuil akhir dan menuntaskan sholatku.
Kali
ini aku berdoa. Mencoba meraup ketenangan yang setengah mati ku usahakan.
Perlahan-lahan, malu-malu dengan sangat malu kembali mengadukan nama.a dalam
barisan doaku.
Masih
pantaskah ku sebut nama.a dalam barisan doaku ketika dia telah menepikan ku
dari ceritanya. Masih pantaskah ku beritahu sekali lagi kepada Tuhanku bahwa
aku benar-benar manyayanginya ketika dia telah menyayangi orang lain. Masih pantaskah
selalu kesebut nama.a terus-terus menyertakan namanya dalam sujud terakhirku
ketika dia mulai melupakanku. Boleh kah namanya selalu ada dalam barisan doaku
seperti dia yang selalu ada dalam barisan hatiku. Tuhan masih pantaskah ku
memintanya kembali karna dia takkan ada gantinya. Bolehkah dia kembali dan selalu bersamaku,
karna aku ingin namanya tetap akan
selalu ada dalam barisan doaku.
![]() |
| Namamu dalam barisan doaku :3 |
Pematang
Siantar, 16 Januari 2014,00:05 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar