Kamis, 20 Februari 2014

Tanggal 6 untuk 39

Tanggal 6 :D


Assalammualaikum. Kamu uda tidur , kamu lagi dimana, kamu lagi apa ini. Bagaimana kabar mu ? Aku masih selalu saja memikirkan mu. Apa kamu masih kepikiran aku. Aku merindukanmu, rindu serindu-rindunya seperti langit  yang akhir-akhir ini sangat merindukan hujan, seperti itu. Ahh tidak aku rasa aku lebih rindu dari itu. Tapi apa kau merindukan aku? Yah,  Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang sangat ingin kutanyakan saat ini padamu tapi enggan untuk kusampaikan lagi.
Ini tanggal 6 kan, apa kau masih merasa sesuatu yang beda untuk  tanggal ini. Iya, ini tanggal 6, masih maukah kau mengingat cerita yang 39 bulan lalu kau mulai dan entah kapan tepatnya kau akhiri. Ahh, aku masih saja terhenti untuk tanggal ini pada tiap-tiap bulannya. Aku masih saja setia menghitungi sudah berapa lama seharusnya waktu yang bisa ku habiskan denganmu. Seberapa lama waktu yang seharusnya bisa kunikmati untuk tawamu. Seharusnya, yang nyatanya tidak bisa dan tak mungkin ku paksa.
Aku terkadang berhenti memikirkanmu selama beberapa waktu. Sakit kurasa membayangkan dirimu dengan kekasih barumu sementara aku  tak pernah tahu apa kau masih mau mengingatku atau tidak. Aku terkadang ingin melupakanmu, tapi rasanya ketika ku temui tanggal 6 di kalender ku, aku masih saja ingin  menangis. Aku masih saja ingin bersamamu menghabisakan semua waktu disisimu sampai saat ini. Sampai 39 bulan yang seharusnya menjadi usia kebersamaan kau dan aku.
Untuk tanggal 6 kali ini, aku juga masih merindukanmu. Sosok tak seberapa yang membuatku hampir gila karena tak pernah bisa kutemu saat merindu. Sosok tak seberapa yang sangat ingin ku lihat tawamu. Untuk kali ini  aku masih tetap ingin mengingat mu dan merayakan 39 bulan yang seharusnya usia kebersamaan kau dan aku tanpa mengingatkanmu. Dan pertanyaan yang ku tahu menyakitkanku adalah apakah kau masih peduli dengan tiap-tiap tanggal 6 itu ? Menyakitkan karena jawabannya seperti ku tahu, kau tak peduli karena nyatanya  tak  pernah menghubungi lagi.
Kalau saja masih memungkinkan ku untuk menghubungimu, banyak cerita yang ingin ku berbagi bersamamu. Aku akan terjaga sampai pagi untuk juga bisa mendengar ceritamu.  Tapi usahlah inginku sejauh itu, kalau saja memungkinkan untuk menghubungimu, aku hanya ingin bilang aku sangat merindukanmu. Sudahlah. Kurasa cukup itu yang ingin ku sampaikan padamu. Tapi itupun tak memungkinkan untuk ku adukan padamu. Aku takut, aku takut kau bukan yang dulu dan aku takut ada dia milikmu itu. Aku takut, terlalu takut karena kau tak lagi ada di barisanku.
Aku hanya berani menunggu. Sekedar menunggumu diponselku untuk tiap-tiap tanggal 6 itu. Karena aku mau kau tak jauh-jauh, kau tetap mengingatku untuk setiap bulan ditanggal  itu dan juga masih merindukanku meskipun hanya di tanggal itu. Iya, seperti malam ini, aku masih saja menunggu sekedar sms darimu untukku. Walau ku tahu bulan lalu kau tak mengingat tanggal itu dan tak ada merasakanku. Aku tetap tak merasa jera untuk menunggumu hadir dalam malamku, setidaknya malam ini, dan malam-malam tiap-tiap tanggal 6 itu aku mau kau ada untukku. 
Bodoh bukan, jika aku sampai sepagi ini tetap menunggumu. Bodoh bukan masih saja menunggu jika jelas-jelas akhirnya memang tak kan pernah menemuimu diponselku. Bodoh bukan sudah tau kau tak kan ingat untuk tanggal itu tapi  aku masih saja ingin merayakan bersamamu. Entah apa yang seharusnya pantas  dirayakan untuk 6 Februari 2014 kali ini. Bodoh bukan jika masih ku sebut seharusnya ini 39 bulan kebersamaan kau dan aku tapi sudah lama kebarsamaan itu berlalu. Bodoh bukan masih mencintaimu padahal tak ku tau perasaanmu padaku. Bodoh bukan pura-pura tak pernah tau kau bukan milikku dan sudah lama pergi bersamanya. Bodoh bukan, masih kau perdaya untuk tanggal 6 itu. Bodoh bukan jika aku menangis malam ini. Bolehkah aku menangis untuk kerinduanku.
Ini tanggal 6, kau ingat dulu, kasih kabarmu padaku. Apa ketidakadaan kabarmu pertanda kau sudah bahagia dan tak mau mengingat- -ingatku lagi. Apa ketidakadaan pesan singkatmu diponselku malam ini pertanda kau sudah melupakanku dan tak pernah merindukanku. Ahhh, jahat. Adilkah semua ini masih membelengguku sementara ini sudah tak penting untukmu. Adilkah jika aku masih menyayangimu sementara kau menyayanginya. Adilkah jika kini kau bersenang-senang sementara aku masih saja kau sedihkan. Adilkah untuk semua airmata yang terjatuh untukmu kau tak pernah merasakanku. Adilkah buatku. Tuhan beritahu aku dimana keadilan itu.
Perlu kau tau atau kau sebenarnya sudah tau tapi tetap acuh. Aku dengan kebodohanku masih menunggumu . Demi tiap-tiap tanggal 6 itu aku tak mau kau jauh, tak mau kita tak bersatu. Sampai malam ini juga aku mau kau disampingku. Tapi apa yang terjadi, aku menyerah dan hanya mau menunggu. Demi tanggal 6 yang kau mulai 39 bulan yang lalu aku tak mau kau akhiri, aku mau kau mengerti dan selesaikan perasaanku. Tapi sudahlah. Mau dibilang apa.
Untuk tanggal 6 yang ke 39 bulan ini seharusnya usia kebersamaan kau dan aku, aku masih merindukanmu. Diantara entah sudah berapa lama bulan-bulan kegagalan itu aku masih mau kau ada disampingku. Aku mau kau hadir di dalam sepiku untuk kali ini. Kali ini saja dan kali- kali seterusnya. Ahh masih  mungkinkah. Andai saja memungkinkan ku untuk tetap memperjuangkanmu, aku mau kau tau aku benar-benar merindukanmu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Berharap keajaiban demi tanggal 6 itu.  Selamat 39 bulan untuk kebersamaan kita sayang.
Aku masih sayang kau :3
       

6 Februari 2014, 01:47 WIB

Risma             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar