Selasa, 11 Februari 2014

Dok, Aku Sakit



           
Aku sakittt :(

          Aku masih saja menyendiri dalam kamarku. Akhir-akhir ini aku lebih memilih menghabiskan waktu 24 jamku dalam kamar mungilku ini. Aku tak mau keluar dan bergabung dengan lingkunganku. Aku tak mau, karena mereka pasti  akan tahu keadaanku. Karena mereka pasti akan memarahiku dan bahkan mungkin menjauhiku.
            Siang ini aku semakin saja memburuk, ketika mengetahui isi Massenger dari temanku yang baru saja dikirimnya. Badanku gemetaran, wajahku pucat pasih dan  tangisanku menjadi.  Seperti ada sesuatu yang semakin menahan nafasku. Hingga aku terengah-engah dan nafasku hanya bisa perlahan karena tangisanku tak kunjung berhenti. Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Aku tak bisa terus-terus seperti ini, aku tak mau.
Terkadang aku butuh mereka aku butuh untuk bercerita tentang semuanya. Tetapi pasti mereka tidak akan mengerti yang kuhadapi, mereka pasti akan menghakimi sendiri dan terus mencaci. Mereka tak mau mendengar lagi dan akhirnya tak lagi peduli. Mereka hanya bisa melihatku dari satu sisi tanpa mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
            Mungkin aku harus menyelesaikan ini sendiri. Aku harus berani menghadapi ketika aku berani memilih. Aku harus bisa menyelesaikan ketika kuputuskan untuk melakukan. Aku harus pergi aku harus pergi untuk menyembuhkan. Karena orang-orang diluar sana pasti sudah mulai bosan melihatku terus-terus seperti ini. Mereka akan selalu bosan mendengar alasan-alasanku yang tak kunjung henti.Aku harus pergi karena mereka tak akan mengerti.
            Siang itu juga aku memutuskan untuk pergi. Kutenangkan nafasku sejenak lalu mengeringkan airmata yang masih membasahi wajah. Aku mencuci muka dan mengganti pakaianku. Aku berusaha tersenyum agar mereka tak tahu keadaanku yang sebenarnya tapi aku malah tak mampu. Aku kembali mencobanya tapi aku tak bisa.
Untuk kali pertama ketika aku merasakan sakit ini aku keluar dari kamarku. Orangtuaku tersentak dan terlihat sangat mengkhawatirkanku. Aku hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman dan berkata,”Aku tak apa,aku hanya butuh sedikit waktu untuk menghilangkan kebosananku dalam ruangan itu. Aku akan pergi sejenak.Jangan menghawatirkanku.”
 . . . . . . . . . . . . . 
Akhirnya, aku sampai di tempat yang ku tuju, salah satu Rumah Sakit yang berada didaerahku. Aku mendatangi meja recepcionist dan mendaftarkan diri. Kemudian aku kembali dibangku antri. Untuk beberapa saat aku menunggu kemudian perawat itu memanggil ku kembali dan memberitahu ruangan yang hendak kutuju.
 Langkah gontai itu mengiringiku dan mengarahkan aku ke suatu ruangan yang ku butuhkan. Aku kira aku salah tempat, tapi aku rasa tidak. Aku harap  langkahku ini tepat. Aku  berdiri tepat di depan pintu rungan itu. Diatasnya terlihat jelas tulisan, dr.Ivanuka,Sp.PD , spesialis penyakit dalam. Iya, ini ruangan yang kutuju sesuai dengan tulisan dikertas yang diberikan perawat tadi. Perlahan ku ketuk pintu dan terdengar suara   menyuruhku masuk dari dalam ruangan itu.
Perlahan aku memasuki ruangan itu. Senyum hangat dokter yang ternyata terlihat masih sangat muda itu menyapaku. Dia masih saja tersenyum sambil menyuruhku duduk tepat didepan meja kerjanya. Untuk beberapa saat dia masih saja tersenyum dan aku hanya bisa tertunduk mbisu. Nafasku juga masih terengah-engah karena hingga saat ini aku belum mampu menenangkannya.
“Ada yang bisa saya bantu” suara lembut dokter itu memecahkan kebisuanku. Kuberanikan wajahku untuk perlahan menatapnya.
“Dok, aku sakit” aku mencoba memberitahu keadanku.
“Bisa beritahu apa keluhan kamu?”
“Dadaku sesak, nafasku sering tertahan karenanya. Akhir-akhir ini aku tak begitu selera makan, aku sulit tertidur. Tengah malam aku sering terbangun dan ketika itu jantungku selalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Pikiranku tak pernah tenang. Aku rasa ada yang salah dengan mataku. Tiba-tiba dia sering sekali mengeluarkan cairan diluar kesadaranku. Aku kira hatiku juga sedang tak baik, dia sering sekali terasa ngilu sekarang. Aku tak tenang. Banyak yang ku hawatirkan dok. Terlalu banyak yang ku takutkan.” Jawabku panjang sambil menatap tajam matanya.
“Bisakah berbaring disana, dan saya akan segera memeriksa anda”
 Tentu saja, aku segera melakukannya. Aku langsung membaringkan badanku di tempat tidur pasien yang tersedia. Kamarnya agak menepi, bersebelahan dengan jendela yang langsung menerawang ke awan. Dengan sangat telaten dokter itu memeriksa ku. Diperiksanya mataku terlebih dahulu, kemudian dia tersenyum. Lalu diletakkan stetoschopnya didadaku. Kemudain kembali memeriksa bagian tubuhku lainnya. Kemudian dia tersenyum dan berkata lembut padaku dengan penuh senyum hangat.
“Semuanya saya rasa baik-baik saja. Bisa kamu beritahu apa penyebabnya?” tanya nya sambil duduk di sebelah pembaringanku.
Lalu aku bangun dan duduk tepat disebelahnya. Kemudian aku mengeluarkan handphoneku, kutunjukkan apa yang menjadi penyebabnya.
Foto ini membunuhku :(
Hanya sebuah foto. Iya,sebuah foto. Tak ada wajah keheranan kulihat dari dokter itu. Dia hanya tersenyum kemudian bertanya padaku.
“Bisa beritahu ini siapa dan ini siapa?” Sambil menunjuk wajah lelaki dan wanita yang ada disampingnya dalam foto itu.
“ Ini Ridho kekasihku dulu dan ini Asifa pacar barunya dok.”Jawabku lirih sambil airmata yang tiba-tiba terjatuh.
“ Aku mulai mengerti. Kamu bisa lanjutkan ceritanya.” Katanya masih dengan senyum hangat sehangat tatapannya. Teduh rasanya ketika berada disampingnya.
“ Tadi siang temanku mengirimi gambar ini dok. Dok rasanya sakit. Aku tak mengerti kenapa bisa seperti ini,  hingga aku sama sekali tak mengetahui cara untuk mengobatinya. Ini hanya sebuah gambar, iya aku tahu ini gamabar. Dia tak bisa memukulku, dia tak bisa memarahiku bahkan menyentuhku pun dia tak akan mampu. Tetapi mengapa ini bisa sangat melukai. Mengapa aku sangat merasa tidak baik-baik saja dok ? Dok, aku merasa aku sakit, iya aku sakit.”
Dokter itu terhening sejenak. Dia masih tetap meneduhkanku dengan senyuman hangatnya sehangat tatapannya itu. Dia menatapku dalam-dalam dan dengan sangat lembut dia berkata.
“Kamu baik-baik saja, semua saya rasa baik-baik saja, tetapi hatimu memang sedang tak baik-baik saja. Bukan berarti dia terluka tapi bukan berarti dia juga tidak terluka. Dia terluka, tetapi dia tidak bisa berteriak, dia tidak bisa berbicara hingga kamu hanya merasa sakit tanpa tahu mengapa bisa terjadi. Dia terluka, tetapi tak membentuk luka, sehingga kamu tak bisa membenahi luka itu. Bahkan dokter pun tak bisa mengoperasi hati itu ketika sekarang dia dalam keadaan tak baik-baik saja. Benar-benar tak baik-baik saja. Itu sebabnya kamu merasa sakit. Sangat sakit. Kenapa  pergi kesini, tidak pergi ke psikiater saja?”
“ Aku rasa aku butuh dokter, bukan psikiater. Aku butuh dokter untuk memberiku obat untuk melumpukan ingatan ku akan lelaki di foto ini. Aku butuh obat dari dokter, bukan butuh psikiater.”
Tak kusangka kemudian dokter itu tertawa kecil lalu tersenyum dan menatapku lebih dalam.
“ Dok, apakah aku gila ? Apakah aku salah melangkahkan kakiku sampai kesini. Apa aku memang butuh psikiater bukan dokter ? Apakah foto itu sudah membuatku tak mengerti lagi apa yang ku butuhkan. Katakan padaku apakah aku salah dok ?”’
“Kamu tepat. Kamu tak salah, kamu luar biasa. Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya pasien saya yang datang kepada saya karena menderita penyakit seperti ini. Kamu berbeda dan saya kira kamu luar biasa. Kamu tahu itu ? Saya akan mencoba semampu saya untuk menyembuhkanmu gadis manis” tenangnya dengan senyum yang tak terlepas sedari tadi.
“Sungguhkah dok? Bisa kah ini disembuhkan ? Bisa kah kau beri aku obat untuk melupakannya’’ tanyaku dengan penuh semangat.
“ Iya saya akan memberi kamu obat, tetapi ada yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu kepadamu. Kamu tahu, perasaan sayang atau semacam cinta adalah anugerah yang paling terindah yang Tuhan berikan kepada manusia yang tak mungkin tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu. Setiap rasa seperti bahagia, tertawa, marah, sedih, kecewa dan semacamnya itu Tuhan yang ciptakan dan sudah Ia bagi porsinya semua dalam keadaan seimbang.
Kamu tahu, Tuhan pasti selalu berikan keterbaikan dibalik kesakitan-kesaitan yang  selalu terus diperjuangkan. Cinta adalah pengorbanan dan bukan cinta namanya ketika kau belum menjadi korban. Mencintai memang butuh hati, tapi menyelesaikannya butuh logika karena itu yang  akan melanjutkan perjalanannya kedepan. Kamu mengerti ?”
Aku hanya mengangguk dan mencerna apa yang dia katakannya baru saja. Kemudian dia menambahkan.
“ Kamu tak butuh untuk melupakan. Kamu hanya butuh niat dan  sedikit belajar keikhlasan dan melepaskan. Kerena kita mungkin tak dapat melupakan kenangan yang ada, kita hanya membutuhkan keikhlasan karena semua yang terjadi sudah Tuhan yang tuliskan. Kalau Ridho beneran sayang, jangankan satu Asifa, ribuan Asifa pun tak akan mampu mengalahkanmu dihatinya. Kalo Ridho beneran sayang,  dia pasti akan kembali lagi kepada kamu. Karena dia gak akan sanggup lihat kamu menangis lagi.  Tuhan pasti mengembalikan apa yang memang menjadi milik kita. Tapi kalau dia tidak benar-benar menyayangimu, Tuhan pasti sudah siapkan yang jauh lebih dari dia untuk membenahimu. Tuhan hanya ingin menyatukanmu dengan orang yang  kamu sayang dan pastinya menyayangimu agar kamu bahagia . Semua itu perkara waktu cantik.
Bersabarlah diantara kegelisahan, cintailah diantara keterbatasan maka Tuhan pasti akan menempatkanmu dalam kebahagiaan. Tidak semua kasih sayang harus kamu ubah menjadi kebencian. Tidak semuanya harus kamu lupakan.  Berdamailah dan coba dilepaskan. Yang sudah biarlah sudah. Tuhan masih memiliki lebih banyak kebaikan bahkan yang terbaik sudah Tuhan siapkan jauh sebelum kamu memintanya.”  
              Kata-katanya menenagkanku, dan dokter itu mengusap-usap lembut kepalaku sambil tersenyum melihatku. Lalu dokter memberiku semacam pil.
              “Apakah ini obatnya dok?” Tanyaku lugu.
              “Iya ini obatnya.”  Lalu dia tertawa. “Tentu saja ini bukan obatnya, ini hanya multivitamin saja, rasa jeruk nipis dan agak masam tentu saja aneh juga. Saya sangat suka. Mata saya sampai terbuka-terpejam seperti ini (sambil mempraktekkannya) dan saya jadi lebih memikirkan sebenarnya apa rasanya hingga terkadang sangat masam terkadang hilang. Saya lebih menerka apa rasanya dan terlupa dengan lelah dan masalah. Saya punya banyak, kamu mau.”
              Aku hanya tersenyum melihatnya . “Ahh dokter bisa saja”.
              “ Kamu tak percaya, ini kamu coba dan sisanya buat kamu semua. Nanti saya beli lagi”
              Kemudian saya mencobanya. Dan iya memang aneh rasanya. Matakupun jadi seperti dokter itu, kemudian kami tertawa dan sama-sama memikirkan apa sebenarnya rasanya. Kami terus tertawa merasa-rasai multivitamin itu dan tak menemui deskripsi yang tepat akan cita rasanya.
              “ Sudahkah kamu merasa baik?” Tanya dokter itu sambil tersenyum.
              “ Saya rasa lumayan dok. Berapakah yang harus saya bayar untuk obat dan konsultasi saya tadi dok?”
              “ Kamu hanya perlu tersenyum, terus-terus tersenyum bahkan ketika menangis pun kamu harus mencoba tersenyum. Kamu menghadiahi saya penyakit pertama yang tak pernah saya temui dengan pasien saya lainnya, jadi saya menghadiahi kamu itu. Adilkan”
              Kemudian saya tersenyum, hanya bisa tersenyum sambil membalas senyum hangat sehangat tatapannya yang masih duduk disebelahku. “Kenapa tidak jadi psikiater dok?”
              “ Karena kamu butuh dokter bukan psikiater. Tak harus jadi psikiater untuk menyembuhkanmu bukan.” Jawabnya singkat yang membuatku tertawa. Benar-benar tertawa.
              “ Dari mana dokter bisa tahu untuk menyembuhkan saya?”
              “ Karena saya pernah menjadi kamu. Karena saya juga pernah merasa sakit dimana hati saya tak membentuk luka. Karena foto seperti tadi juga pernah menyesakkan dada saya. Cinta pertama bukan?” Tanyanya sedikit menggoda.
              Aku hanya tersenyum, lalu dokter itu tertawa sambil mengusap-usap rambutku. Aku menjadi tertawa dan kami akhirnya tertawa berasama. Aku terlupa bahwa bahagia itu sederhana, sesederhan tawa kami sore ini bersama. Dan kami masih tertawa. Aku merasa baik-baik saja.
Cinta itu butuh perjuangan untuk mendapatkan butuh pengorbanan untuk mempertahankan tapi terpenting butuh keikhlasan untuk melepaskan ketika tak bisa lagi dipertahankan. Tuhan akan selalu beri kisah terbaik dan kebahagiaan. Selalu tersenyum, jangan lupa ikhlas, tetap bersabar dan selalu berdoa.” Pesan terakhir dokter yang tak pernah terlupa itu.Dan kau tau, Dok, kali ini aku baik-baik saja. Terimakasih.    


Risma             
  
21-Januari-2014, 22:50 WIB
 

 

4 komentar: