![]() |
| Aku sakittt :( |
Aku masih saja menyendiri dalam kamarku.
Akhir-akhir ini aku lebih memilih menghabiskan waktu 24 jamku dalam kamar
mungilku ini. Aku tak mau keluar dan bergabung dengan lingkunganku. Aku tak
mau, karena mereka pasti akan tahu
keadaanku. Karena mereka pasti akan memarahiku dan bahkan mungkin menjauhiku.
Siang
ini aku semakin saja memburuk, ketika mengetahui isi Massenger dari temanku
yang baru saja dikirimnya. Badanku gemetaran, wajahku pucat pasih dan tangisanku menjadi. Seperti ada sesuatu yang semakin menahan
nafasku. Hingga aku terengah-engah dan nafasku hanya bisa perlahan karena
tangisanku tak kunjung berhenti. Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Aku tak
bisa terus-terus seperti ini, aku tak mau.
Terkadang aku butuh mereka aku butuh untuk
bercerita tentang semuanya. Tetapi pasti mereka tidak akan mengerti yang
kuhadapi, mereka pasti akan menghakimi sendiri dan terus mencaci. Mereka tak
mau mendengar lagi dan akhirnya tak lagi peduli. Mereka hanya bisa melihatku dari
satu sisi tanpa mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
Mungkin
aku harus menyelesaikan ini sendiri. Aku harus berani menghadapi ketika aku
berani memilih. Aku harus bisa menyelesaikan ketika kuputuskan untuk melakukan.
Aku harus pergi aku harus pergi untuk menyembuhkan. Karena orang-orang diluar
sana pasti sudah mulai bosan melihatku terus-terus seperti ini. Mereka akan selalu
bosan mendengar alasan-alasanku yang tak kunjung henti.Aku harus pergi karena
mereka tak akan mengerti.
Siang
itu juga aku memutuskan untuk pergi. Kutenangkan nafasku sejenak lalu
mengeringkan airmata yang masih membasahi wajah. Aku mencuci muka dan mengganti
pakaianku. Aku berusaha tersenyum agar mereka tak tahu keadaanku yang
sebenarnya tapi aku malah tak mampu. Aku kembali mencobanya tapi aku tak bisa.
Untuk kali pertama ketika aku merasakan sakit
ini aku keluar dari kamarku. Orangtuaku tersentak dan terlihat sangat
mengkhawatirkanku. Aku hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman dan
berkata,”Aku tak apa,aku hanya butuh sedikit waktu untuk menghilangkan
kebosananku dalam ruangan itu. Aku akan pergi sejenak.Jangan menghawatirkanku.”
. . . . . . . . . . . . .
Akhirnya, aku sampai di tempat yang ku tuju,
salah satu Rumah Sakit yang berada didaerahku. Aku mendatangi meja recepcionist
dan mendaftarkan diri. Kemudian aku kembali dibangku antri. Untuk beberapa saat
aku menunggu kemudian perawat itu memanggil ku kembali dan memberitahu ruangan
yang hendak kutuju.
Langkah
gontai itu mengiringiku dan mengarahkan aku ke suatu ruangan yang ku butuhkan.
Aku kira aku salah tempat, tapi aku rasa tidak. Aku harap langkahku ini tepat. Aku berdiri tepat di depan pintu rungan itu. Diatasnya
terlihat jelas tulisan, dr.Ivanuka,Sp.PD , spesialis penyakit dalam. Iya, ini
ruangan yang kutuju sesuai dengan tulisan dikertas yang diberikan perawat tadi.
Perlahan ku ketuk pintu dan terdengar suara menyuruhku
masuk dari dalam ruangan itu.
Perlahan aku memasuki ruangan itu. Senyum
hangat dokter yang ternyata terlihat masih sangat muda itu menyapaku. Dia masih
saja tersenyum sambil menyuruhku duduk tepat didepan meja kerjanya. Untuk
beberapa saat dia masih saja tersenyum dan aku hanya bisa tertunduk mbisu.
Nafasku juga masih terengah-engah karena hingga saat ini aku belum mampu
menenangkannya.
“Ada yang bisa saya bantu” suara lembut dokter
itu memecahkan kebisuanku. Kuberanikan wajahku untuk perlahan menatapnya.
“Dok, aku sakit” aku mencoba memberitahu
keadanku.
“Bisa beritahu apa keluhan kamu?”
“Dadaku sesak, nafasku sering tertahan
karenanya. Akhir-akhir ini aku tak begitu selera makan, aku sulit tertidur.
Tengah malam aku sering terbangun dan ketika itu jantungku selalu berdetak
lebih cepat dari biasanya. Pikiranku tak pernah tenang. Aku rasa ada yang salah
dengan mataku. Tiba-tiba dia sering sekali mengeluarkan cairan diluar
kesadaranku. Aku kira hatiku juga sedang tak baik, dia sering sekali terasa
ngilu sekarang. Aku tak tenang. Banyak yang ku hawatirkan dok. Terlalu banyak
yang ku takutkan.” Jawabku panjang sambil menatap tajam matanya.
“Bisakah berbaring disana, dan saya akan
segera memeriksa anda”
“Semuanya saya rasa baik-baik saja. Bisa kamu
beritahu apa penyebabnya?” tanya nya sambil duduk di sebelah pembaringanku.
Lalu aku bangun dan duduk tepat disebelahnya. Kemudian
aku mengeluarkan handphoneku, kutunjukkan apa yang menjadi penyebabnya.
| Foto ini membunuhku :( |
Hanya sebuah foto. Iya,sebuah foto. Tak ada
wajah keheranan kulihat dari dokter itu. Dia hanya tersenyum kemudian bertanya
padaku.
“Bisa beritahu ini siapa dan ini siapa?”
Sambil menunjuk wajah lelaki dan wanita yang ada disampingnya dalam foto itu.
“ Ini Ridho kekasihku dulu dan ini Asifa pacar
barunya dok.”Jawabku lirih sambil airmata yang tiba-tiba terjatuh.
“ Aku mulai mengerti. Kamu bisa lanjutkan
ceritanya.” Katanya masih dengan senyum hangat sehangat tatapannya. Teduh
rasanya ketika berada disampingnya.
“ Tadi siang temanku mengirimi gambar ini dok.
Dok rasanya sakit. Aku tak mengerti kenapa bisa seperti ini, hingga aku sama sekali tak mengetahui cara
untuk mengobatinya. Ini hanya sebuah gambar, iya aku tahu ini gamabar. Dia tak
bisa memukulku, dia tak bisa memarahiku bahkan menyentuhku pun dia tak akan
mampu. Tetapi mengapa ini bisa sangat melukai. Mengapa aku sangat merasa tidak
baik-baik saja dok ? Dok, aku merasa aku sakit, iya aku sakit.”
Dokter itu terhening sejenak. Dia masih tetap
meneduhkanku dengan senyuman hangatnya sehangat tatapannya itu. Dia menatapku
dalam-dalam dan dengan sangat lembut dia berkata.
“Kamu baik-baik saja, semua saya rasa
baik-baik saja, tetapi hatimu memang sedang tak baik-baik saja. Bukan berarti
dia terluka tapi bukan berarti dia juga tidak terluka. Dia terluka, tetapi dia
tidak bisa berteriak, dia tidak bisa berbicara hingga kamu hanya merasa sakit
tanpa tahu mengapa bisa terjadi. Dia terluka, tetapi tak membentuk luka,
sehingga kamu tak bisa membenahi luka itu. Bahkan dokter pun tak bisa
mengoperasi hati itu ketika sekarang dia dalam keadaan tak baik-baik saja.
Benar-benar tak baik-baik saja. Itu sebabnya kamu merasa sakit. Sangat sakit.
Kenapa pergi kesini, tidak pergi ke
psikiater saja?”
“ Aku rasa aku butuh dokter, bukan psikiater.
Aku butuh dokter untuk memberiku obat untuk melumpukan ingatan ku akan lelaki
di foto ini. Aku butuh obat dari dokter, bukan butuh psikiater.”
Tak kusangka kemudian dokter itu tertawa kecil
lalu tersenyum dan menatapku lebih dalam.
“ Dok, apakah aku gila ? Apakah aku salah
melangkahkan kakiku sampai kesini. Apa aku memang butuh psikiater bukan dokter
? Apakah foto itu sudah membuatku tak mengerti lagi apa yang ku butuhkan.
Katakan padaku apakah aku salah dok ?”’
“Kamu tepat. Kamu tak salah, kamu luar
biasa. Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya pasien saya yang datang kepada saya
karena menderita penyakit seperti ini. Kamu berbeda dan saya kira kamu luar
biasa. Kamu tahu itu ? Saya akan mencoba semampu saya untuk menyembuhkanmu
gadis manis” tenangnya dengan senyum yang tak terlepas sedari tadi.
“Sungguhkah dok? Bisa kah ini disembuhkan ?
Bisa kah kau beri aku obat untuk melupakannya’’ tanyaku dengan penuh semangat.
“ Iya saya akan memberi kamu obat, tetapi ada
yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu kepadamu. Kamu tahu, perasaan sayang
atau semacam cinta adalah anugerah yang paling terindah yang Tuhan berikan
kepada manusia yang tak mungkin tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu. Setiap
rasa seperti bahagia, tertawa, marah, sedih, kecewa dan semacamnya itu Tuhan
yang ciptakan dan sudah Ia bagi porsinya semua dalam keadaan seimbang.
Kamu tahu, Tuhan pasti selalu berikan
keterbaikan dibalik kesakitan-kesaitan yang
selalu terus diperjuangkan. Cinta adalah pengorbanan dan bukan cinta
namanya ketika kau belum menjadi korban. Mencintai memang butuh hati, tapi
menyelesaikannya butuh logika karena itu yang
akan melanjutkan perjalanannya kedepan. Kamu mengerti ?”
Aku hanya mengangguk dan mencerna apa yang dia
katakannya baru saja. Kemudian dia menambahkan.
“ Kamu tak butuh untuk melupakan. Kamu hanya
butuh niat dan sedikit belajar
keikhlasan dan melepaskan. Kerena kita mungkin tak dapat melupakan kenangan
yang ada, kita hanya membutuhkan keikhlasan karena semua yang terjadi sudah
Tuhan yang tuliskan. Kalau Ridho beneran sayang, jangankan satu Asifa, ribuan
Asifa pun tak akan mampu mengalahkanmu dihatinya. Kalo Ridho beneran
sayang, dia pasti akan kembali lagi
kepada kamu. Karena dia gak akan sanggup lihat kamu menangis lagi. Tuhan pasti mengembalikan apa yang memang
menjadi milik kita. Tapi kalau dia tidak benar-benar menyayangimu, Tuhan pasti
sudah siapkan yang jauh lebih dari dia untuk membenahimu. Tuhan hanya ingin
menyatukanmu dengan orang yang kamu
sayang dan pastinya menyayangimu agar kamu bahagia . Semua itu perkara waktu
cantik.
Bersabarlah diantara kegelisahan, cintailah
diantara keterbatasan maka Tuhan pasti akan menempatkanmu dalam kebahagiaan.
Tidak semua kasih sayang harus kamu ubah menjadi kebencian. Tidak semuanya
harus kamu lupakan. Berdamailah dan coba
dilepaskan. Yang sudah biarlah sudah. Tuhan masih memiliki lebih banyak
kebaikan bahkan yang terbaik sudah Tuhan siapkan jauh sebelum kamu memintanya.”
Kata-katanya
menenagkanku, dan dokter itu mengusap-usap lembut kepalaku sambil tersenyum
melihatku. Lalu dokter memberiku semacam pil.
“Apakah ini obatnya dok?” Tanyaku
lugu.
“Iya
ini obatnya.” Lalu dia tertawa. “Tentu
saja ini bukan obatnya, ini hanya multivitamin saja, rasa jeruk nipis dan agak
masam tentu saja aneh juga. Saya sangat suka. Mata saya sampai terbuka-terpejam
seperti ini (sambil mempraktekkannya) dan saya jadi lebih memikirkan sebenarnya
apa rasanya hingga terkadang sangat masam terkadang hilang. Saya lebih menerka
apa rasanya dan terlupa dengan lelah dan masalah. Saya punya banyak, kamu mau.”
Aku
hanya tersenyum melihatnya . “Ahh dokter bisa saja”.
“
Kamu tak percaya, ini kamu coba dan sisanya buat kamu semua. Nanti saya beli
lagi”
Kemudian
saya mencobanya. Dan iya memang aneh rasanya. Matakupun jadi seperti dokter
itu, kemudian kami tertawa dan sama-sama memikirkan apa sebenarnya rasanya.
Kami terus tertawa merasa-rasai multivitamin itu dan tak menemui deskripsi yang
tepat akan cita rasanya.
“
Sudahkah kamu merasa baik?” Tanya dokter itu sambil tersenyum.
“
Saya rasa lumayan dok. Berapakah yang harus saya bayar untuk obat dan
konsultasi saya tadi dok?”
“
Kamu hanya perlu tersenyum, terus-terus tersenyum bahkan ketika menangis pun
kamu harus mencoba tersenyum. Kamu menghadiahi saya penyakit pertama yang tak
pernah saya temui dengan pasien saya lainnya, jadi saya menghadiahi kamu itu.
Adilkan”
Kemudian
saya tersenyum, hanya bisa tersenyum sambil membalas senyum hangat sehangat
tatapannya yang masih duduk disebelahku. “Kenapa tidak jadi psikiater dok?”
“
Karena kamu butuh dokter bukan psikiater. Tak harus jadi psikiater untuk
menyembuhkanmu bukan.” Jawabnya singkat yang membuatku tertawa. Benar-benar
tertawa.
“
Dari mana dokter bisa tahu untuk menyembuhkan saya?”
“
Karena saya pernah menjadi kamu. Karena saya juga pernah merasa sakit dimana
hati saya tak membentuk luka. Karena foto seperti tadi juga pernah menyesakkan
dada saya. Cinta pertama bukan?” Tanyanya sedikit menggoda.
Aku
hanya tersenyum, lalu dokter itu tertawa sambil mengusap-usap rambutku. Aku
menjadi tertawa dan kami akhirnya tertawa berasama. Aku terlupa bahwa bahagia
itu sederhana, sesederhan tawa kami sore ini bersama. Dan kami masih tertawa. Aku
merasa baik-baik saja.
“ Cinta itu butuh perjuangan
untuk mendapatkan butuh pengorbanan untuk mempertahankan tapi terpenting butuh
keikhlasan untuk melepaskan ketika tak bisa lagi dipertahankan. Tuhan akan selalu beri kisah terbaik dan
kebahagiaan. Selalu tersenyum, jangan lupa ikhlas, tetap bersabar dan selalu
berdoa.” Pesan terakhir dokter yang tak pernah terlupa itu.Dan kau tau, Dok,
kali ini aku baik-baik saja. Terimakasih.
Risma
21-Januari-2014, 22:50 WIB

betol nya tuh??
BalasHapusMenurut abg ? :D
BalasHapuscopy dr catatan orang...
BalasHapusIhh apaan copy". Ga berani sih. Liatlah kan ada tanggal.a . Original kegalauan sendiri itu bg, karya sendiri :D
BalasHapus